Opini

Penolakan Terhadap Ajaran Rasulullah SAW

penolakan islam

Menolak, tidak percaya atau meragukan suatu ide, pendapat, teori, ideologi ataupun suatu ajaran disebut juga skeptis. Ya, kita kerap kali skeptis terhadap opini orang yang berbeda dari apa yang ada di kepala kita. Dari rasa skeptis bisa terlahir dua kemungkinan, baik dan buruk. Saya ingin mengajak pembaca untuk melakukan sebuah thought experiment, sebuah percobaan pikiran.

Mari kita bermain imajinasi, bayangkan kalau kita hidup di Kota Mekkah abad ke-6 masehi, zaman Kita adalah anggota Bani Quraisy yang sudah lama tinggal dan memegang posisi strategis di kota ini. Tinggal di tempat dengan mayoritas penduduknya menyembah berhala, sedari kecil kita sudah dibiasakan untuk menyembah berhala, orang tua kita, kakek nenek kita, hingga leluhur kita selama puluhan bahkan ratusan tahun sudah menyembah berhala. Dan kita merasa kehidupan selama ini terasa normal-normal saja.

Suatu hari datang seseorang laki-laki dari golongan kita sendiri yang menyatakan bahwa agama leluhur kita ini salah. Dia bahkan mengklaim bahwa ia adalah utusan Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang sesungguhnya dan mengajak kita untuk meninggalkan kepercayaan menyembah berhala dan tuhan-tuhan yang dia anggap “palsu” ini. Tentu kita akan bertanya-tanya; “ada apa dengan orang ini?”

Kemungkinan besar kita akan skeptis, meragukan apa yang disampaikan laki-laki tersebut. Kita juga akan mengatakan bahwa ia adalah seorang penista yang omongannya hanyalah bualan, dan segala klaim yang dikeluarkan itu hanyalah pernyataan bohong.

Ya, kita pasti tahu bahwa laki-laki yang dimaksud adalah Hadhrat Muhammad SAW,memang manusiawi bagi para penyembah berhala untuk menolak ajaran beliau SAW terutama di awal masa pendakwaan beliau SAW. Dan itulah yang terjadi, tidak sedikit orang yang mengejek dan mengatakan bahwa Rasulullah saw itu tidak waras, segala perkataannya adalah bohong, dan sebagainya. Bahkan pamannya sendiri, Abu Lahab menjadi salah satu orang yang paling gencar menebar kebencian dan fitnah terhadap beliau SAW.

Tapi walaupun berat, sedikit demi sedikit datang orang yang menyadari keindahan ajaran beliausaw, para sahabat. Mereka datang, mengklarifikasi, belajar, dan lalu baiat ke dalam agama yang sempurna ini. Walaupun minoritas, tapi mereka teguh dan kuat. Mereka membantu perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Allah SWT yang menjadi karunia dan penerang seluruh umat manusia ini.

Thought experiment yang kita lakukan tadi memberi gambaran bahwa perjuangan Rasulullah saw untuk menyebarkan ajaran islam di masa masa awal itu sangatlah susah. Dan dua poin penting yang menurut saya dapat diambil di antaranya:

• Suatu ide atau ajaran yang berbeda dari apa yang telah dipercayai oleh mayoritas orang, walaupun itu benar dan se-sempurna ajaran Islam tetap akan mengalami penolakan, dan itu adalah hal yang wajar (manusiawi). Bahkan semua Rasul yang pernah diutus pasti juga sempat mengalami penolakkan dari umatnya sendiri.

• Orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah orang-orang hebat dan spesial, memiliki keteguhan hati dan keimanan yang luar biasa. Mereka rela melepas status yang mereka miliki bahkan banyak dari mereka yang mendapat persekusi, cacian, dan ancaman dari orang “kafir” yang tidak mendapat hidayah.

Mengapa banyak sekali orang yang menentang Rasulullah SAW?
Seperti yang saya katakan di awal, memang manusiawi untuk seorang manusia untuk meragukan sesuatu, terlebih sesuatu tersebut asing bagi mereka. Manusia suka keteraturan, pola, dan memprediksi sesuatu, itulah sebab terciptanya kebudayaan dan adat dalam masyarakat. Ketika seorang sudah terikat dengan sesuatu, sulit bagi mereka untuk melepasnya. Apabila kondisi yang sama terjadi sekarang, misalkan ada seseorang yang berkata bahwa agama yang kita anut atau suatu tafsir yang kita percayai itu kurang benar pasti tindakan kita tidak jauh berbeda dengan kaum penyembah berhala di zaman itu.

Apa yang membuat para sahabat menerima klain Rasulullah SAW dan masuk ke dalam islam?
Berbeda dari mayoritas, beberapa orang percaya dengan klaim Rasulullah SAW dan menjadi pengikutnya. Para sahabat awalin menerima Islam karena mereka tidak termakan kata-kata dari para pengujar kebencian, para penebar fitnah yang bersuara lantang mengutuk Rasulullah saw, tapi kebanyakan dari mereka datang dan meminta penjelasan langsung dari Rasulullah SAW. Walaupun ragu, tapi mereka tetap open minded sehingga akal sehat mereka mengambil alih kepala mereka, sehingga “hidayah” bisa mereka dapatkan.

Menurut saya, itulah perbedaan besar antara pengikut dan penentang Hadhrat Muhammad SAW. Pada awalnya mereka sama-sama meragukan dan tidak percaya alias skeptis terhadap klaim dan ajaran beliau saw. Tapi para penentang sudah terkonsumsi api fitnah dan kebencian, sehingga kebenaran, keindahan Islam dan juga peringatan-peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW sama sekali tidak terlihat melalui mata hati mereka. Dengan kata lain, pikiran mereka menjadi sempit dan tertutup, seperti firman Allah berikut:

إِنَّ الَّذينَ كَفَروا سَواءٌ عَلَيهِم أَأَنذَرتَهُم أَم لَم تُنذِرهُم لا يُؤمِنونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. 2:6)

خَتَمَ اللَّهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَعَلىٰ سَمعِهِم ۖ وَعَلىٰ أَبصارِهِم غِشاوَةٌ ۖ وَلَهُم عَذابٌ عَظيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. 2:7)

Sedangkan para pengikut Rasulullah SAW pada waktu itu, sama sekali tidak membenci dan menutup diri mereka. Mengutip sebuah kalimat dari buku The Picture of Dorian Gray (1891) karya Oscar Wilde; “Skepticism is the beginning of faith”. Penolakan adalah awal dari kepercayaan.

Jadi, tidak salah bagi kita untuk menolak sesuatu asalkan tetap harus obyektif dan open minded. Karena apa yang salah menurut mayoritas belum tentu salah. Apabila kita menelan mentah-mentah perkataan mayoritas tanpa di analisa terlebih dahulu, pastilah risiko kita untuk tersesat menjadi lebih besar. Dan jika sejarah kembali terulang, kebenaran datang, dan kita ada di dalam skenario yang sama dengan thought experiment tadi, tentu kita tidak mau menjadi orang-orang yang menentang kebenaran tersebut, melainkan menjadi seperti sahabat Rasulullah SAW yang menerima kebenaran tersebut dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu, untuk mengakhiri, saya ingin memberi satu tips yang menurut saya dapat memudahkan kita untuk menjadi lebih obyektif dalam melihat suatu kasus: Hindari kebencian, karena hampir semua hal buruk dalam sejarah manusia dimulai dari rasa benci.

Love for All. Hatred for None.

Sumber:
Al-Quran: http://al-quran.info/#2
Gambar: http://www.ibtimes.com/australia-sees-demonstrations-against-islam-counter-protests-several-cities-1869710

Tentang Penulis

Rafif Adianto Abdul Wahab

Tinggalkan komentar