Opini

Pentingnya Menimba Ilmu

menimba ilmu

Belajar adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh seseorang Individu agar ia menjadi berilmu dan dengan ilmunya itu ia gunakan sebagai petunjuk dalam bertindak.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “Belajar” diartikan sebagai Proses mendapatkan Ilmu/Pengetahuan. Yang menarik perhatian saya ialah dalam pengertian ini tidak disebutkan kapan proses ini berlangsung dan di mana proses ini terjadi apakah ia hanya berlangsung pada masa usia wajib belajar saja? Apakah ia hanya terjadi di Sekolah, Madrasah yang paling mentok di bangku kuliah saja? .

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah mengusik penulis untuk beberapa waktu dan akhirnya memacu saya untuk menuangkannya dalam tulisan ini karena saat ini pun saya tengah menuntut Ilmu. Dalam memikirkan jawabannya, saya teringat suatu kali Laik Ahmad Nasir singgah di Masjid Baitul Futuh Perigi. Di sana beliau memberikan Dars Maghrib yang isinya berkaitan dengan pertanyaan ini.

Beliau menjelaskan hadis yang berbunyi “Carilah Ilmu semenjak dari buaian hingga masuk ke liang lahat”. Di dalam hadis ini bila kita renungkan, maka akan kita dapati ternyata hadis ini mengisyaratkan bahwa proses mencari ilmu tidak hanya berlangsung untuk sementara waktu saja melainkan berlangsung sepanjang hayat kita dan akan berakhir ketika jiwa kita telah berpisah dengan raga. Apapun yang kita temui itulah sumber ilmu bagi kita yang dapat kita manfaatkan.

Islam sangat memandang penting akan perlunya menuntut ilmu karena Rasulullah saw. Suatu riwayat pernah menjelaskan bahwa Hikmah atau pelajaran itu ibarat harta karun yang hilang bagi setiap mukmin yang mana  kita harus mencarinya dimanapun kita berada sehingga dapat menjadi manfaat bagi mukmin tersebut.

Ini pun menjadi suatu hal yang lain lagi yang mana bukan hanya pencarian ilmu itu berlangsung dimana saja dan kapan saja tetapi juga bersumber dari mana saja. Ali Karamallahu Wajhahu diriwayatkan pernah menjelaskan bahwa sebagian ilmu yang beliau miliki bersumber dari orang yang bodoh dengan cara tidak bertindak seperti apa mereka yang mereka perbuat ini menandakan sumber ilmu dapat berasal bahkan dari orang bodoh. Sekalipun selain riwayat – riwayat ini pun masih banyak lagi riwayat yang lain yang menunjukkan bahwa Islam sangat memandang tinggi kedudukan Ilmu.

Kemudian di dalam kehidupan sehari hari apakah kita telah memanfaatkan ilmu yang berada di sekitar kita ini? Ternyata tanpa kita sadari begitu banyak ilmu bagaikan harta karun yang dapat kita ambil dan itu berada di sekeliling kita yang dapat diambil melalui penglihatan, pendengaran atau perasaan kita. Memang belajar itu lebih identik dengan sekolah namun kegiatan belajar yang bertempat disekolah itu disebut belajar formal dan itu terbatas.

Kelanjutannya ialah dalam kegiatan sehari-hari sebagai praktek dari apa yang telah dipelajari di sekolah tadi yang ketika dipraktekkan pun masih menjadi sumber ilmu. Suatu contoh bila seseorang mempelajari kewirausahaan di sekolah lalu kemudian dia kembali ke rumahnya dan mempraktekkan pelajaran tadi di rumahnya, misalnya ia mewujudkannya dengan berjualan di halaman rumahnya. Ketika ia memulai prakteknya tersebut maka dia pun harus mempelajari bagaimana cara agar pelajaran yang tadi sesuai dengan prakteknya bila tidak sesuai maka akan membuahkan hasil yang tidak sempurna atau lebih buruk lagi ia menjadi gagal dan mengalami kerugian.

Seandainya orang tersebut berhasil dalam prakteknya maka pelajaran berikutnya ialah bagaimana ia dapat mempetahankan keberhasilannya tersebut namu bila ia mendapatkan kegagalan maka hal itu pun menjadi pelajaran bagi orang tersebut bagaimana ia dapat mendapatkan keberhasilan di kemudian hari.

Di dalam pencarian ilmu, satu hal yang menjadi faktor yang menentukan ialah semangat. Kita harus menempatkan posisi ibarat mangkok yang kosong dari benda apapun dan bdalam keadaan bersih yang siapuntuk menampung makanan. Apapun makanan yang diletakkan di atas mangkuk maka sang mangkuk akan bersedia menampungnya seperti itulah kita juga harus memposisikan diri kita siap untuk menampung ilmu. Tidak boleh ada perasaan bahwa kita telah memiliki sesuatu yang besar sehingga tidak dapat lagi memuat ilmu ilmu yang lainnya bila keadaan sudah seperti ini maka yang terjadi ialah kita akan merasa tinggi hati atau sombong.

Oleh karena itu, wajib bagi kita semua untuk berusaha senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun sesuai dengan judul diatas yakni belajar everytime, everywhere  serta marilah kita mulai menatap sekeliling kita dan bersiap untuk menjadi orang orang yang haus akan ilmu dan hikmah yang kemudian kita akan meminumnya ibarat orang yang dipenuhi dahaga dan akhirnya ilmu memenuhi diri kita dan juga dapat mewarnai orang lain. Lalu sesuai dengan janji Allah Ta’ala bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu lebih dari yang lainnya.

 

Sumber Gambar: https://www.pinterest.se/pin/505106914436845197/

Tentang Penulis

Muhammad Suleman Feroz

Tinggalkan komentar