Opini

Pengabulan Doa Orang yang Teraniaya dan Terzalimi

doa orang terzalimi

Manusia sebagai penghuni dunia,,

Tak lepas dari kata benci dan suka,,

Inilah yang kemudian mulai menguji rasa..

Dunia yang penuh dengan cerita, menakdirkan manusia menjadi makhluk sosial. Hubungan satu sama lain antara sesama manusia, sudah menjadi hal yang wajib dilakukan setiap harinya. Bahagianya, saling menghormati, saling berbagi, hingga saling mengasihi. Namun, hubungan sosial ini sejatinya tak hanya sekedar kedamaian yang membahagiakan. Terkadang ada saja timbul konflik horizontal yang tak diinginkan.

Konflik ini tak hanya sekedar konflik yang tak berdampak apa – apa. Mungkin awalnya hanya bermula dari konflik kecil. Yah, sekedar perbedaan persepsi, atau mungkin  hanya rasa kurang suka dan tak sampai membenci. Namun, lambat laun, jika konflik ini terus dipelihara dan disebarkan kesana kemari, bukan hal yang tidak mungkin menjadi suatu kebencian banyak pihak dan tersusun serta tertata rapih.

Miris memang, terkadang suatu kebencian lebih mudah disebarkan ketimbang kasih sayang. Entahlah, mungkin karena sumbu manusia yang saat ini mungkin relatif pendek, ataukah karena kedangkalan rasa yang dengan mudah ikut membenci tanpa tahu awal mula konflik terjadi. Yang jelas, semuanya harus dimulai dari pribadi masing – masing. Mulai hilangkan kebencian pada diri dan pastinya pula harus membenahi diri karena sejatinya, diri sendiri belum tentu lebih mulia dari yang dibenci.

Dia yang dibenci bisa saja dikategorikan Allah Taala sebagai makhluk yang dizalimi, dan tahukah bagaimana dashyatnya doa orang yang dizalimi pada sabda Rasulullah SAW?

 “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (HR Hakim)

Ya, doanya, dalam kesedihan dan menjadi manusia yang dibenci, teramat cepat sampai ke atas langit sana. Dan pengabulan doanya pun sudah menjadi suatu hal yang dijanjikan oleh Allah SWT,

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya”. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)

Orang yang teraniaya, dizalimi, tak ada keraguan doanya dapat dikabulkan oleh Sang Pencipta. Dan Dialah yang Maha Mengetahui, siapa manusia yang dibenci dan tak diberi hati.

Masihkah kebencian terus dipelihara dan disebar ke sana-kemari melihat janji Allah Taala tersebut? Ingat, boleh jadi dia yang lebih mulia disisi Tuhannya, bukan si pembenci yang merasa paling mulia di dunia, namun pada akhirnya tak diterima di kehadirat-Nya kelak. Ibadah, pengorbanan, serta ketaatan pada Allah Taala d ipandangan mata jasmani, boleh jadi memikat hati dan menarik minat manusia lain di dunia ini. Namun, ketika kita mulai membenci dan menyebar ke sana – kemari, apa artinya sebuah ibadah yang diwarnai kebencian di sana – sini. Karena sekali lagi, boleh jadi Allah lebih menerima doa – doa orang yang dibenci karena selalu dizalimi.

Ingatlah, tak ada gading yang tak retak, sehebat apa pun manusia. Selalu ada kelemahan pada dirinya. Cukuplah kelebihannya yang menjadi poin positif untuk diapresiasi dan ditiru kembali. Untuk kelemahannya, tak perlu dicari bahkan ditelusuri untuk menjadi alasan dia dibenci karena yang dibenci tak hanya sekedar dibenci. Ketika dia telah dizalimi, Tuhan-Nya sendiri yang akan menghakimi.

Sumber gambar : https://keritingkecil.files.wordpress.com/2012/09/picture-18.jpg

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar