Akhmad Reza Opini

Penurunan Sang Merah Putih oleh Kepolisian tidak menurunkan nasionalisme warga Ahmadiyah

Oleh Akhmad Faizal Reza

 

Penurunan Sang Merah Putih oleh Kepolisian tidak menurunkan nasionalisme warga Ahmadiyah Banjar Pengibaran bendera merah putih di kompleks masjid Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia Banjar, Jawa Barat

Pengibaran bendera merah putih di kompleks masjid Jamaah Banjar, Jawa Barat, Senin, 17 Agustus

BULAN Agustus menjadi momen sakral bagi bangsa ini. Di sinilah, pada 17 Agustus 1945, Founding Father kita, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Indonesia.

Sebagai ungkapan rasa syukur, segenap warga bangsa biasanya mengibarkan bendera Merah Putih, Sang Dwiwarna di rumah-rumah mereka, di sungai, laut, bukit bahkan sampai gunung tertinggi.

Tak terkecuali adalah warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai bagian tak terpisahkan dari elemen bangsa. Mereka bangga, antusias bahkan terdepan dalam menggelorakan semangat . Setiap rumah, musholla, masjid hingga sekolah-sekolah warga JAI berkibaran sang Dwiwarna menyemarakkan perayaan Agustusan.

Meski ormas-ormas intoleran menghancur tandaskan rumah-rumah mereka, merusak masjid-masjid mereka, tak sedikitpun berhasil menguburkan rasa nasionalisme yang tertanam di dada. Bendera Merah Putih terus saja berkibar setinggi-tingginya, tak ada niatan menurunkannya setengah tiang atau bahkan menurunkannya sama sekali.

Buktinya pada momen Agustus yang baru saja berlalu. Sebuah masjid milik warga JAI di Banjar, Jawa Barat. Namanya Masjid Istiqamah. Masjid ini sudah empat tahun dinyatakan status quo oleh Pemda Banjar. Bahkan, pada 2014 lalu, mesjid dirusak, genting-genting diturunkan, langit-langit dijebol dan beberapa kaca jendela hancur berantakan diterjang batu. Hingga kini tak seorang pun pelaku diadili.

Tetapi sesuai nama masjid itu, Istiqamah yang artinya, “tetap teguh” begitu pula warga JAI Banjar. Ketika Agustusan tiba, yakni pada 12 lalu mereka memasang 9 buah bendera Merah Putih di area masjid. Namun, ironisnya, seminggu kemudian aparat kepolisian menurunkan bendera-bendera tersebut. Pihak aparat kepolisian memberikan alasan bahwa hal ini dilakukan karena ada tekanan dari Front Pembela (FPI) Banjar.

Sudah sedemikian “kronis”-kah kondisi bangsa sehingga bendera Merah Putih bisa diturunkan karena tekanan dari ormas-ormas intoleran? Yang lebih menyedihkan adalah keimpotenan aparat dalam mencegah perilaku anarkis semacam ini. Negara dan aparatnya seakan-akan manut dan kalah oleh tekanan ormas, bukannya menegakkan wibawa hukum.

Apakah warga JAI tidak diperkenankan untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih? Melalui catatan sejarah, kita dapat menelaah bagaimana sepak terjang perjuangan seluruh komponen bangsa dalam mendobrak penjajahan. Salah satu komponen bangsa yang turut andil dalam memertahankan Kemerdekaan negeri ini adalah Jemaat Ahmadiyah.

JAI adalah organisasi legal di negeri ini. Jemaat Ahmadiyah telah hadir jauh sebelum era kemerdekaan, tepatnya pada 1925 dan memiliki badan Hukum SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl 13-3-1953. Keberadaan JAI resmi tercatat di Kementerian Dalam Negeri. Seperti Muhammadiyah dan NU, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) kini usianya menjelang satu abad.

Selama rentang itu, JAI telah melalui berbagai periode pemerintahan, merentang dari zaman penjajahan Belanda hingga kini era Reformasi. Kontribusinya terhadap pemahaman Islam yang rasional, broadminded, dan logis itu menancapkan jejaknya yang kuat dalam benak para founding fathers kita seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan bahkan Bung Karno sendiri sangat mengagumi Ahmadiyah (lihat Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid 1). Kontribusi JAI untuk tanah air ini tidak usah dipertanyakan lagi, misalnya yang mengejutkan dan belum banyak diketahui adalah W.R. Soepratman, pencipta lagu kebangsaan kita ternyata adalah seorang .

Meski sebagai organisasi yang jaringan kerjanya internasional, setiap warga JAI tetap loyal kepada tanah airnya. Hal itulah yang membuat JAI tidak menemukan kendala ketika pada tahun 80-an pemerintah Orde Baru mengharuskan setiap organisasi kemasyarakatan berazaskan .

Malah, Pemimpin Tertinggi Ahmadiyah Internasional ketika itu, Hazrat Mirza Tahir Ahmad r.h., menyatakan bahwa Pancasila merupakan sebuah “Golden Values.” Ajaran Islam yang diyakini para anggota Ahmadi tidak memertentangkan antara nasionalisme dengan agama. Hal ini sesuai tuntunan dari Rasulullah saw sendiri, “Mencintai tanah air adalah sebagian dari Iman.

Kecintaan dan loyalitas warga JAI pada negara dan tanah airnya ibarat menjawab pertanyaan John F. Kennedy (JFK), “Do not ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country!

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar