Opini

Penjelasan Quran Tentang Haid

quran

adalah agama yang sempurna. Begitu juga Al- adalah kitab terbaik sebagai penuntun kehidupan manusia. Dalam kitab suci ini terkandung berbagai jawaban dari segala macam permasalahan, baik yang sepele atau yang besar sekalipun. Banyak juga diantaranya yang tidak dijelaskan dalam kitab-kitab lainnya. Salah satunya adalah penjelasan berkenaan dengan ().

Penjelasan perihal haid ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 223,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Kita ketahui bersama dalam ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang petunjuk pernikahan dalam Islam. Hikmahnya adalah ketika dua insan manusia telah menjalin ikatan pernikahan tentu akan muncul berbagai macam pertanyaan berkenaan dengan masalah-masalah penting atau menyangkut kewajiban-kewajiban bersangkutan dengan perkawinan, tidak terkecuali dengan hukum berhubungan badan ketika istri dalam masa haid.

Dalam ayat tersebut di atas, Allah swt. menjelaskan bahwa pasangan suami-istri yang berhubungan badan ketika istrinya sedang masa haid hanya akan mendatangkan kemudaratan, maka dilarang untuk melakukannya, “Dan mereka bertanya kepada engkau berkenaan dengan haid. Katakanlah, itu adalah kemudaratan maka jauhilah perempuan-perempuan ketika haid. Dan janganlah mendekati mereka sampai mereka bersih”.  

Selanjutnya Allah swt. juga memerintahkan untuk melakukan hubungan badan ketika sang istri telah bersih atau telah melewati masa haidnya, “Dan apabila mereka bersih, datangilah mereka dari mana Allah Ta’ala memerintahkan kamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang suka bertaubat dan bersih”.

Hadhrat Muslih Mauud ra. menguraikan ayat ini, kata وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ  (dan janganlah mendekati mereka) bukan berarti selama istri menjalani masa haid lantas kita tidak dibolehkan mendekati atau menyentuh mereka, melainkan tidak melakukan hubungan khusus (badan) dengan dia. Karena Hadhrat Aisyah ra. pernah bersabda bahwa di hari-hari haid, Rasulullah saw. tetap menyayanginya dan beliau saw- juga suka duduk di sampingnya.

Kemudian kata حَيْثُ adalah dharaf makan (tempat) yang maksudnya adalah datangilah istri-istri kalian dari tempat yang telah Allah swt. perintahkan untuk mendatanginya. Hikmah dari perintah ini adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik maka amalan-amalan yang kita lakukan harus senantiasa sesuai dengan perintah Allah swt..

Selanjutnya di kemudian hari, muncul berbagai penelitian tentang bahaya berhubungan badan ketika sang istri sedang menjalani masa haid, yang mungkin tidak pernah terungkap sebelumnya. Kita banyak menjumpai perintah-perintah Al-Quran yang terbukti oleh penelitian-peneliatian Ilmiah dan itu tidak bisa terbantahkan.

Sebagaimana dikatakan oleh Profesor Ali Baziad, pakar kesehatan kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bahwa sang istri akan berisiko endometriosis, yaitu membaliknya darah ‘kotor’ menstruasi ke rahim, bahkan organ-organ lainnya.

Kondisi ini akan berakibat perlengketan darah menstruasi tersebut pada tempat yang tidak seharusnya, dan berkembang menjadi jaringan baru. Endometriosis juga dapat berkembang menjadi kista dan itu akan menyebabkan sulitnya memiliki keturunan. Kemudian saat haid, wanita juga mengalami penurunan hormon estrogen, yang artinya cairan lubrikasi sedang berkurang.

Sumber:

Tafsir Kabir (Urdu) karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra.
Al-Quran Terjemahan dan Tafsir SIngkat terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia
KOMPAS https://lifestyle.kompas.com/read/2013/09/20/1416590/Hindari.Bercinta.Saat.Istri.Sedang.Haid


Sumber Gambar: http://aboutislam.net/shariah/quran/recite-memorize/8-steps-recite-entire-quran-ramadan/

Tentang Penulis

Mubarak Mushlikhuddin