Opini

Persahabatan Lintas Agama

Terlahir berbeda, dari 2 keluarga yg jauh berbeda.

Kehidupan sosial hingga kehidupan beragama pun berbeda.

Gereja & mushola bukanlah sekat antara keduanya,

Karena dari banyak perbedaan tercipta persahabatan

Alkisah di sebuah sudut kota kecil Madiun, terdapat kisah persahabatan yang layak diceritakan. Sebut saja ‘Joko Novianto’ dan ‘Mario Andreas’, kedua lelaki remaja ini menjalin persahabatan semenjak 3 tahun yang lalu. Padahal, secara kasat mata, terdapat kesenjangan antara keduanya. Mengapa tidak, dari nama panjang mereka berdua pun terlihat jelas perbedaanya. Joko dengan namanya yang sangat kental dengan suku Jawa nya. Sedangkan Mario kental dengan nama  kebarat – baratan.

Tak hanya sebatas nama, Joko terlahir di keluarga sedangkan Mario terlahir di keluarga . Backgorund kedua keluarga mereka bisa dibilang keluarga yang taat beribadah pada agamanya masing – masing. Keluarga Joko bisa dibilang rajin beribadah. Begitu pun keluarga Mario menjadi aktifis salah satu gereja di pusat Kota Madiun.

Tak hanya perbedaan agama, Kondisi ekonomi antar mereka berdua pun jauh berbeda. Joko ditakdirkan menjadi yatim semenjak kecil. Ibu dari Joko pun bertekad untuk tidak menikah lagi. Walau hanya bekerja sebagai buruh rumahan, Ibu Joko tetap berusaha untuk memenuhi kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga. Ya, bisa dibilang kehidupan ekonomi keluarga Joko tidak seberuntung keluarga Mario. Mario terlahir di keluarga yang bisa dibilang berada. Orang tua Mario keduanya bekerja sebagai tenaga Pendidik, yaitu sebagai guru dan Dosen Universitas di Kota Madiun.

Keberadaan Mario tak membuat dirinya terbuai dengan keakuan dan kesombongan. Mario bahkan tetap menjalin persahabatan dengan Joko. Persahabatan di antara kesenjangan yang ada. Memang, secara kasat mata, mereka tampak tidak akur karena candaan – candaan anak di era kekinian. Namun, jika ditelisik lebih dalam, rasanya persahabatan mereka dapat membuat iri disekitarnya karena kekompakannya yang luar biasa. Dari sejak 3 tahun yang lalu, hingga saat ini kedekatan mereka melebihi kedekatan antara sesama saudara kandung mereka masing – masing. Kebersamaannya lebih intens dibandingkan dengan keluarganya. Ketika ada Joko disitu ada Mario. Dan begitulah sebaliknya. Tak jarang kedua adik perempuan Mario mengeluh karena kakak kandungnya sendiri tak mau pergi bersama mereka, hanya mau pergi bersama Joko.

Tak sebatas dalam kehidupan keseharian, kehidupan pribadi satu sama lain pun mereka tahu. Mereka tak hanya mendalami kehidupan diri sendiri. Saling mendalami sifat, karakter, hingga masalah yang dihadapi satu sama lain senantiasa mereka lakukan. Joko teramat sangat memahami rahasia pribadi Mario. Begitu pun sebaliknya. Saling tahu satu sama lain,  inilah yang menjadi point penting persahabatan mereka. Tak hanya tahu, diantara mereka pun saling membantu. Apa pun masalah yang dihadapi, mereka pun selalu mencari solusi bersama.

Di samping kehidupan pribadi, kehidupan rohani mereka pun terlihat kompak. Joko yang masih labil dalam melaksanakan shalat lima waktu, membuat Mario yang notabene nya seorang nasrani selalu mengingatkan masalah shalat. Mario tak segan sering mengadukan, jika Joko sulit dibangunkan oleh ibunya untuk shalat Subuh. Dan sebaliknya, Joko selalu mengingatkan sahabatnya untuk ke gereja di hari minggu. Tak pernah sekali pun Joko menggoda sahabatnya untuk lebih memilih CFD (Car Free Day) dari pada ke gereja.

Guratan toleransi yang indah terpancar jelas di antara keduanya. Mario pun kerap kali terlihat duduk sabar menunggu sahabatnya menyelesaikan shalat Magrib dan Isya di bangku masjid demi untuk pulang bersama.

Memang, saat ini mereka masih remaja. Belum bisa dibilang dewasa karena usia. Namun, kepribadian dan keseharian mereka menunjukan kematangan dan kedewasaan. Mengapa tidak, perbedaan yang saat ini secara tidak langsung sering dijadikan pemicu kericuhan oleh oknum – oknum di luar sana, tak mempengaruhi persahabatan di antara keduanya. Perbedaan keluarga, ekonomi, hingga agama melahirkan persahabatan yang nyata diantara keduanya.

Mereka dapat dijadikan contoh untuk orang – orang dewasa di masa kini. Yang mudah tersulut jika hanya mendengar sedikit saja kata – kata yang berbau “perbedaan”. Alih – alih berdamai dengan perbedaan, mengkafirkan satu sama lain sudah menjadi suatu kebiasaan. Lihatlah, dengarlah persahabatan di sudut kota kecil ini.! Kesenjangan ekonomi hingga perbedaan agama dan keyakinan, bukanlah menjadi sekat pemisah diantara keduanya.

Di balik candaan seusianya, hati mereka terikat satu sama lain. Mereka selalu bersama, dibalik kesenjangan yang ada. Mereka selalu saling menghargai ibadah – ibadah suci mereka dengan Tuhan – Nya. Jangankan kata kafir, kata – kata candaan ledekan, hingga hinaan seputar agama satu sama lain pun, tak pernah terdengar sama sekali.

Mungkin, mereka pun belum pernah mendegar sabda Rasulullah SAW yang berbunyi,

“Agama yang paling dicintai Allah adalah ajaran yang lurus-toleran”

(HR. Ibnu Abi Syaybah dan Bukhari)

Namun, alam bawah sadar mereka, telah melaksanakan sabda Nabi Besar Nabi Muhammad SAW. Ada hubungan religi masing – masing dari mereka dengan Tuhan – Nya yang hanya diketahui diri mereka sendiri. Namun, untuk kesehariannya, mereka pun menjalin hubungan persahabatan yang sudah terikat satu sama lain. Dan mereka sudah sangat jelas memperlihatkan sikap toleran satu sama lain.

Kedewasaan usia mereka hingga pengalaman hidup mereka, memang masih belum banyak. Masih kalah telak dengan kaum – kaum dewasa masa kini yang sudah banyak makan asam garam. Namun sayangnya, kedewasaan usia dan pengalaman yang mempuni belum tentu dapat membuat siapa pun bersikap toleran sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Sejatinya, kisah persahabatan lintas Agama yang diaplikasikan 2 lelaki remaja ini, seharusnya dapat menjadi pelajaran. Dan ini bukanlah hanya sebatas kisah. Karena cerita 2 lelaki remaja ini adalah sepenggal cerita toleransi di Taman Belajar Al Masroor.

Tempat les gratis di kota Madiun, yang menawarkan berbagai pendidikan, baik pendidikan les mata pelajaran formal hingga pendidikan akhlak dan moral. Al Masroor menampung beragam agama dari , Kristen, hingga Protestan. Merekalah salah satu cerita yang menguntai persahabatan lintas agama di Al Masroor. Terima kasih untuk kalian berdua, betapa bangganya kami melihat kalian berdua. 3 tahun bukanlah waktu yang sekejap untuk menikmati persahabatan kalian. Persahabatan yang menepis dan meleburkan segala kesenjangan yang ada.

Sumber gambar: http://www.huntnews.id/p/detail/2722403604977891?uc_param_str=dnfrpfbivesscpgimibtbmntnijblauputoggdnw&pos=1474431300004&channel=entertainment&chncat=category_indonesian

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin