Opini

Perempuan, Kesetaraan Gender, dan Feminisme

“Kita tidak terlahir sebagai , tetapi kita dibuat menjadi .” – Simone de Beauvoir.

Kesetaraan sebetulnya bukanlah hal baru yang diperjuangkan oleh manusia-manusia modern saat ini. Jauh sebelum itu, sudah memperjuangkan derajat perempuan yang sama dengan laki-laki. Walaupun tentu tidak bisa kita samakan kondisi alamiah yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Dalam mitologi Yunani karya Homerus, selalu digambarkan sebagai penyihir dan mengganggu perdamaian. Penggambaran Kirke (Circe) sebagai penyihir seakan-akan menjadi kenyataan bahwa perempuan merupakan sosok penyebab penyimpangan. Dalam beberapa mitos di Eropa pun penyihir selalu diperankan oleh perempuan.

Dengan pelbagai kondisi, perempuan selalu ditindas dan dianggap sosok yang lemah dalam masyarakat. Muncul berbagai gerakan feminisme yang juga dengan pandangan yang berbeda di antara mereka. Kehadiran feminisme gelombang kedua pada tahun 1960-an dan 1970-an memunculkan perbedaan pemikiran feminisme di Amerika dan di Inggris (Joanna Hollows 2000, 8).

Bahkan, pun muncul dari dunia Islam seperti Irshad Manji. Ia merupakan penulis asal Kanada yang telah menulis beberapa buku yang mengkritik Islam terutama mengenai hak perempuan. Ia sepertinya mendukung pernikahan sesama gender dengan melihat bahwa ia menikah dengan pasangannya Laura Albano. 1

Ada pula Amina Wadud, seorang profesor studi Islam di Virginia Commonwealth University yang menggegerkan ketika ia berpendapat bahwa dalam ibadah shalat perempuan harus setara dengan laki-laki bahkan perempuan dapat menjadi imam shalat 2

Feminisme semacam ini sudah keluar jauh dari seharusnya bahkan beberapa feminis berusaha supaya status mereka menjadi di atas kaum laki-laki.

Bagaimana kiprah Islam dalam hal ini khususnya Islam dalam memperjuangkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan? Dalam kiprah nabi Muhammad SAW, semasa hidupnya, kondisi perempuan di jazirah begitu terpuruknya.

Hak dan derajat wanita begitu kejamnya diinjak-injak oleh kaum laki-laki yang menjadi pemimpin kaum adat di sana. Bahkan, jika terlahir anak perempuan dalam keluarga, ayah dengan tega membunuh anak perempuan mereka dengan cara dikubur hidup-hidup. Cara menghabisi nyawa anak perempuan ini pun sudah membudaya dan hal yang lumrah dilakukan.

Hadirnya Muhammad SAW yang bertugas sebagai nabi pun menjadi pejuang paling akbar dalam menegakkan keadilan bagi kaum perempuan. Perjuangannya pun penuh rintangan dan perlawanan dari para pemimpin Mekkah pada saat itu.

Perempuan selalu menjadi komoditas kopulasi dalam adat Arab dan tanpa hak sama sekali. Keterbelakangan akhlak para pemuka Arab ini sudah di luar batas sisi kemanusiaan bahkan sudah melebihi rendahnya sifat binatang sekalipun.

Sayangnya, seorang penulis terkenal asal Turki, Adnan Oktar alias Harun Yahya, harus berurusan dengan penegak hukum Turki akibat aktivitas menyimpang sekte yang dipimpinnya. Ketika ditangkap oleh pihak keamanan Turki, ia memberikan pernyataan kontroversial dengan menyatakan bahwa ‘bikini adalah penutup islami.’ Harun Yahya pun memiliki stasiun televisi A9 yang didalamnya ia membahas isu religius namun juga menampilkan aksi tarian perempuan muda dengan pakaian minim.3  

Sangat disayangkan ketika ajaran sejati Islam memperjuangkan hak-hak dan martabat perempuan, Harun Yahya justru seperti mengembalikan kondisi jatuhnya kehormatan kaum perempuan dalam sektenya.

Kini, tuduhan dari non-Islam bahkan beberapa dari dalam pengikut Islam sendiri beranggapan bahwa Islam tidak memperjuangkan bahkan menurunkan derajat perempuan. Tuduhan ini hanyalah berdasarkan pada penggunaan akal secara emosional.

Dengan melihat sejarah dan kondisi perempuan pada masa lalu haruslah membuat para kritikus Islam sadar bahwa justru Islam selalu dalam garda terdepan dalam memperjuangkan hak kaum perempuan.

Dalam hadis pun nabi Muhammad SAW menyampaikan kewajiban setiap manusia untuk menghormati ibu tiga kali lebih baik daripada seorang ayah (HR. Bukhari no. 5971 dan no. 2548).

Terlebih lagi dalam Al-Quran, Allah SWT melarang untuk menyakiti laki-laki dan perempuan tanpa alasan apapun, seperti dalam ayat:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab:58)

Beberapa feminis menganggap bahwa penggunaan penutup aurat dan tutup kepala bagi perempuan merupakan bentuk bahwa Islam mengekang kebebasan perempuan. Penutup aurat ini justru seharusnya menjadi bukti bahwa Islam memberikan penghargaan yang tinggi kepada perempuan bahwa keelokan tubuhnya bukanlah tontonan yang bisa dinikmati semua orang.

Pada masa kebodohan di Arab, keindahan tubuh perempuan yang menjadi tontonan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Keadaan tersebut bukanlah sesuai dengan keinginan kaum perempuan pada masa itu. Mereka melakukannya dalam kondisi terpaksa karena kondisi kebudayaan yang sudah membiasakan mereka.

Kritik justru seharusnya dilontarkan kepada mereka yang membiarkan dan mendukung keindahan perempuan menjadi komoditas kaum laki-laki. Ketika Islam berjuang menjaga martabat perempuan dengan menutup keindahan tubuh mereka dari laki-laki yang tidak berhak, di pihak lain justru mereka mengobral keindahan tubuh perempuan dalam menjual produk mereka.

Sejatinya, tidak ada yang salah dalam feminisme sejauh perjuangan para feminis supaya kaum perempuan bangkit dari kondisi marjinalnya dan memiliki hak yang semestinya mereka dapatkan. Hak pendidikan yang diperjuangkan oleh Malala Yousafzai di Pakistan menyebabkan luka tembak di bagian kepalanya bersama dengan teman-teman sekolahnya yang lain ketika Taliban melarang anak perempuan untuk bersekolah. 4

Malala tidak menyatakan diri sebagai feminis namun perlawanannya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan menjadi ilustrasi perjuangan perempuan yang sesuai pada kadarnya. Selaiknya, ketika memperjuangkan yang termarjinalkan untuk menjadi sama dan setara, tak perlu mendegradasi yang superior menjadi inferior.

Khalifah ke-5 Jamaah Muslim Ahmadiyah menyampaikan bahwa ajaran Islam sangat jelas sekali tidak menempatkan perempuan sebagai inferior. Jadi, ketika di dalam Al-Quran menyebutkan ‘meyakini laki-laki’ berarti juga ‘meyakini perempuan.’ Ini merupakan kesetaraan sejati. Ketika kita membandingkan dan mempertentangkan status yang dianugerahkan kepada perempuan dalam Islam dibandingkan dengan agama lain, hal itu seperti malam dan siang.

Beliau juga menambahkan jika kita mengenali keyakinan kita, kita akan menjadi yakin bahwa  perempuan muslim adalah orang yang paling beruntung karena hak-hak dan status mereka telah terpancang dan selalu dijaga oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.   

Maka, sebetulnya, jika perempuan pada masa kini masih merasa tidak merasa setara dengan laki-laki merupakan hal yang seharusnya tidak terjadi kembali mengingat adanya ajaran yang begitu memberi penghargaan tinggi bagi perempuan.

Diterbitkan juga di Qureta dengan tautan: https://www.qureta.com/post/perempuan-kesetaraan-gender-dan-feminisme

Referensi:

Hollows, Joanne (2000), Feminism, Feminity and Popular Culture. Manchester University Press

https://www.khalifaofislam.com/press-releases/waqf-e-nau-female-ijtema-2018/

http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2016/05/10/irshad-manji-marries-partner-laura-albano/

https://www.aljazeera.com/archive/2005/03/200849145527855944.html

https://news.detik.com/internasional/d-4130578/diinterogasi-harun-yahya-sebut-bikini-penutup-islami-dan-vodka-halal

https://www.nytimes.com/2012/10/13/world/asia/malala-yousafzai-faces-new-taliban-threat.html

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/50172983333535064/

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad