Opini

Persaudaraan antar Umat Manusia

persaudaraan

Pagi yang cerah dengan diwarnai semangat, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi rakyat pada 17 Agustus 2018 telah selesai. Semua orang dari berbagai etnis dan berkumpul untuk merayakan dan memeriahkan Hari negara kita yang ke-73. Kita bangga dan berterimakasih atas jasa pahlawan-pahlawan kita yang telah berjuang demi  Negara . Sudah menjadi lazim bagi kita semua untuk ikut berjuang, bekerjasama, dan saling mencintai demi kemajuan dan kebaikan bagi negara kita yang tercinta.

Saat ini berbagai Negara juga berkumpul di Indonesia dalam rangka kompetisi dengan tujuan untuk menunjukkan kesatuan dan kerja sama antar negara. Semua orang bersorak-sorak untuk memberikan semangat kepara para atlet supaya meraih juara. Sehingga memberikan kebanggaan terhadap Negaranya.

Didalam Al-Quran pun dikatakan bahwa Allah Taala telah menciptakan kedalam berbagai suku dan -bangsa dengan tujuan agar satu sama lain bersilaturahmi.       

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13)

Sebab umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia, semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah swt. Harga seseorang tidak dapat dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka.

Pembagian suku-suku bangsa,  bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik, terhadap satu-sama lain agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing.

Pada peristiwa Haji terakhir di Mekkah, tidak lama sebelum Rasulullah saw. wafat, beliau berkhutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan:

“Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan-kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia. Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertakwa di antaramu.” (Baihaqi)

telah menciptakan satu yang universal. Ditekankan bahwa yang sejati hanyalah bisa diciptakan melalui hubungan yang baik antara satu sama lain semata-mata karena Allah Taala. Segala hal lainnya, kerjasama, usaha bersama, tempat tinggal bersama, hanyalah merupakan peneguh persahabatan dan .

Kecemburuan dan kekerasan memang bisa terjadi. Namun hanyalah kesadaran  bahwa sekalian manusia itu sama ciptaan dari Tuhan dan bahwa mereka harus mencari ridha Tuhan yang bisa menciptakan persaudaraan yang sejati, yang bisa bertahan terhadap segala macam cobaan hidup. Tidak lupa juga motto atau semboyan negara kita yakni Bhinneka Tunggal Ika telah menarik perhatian kita bahwa motto ini menggambarkan persaudaraan, kesatuan negara, kasih sayang dari berbagi beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, dan kepercayaan.

Marilah senantiasa wujudkan persaudaraan yang kental, saling kerjasama, hias dengan kasih sayang, dan hilangkanlah segala amalan yang merusak persaudaraan kita demi Negara kita yang tercinta yakni INDONESIA. MERDEKA.

REF : – Al- Quran Tafsir Sagir dari Hz Khalifatul Masih IV

  • Buku Islam dan Ham penulis Dr. Sir. M. Zafrullah Khan

Sumber Gambar: https://toistudent.timesofindia.indiatimes.com/news/relationship/your-2017-friendship-goals/14909.html

Tentang Penulis

Achmad Arif Setyawan