Fiqih Mumtazah Akhtar Opini

Perempuan Boleh Menjadi Imam Shalat Berjamaah, Asal…

Fiqih Islam Perempuan boleh menjadi imam shalat berjamaah asal

Ilustrasi perempuan boleh menjadi imam shalat berjamaah asal… (Fimadani)

MENETAPKAN seseorang menjadi imam shalat tak bisa sembarangan. Banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Imam Shalat berjamaah. Hendaknya menunjuk imam orang yang bertakwa, tahu masalah-masalah shalat, bisa dengan baik, dan sebagian besar orang menyukainya.

Tahun lalu, seorang perempuan bernama Amina Wadud menjadi Imam Shalat Jum’at di . Tahun 2008, dia pun menjadi imam shalat di pusat pendidikan muslim di Oxford, . Amina menjadi imam di depan laki-laki dan perempuan tanpa sekat.

Praktik tersebut pun mulai dilakukan oleh beberapa perempuan di Inggris dengan alasan bahwa selama ini kaum muslim mempraktikan ajaran yang patriarki dan hanya berdasar pada tradisi Arab. Kini timbul pertanyaan apakah perempuan boleh menjadi imam shalat berjamaah?

Keterangan mengenai imam perempuan terdapat dalam beberapa ḥadīts. (Kasyful Ghammah, “Bab Keimaman dan Sifat Imam”, Jilid I, halaman 235)

Dari diriwayatkan bahwa beliau r.a. mengimami jamaah perempuan, dan berdiri di tengah mereka/di dalam shaf mereka. (Ḥadīts riwayat Al-Baihaqī)

Hal itu pun dilakukan oleh Ummu Salamah r.a., istri . Beliau r.a. pun berdiri di tengah shaf para perempuan dan menjadi imam mereka.

Bahkan, Rasulullah saw. pernah menyuruh seorang laki-laki menjadi muadzin bagi r.a. lalu memerintahkan untuk menjadi imam memimpin jamaah dalam keluarganya [yang semuanya perempuan] untuk shalat-shalat fardhu. (Fiqhul Mar’ah Al-Muslimah)

Keterangan-keterangan tersebut layak dijadikan sandaran untuk memperbolehkan perempuan menjadi imam shalat. Namun hanya dalam kondisi semua jamaah atau makmumnya adalah perempuan dan tak ada satu pun laki-laki di tempat tersebut. Demikian pula, imam perempuan hendaknya berdiri dalam shaf, tidak berdiri di depan seperti halnya imam laki-laki. Tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa perempuan pernah atau diizinkan menjadi imam shalat di depan laki-laki.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa kaum Muslim mempraktikan ajaran yang patriarki terkait perempuan tak boleh menjadi imam laki-laki adalah pendapat yang sangat keliru. Justru sangat melindungi harkat dan martabat perempuan. Jika laki-laki menjadi bagi perempuan, maka pardah—batasan antara laki-laki dan perempuan—dalam Islam sudah tidak ada. Apalagi jika laki-laki berada di belakang perempuan dalam melaksanakan shalat berjamaah sungguh tidak sesuai dengan kesopanan.

Perempuan menjadi imam shalat hanya diperbolehkan dalam kondisi khusus sesuai keperluan. Menjadikannya sebagai kebiasaan, di mana para perempuan terus-menerus shalat berjamaah dengan imam perempuan tidak benar. Sangat sedikit contoh tentang itu pada awal masa Islam. (Fiqh Ahmadiyah, “Penetapan Imam Ṣalāt”)

Tentang Penulis

Mumtazah Akhtar

Tinggalkan komentar