Kebebasan Beragama

Pemuda yang Rentan dengan Radikalisme

pemuda

Pemuda adalah tulang punggung organisasi. Soekarno pernah berkata, berikan aku 10 pemuda maka aku akan mengguncang dunia. Karena itu siapa yang bisa memanfaatkan pemuda dengan baik niscaya tujuan organisasi tersebut akan tercapai. Yang jadi masalah adalah ketika kelompok memanfaatkan potensi-potensi pemuda tersebut untuk mencapai tujuan mereka.

Serangkaian aksiterorisme mulai dari Bom Bali-1, Bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton,hingga aksi penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan Bom di Beji dan Tambora, melibatkan pemuda. Sebut saja, Dani Dwi Permana, salah satu pelaku Bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, yang saat itu berusia 18 tahun dan baru lulus SMA.

Sama dengan Dani Dwi,  Ivan AH (18) adalah pemuda yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas di salah satu SMA Negeri di Koda Medan. Pada hari Minggu, 28 Agustus yang lalu IAH melakukan percobaan bom bunuh diri dan serangan terhadap pastor di Medan. Dia mengaku ditawari 10 juta untuk aksinya. Karena terinspirasi dengan serangan di Paris, IAH pun nekat melakukan aksi terorisme ini. Alhamdulillah, pastor Albert Pandiangan hanya mengalami luka ringan di bagian tangan.

Hal ini menunjukan bahwa kelompok radikal memang sangat gencar untuk merekrut anak-anak muda, bahkan sejak kecil, untuk melatih mereka menjadi seorang teroris. misalnya, mereka memiliki pasukan bom bunuh diri remaja bernama “Ashbal Al-Khilafa” atau “Anak-anak Khalifa”. Hasil dari “pelatihan” ini adalah tewasnya 51 orang dan 69 orang menderita luka akibat aksi bom bunuh diri yang dilakukan remaja berusia 12-14 tahun di sebuah pernikahan di Turki.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkannya rentannya para pemuda untuk bergabung dalam aksi terorisme dan ini. Mulai dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal, lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan, dan tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif. Untuk menangkalnya, perlu adanya suatu program deradikalisme yang sistematis dari seluruh organisasi pemuda di Indonesia.

Pemuda misalnya, dengan organisasi binaan mereka Asosiasi Mahasiswa (AMSA), turut berpartisipasi dalam menangkal pemahaman radikalisme di kalangan pelajar. AMSA mengadakan Kelas Perdamaian Islami di suatu SMA di Tangerang pada 3 September. Mereka berusaha menanamkan ajaran Islam yang hakiki, yang penuh dengan perdamaian dan toleransi. Kegiatan ini bertujuan jangan sampai para pelajar SMA tersebut tergiur dengan iming-iming uang atau bidadari yang membuat mereka nekat melakukan aksi terorisme layaknya Dani Dwi atau Ivan AH.

Memang, tidak hanya kaum Pemuda Islam Ahmadiyah saja yang berperan aktif pada pencegahan pemahaman radikal. Seluruh anggota Islam Ahmadiyah pun akan selalu mendidik anggotanya untuk menyebarkan ajaran Islam yang mencintai seluruh umat manusia. Love For All Hatred For None, begitulan tagline yang dipromosikan oleh Islam Ahmadiyah. Bahkan pada pihak-pihak yang anti Islam Ahmadiyah. Contoh ketika Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat masa bakti 2015-2020, Ma’ruf Amin dirawat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON),  Ketua cabang, Mubaligh dan beberapa anggota Jamaah Ahmadiyah Jakarta Timur menjenguk beliau pada Kamis, 21 Juli yang lalu.

Khalifah Islam Ahmadiyah Internasional  Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba yang berkumpul bersama 30.000 muslim Ahmadiyah dari lebih dari 90 negara dunia di London dalam Pertemuan Tahunan Terbesar Muslim di Inggris juga mengajak seluruh masyarakat di dunia untuk menolak kekerasan dan kejahatan yang diatasnamakan Islam. “Mereka sama sekali bertentangan dengan Islam, malahan mereka mempraktekan ajaran mereka sendiri yang penuh dengan kebencian”, ujar beliau dengan tegas.

Pemahaman yang penuh cinta kepada sesama inilah yang akan mengikis habis paham-paham radikalisme di kalangan pemuda. Jika seluruh seluruh organisasi pemuda di Indonesia terlibat aktif menyebarkan paham toleransi dan cinta perdamaian, niscaya pemuda akan terselematkan dari paham radikalisme.

Sumber Gambar: http://www.qureta.com/post/generasi-muda-menggenggam-masa-depan-politik-indonesia

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam

Tinggalkan komentar