Kebangsaan Qureta

Perbedaan sebagai Rahmat

BAGAIMANAKAH kenyataannya yang bisa dilihat dalam kehidupan kita? Apakah perbedaan pemikiran yang ada saat ini telah benar-benar menjadi rahmat?✨?
Penulis Harpan Ahmad

MEMAHAMI Islam merupakan upaya dan yang tidak pernah berhenti. Ia akan terus mengalir seiring dengan perubahan dan . Dengan cara pandang umatnya maka lahirnya paham dan penafsiran baru menjadi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri.

Di Indonesia sendiri, kita mendapati demikian banyak atau golongan Islam dengan corak dan cara pandang yang beragam di mana setiap golongan memiliki argumentasi pembenarannya masing-masing.

Kondisi demikian tentu menuntut adanya kedewasan sikap agar kiranya silang pendapat yang pasti muncul dapat dimaknai sebagai khazanah keilmuan dalam Islam sebagaimana yang Nabi Muhammad saw. telah sabdakan, “Ikhtilafu ummati raḥmatun”—artinya, “ [pendapat] di kalangan umat adalah sebuah rahmat.”

Namun, bagaimanakah kenyataannya yang bisa dilihat dalam kehidupan kita? Apakah perbedaan pemikiran yang ada saat ini telah benar-benar menjadi rahmat?

Masih perlu waktu dan diskusi panjang rasanya untuk benar-benar menjadikan hal tersebut nyata. Pasalnya memang demikian bahwa silang pendapat yang muncul alih-alih dianggap sebagai khazanah keilmuan malah seringnya menjadi jalan masuk kepada permusuhan yang tak jarang berujung pada sikap saling serang di antara sesama Islam atau bahkan keluarnya fatwa penyesatan.

Sebetulnya perilaku keliru yang terakhir disebut tidak akan muncul apabila setiap kita mau mengontrol keegoan diri dan meneladani contoh Nabi. “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu dari antaranya selamat dan yang lainnya binasa…” (HR ). Banyak corak dan ragam pandangan tentunya dalam membaca makna tersirat dari sabda Nabi Muhammad saw. di atas.

Namun satu di antaranya yang ingin saya kemukakan di sini adalah, bahwa sebagai umat (pengikut) seorang Muslim tidak dibiarkan ‘nyaman’ dalam pendiriannya sebelum melewati suatu proses ‘pengujian’.

Yang dengan bahasa berbeda mengingatkan: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Banī Isrā’īl {17}:37)

Pemahaman keagamaan inilah yang dituju oleh ayat di atas. Spirit untuk mencari ‘keotentikan’ dari apa yang selama ini dianggap benar harus terus dinyalakan, terlebih jika keyakinan itu didapat dari hasil ‘warisan’ keluarga. Hal tersebut menjadi penting karena dengan jalan inilah suasana keagamaan yang utuh itu akan menjelma, bukan sebatas simbol dan seremonial.

Patut kiranya menjadi catatan bahwa kita saat ini adalah yang terpisah oleh jarak lebih dari 1400 tahun dari sumber aselinya (Nabi Muhammad saw.), di mana antara rentang waktu yang demikian panjang itu telah dilalui berbagai pergulatan pemikiran yang tak kalah panjangnya. Sehingga, klaim keotentikan suatu pandangan di satu pihak tidak bisa menutup kemungkinan adanya kebenaran pada pihak yang lain.

Dari sinilah seharusnya kesadaran untuk membuka keran kebebasan berpendapat dan keyakinan itu muncul. Karena dari kebebasan berpendapat tersebut secara langsung akan mewujud menjadi panggung kontes bagi pemahaman-pemahaman yang selama ini diyakini benar, untuk mempertahankan keotentikannya dan supaya nyata pula kekeliruan dari ajaran-ajaran yang selama ini dianggap palsu.

Ke arah inilah sebenarnya Al-Qur’ān mengarahkan: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) , sesungguhnya telah nyata (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (QS Al-Baqarah, {2}:257) Menjadi nyata kiranya bahwa Islam membuka ruang-ruang berpendapat siapa saja, bahkan dengan tata cara yang demikian indah dan elegan.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan engkau dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdialoglah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Naḥl {16}: 126)

Karenanya jelas bahwa sikap agresif dalam merespon suatu pendapat atau pandangan baru yang dianggap ‘asing’ dari apa yang selama ini diyakini, terlebih jika sikap penolakan itu dilakukan dengan cara-cara kasar adalah sama dengan menutup rapat pintu rahmat Tuhan. Sebab Nabi Muhammad saw. telah bersabda bahwa perbedaan pendapat dalam umatku adalah sebuah rahmat.

 

_
Ada di QURETA.com

Tentang Penulis

Harpan Ahmad