Akhlaq Faḍi'l-Lāh Blog Pribadi

Pilkada DKI, kok bawa-bawa Andalusia?

pilkada DKI | Andalusia | Wefie para cagub-cawagub pilkada DKI Jakarta 2017. (instagram)

SEBUAH “post” saya dapatkan dari WhatsApp. Judul post-nya sangat berapi-api, “Menengok sejarah hancurnya ” ditambah sedikit sub judul, “Pelajaran Penting Bagi Indonesia”.

Saya gak tahu asal-muasal post ini dari mana. Sepertinya itu tidak terlalu penting. Sebab, gak akan jauh-jauh dari “tetangga sebelah” yang biasa jualan ayat untuk main SARA (dalam politik). Mereka orangnya memang “baperan” dengan perbedaan.

Si penulis mengungkap lima sebab Andalusia jatuh ke tangan “Kafir Eropa”: 1. dunia; 2. meninggalkan jihad; 3. berkubang kemaksiatan; 4. menyerahkan urusan bukan pada ahlinya; dan, 5. bodoh dalam hal agama.

Setelah mengungkap lima sebab di atas, si penulis menuturkan, “Bayangkan jika Indonesia nanti telah jatuh total ke tangan orang kafir…”

Di bagian akhir dari post tersebut, si penulis mengungkap 12 poin yang menggambarkan bahwa “orang kafir” adalah seburuk-buruknya . Dan sepertinya, post tersebut hendak menyasar “seluruh” orang yang terdefinisi sebagai kafir. Mungkin termasuk Syiah dan Ahmadiyah.

Tidak ada konsep umum-khusus berkaitan dengan “kafir”. Kamu bukan , kamu Syiah, kamu Ahmadiyah, kamu liberalis-pluralis-sekularis, kalian semua kafir. Kalian terkutuk, aniaya, sumber azab dan laknat.

Sebenarnya. Kafir itu gak sebatas non-muslim. Gak sebatas Nasrani, Yahudi, Budhis, , dan lain sebagainya. Muslim yang tidak jalankan Ṣalāt Jumat selama tiga kali berturut-turut itu juga masuk kategori kafir.

Seseorang muslim yang tidak mensyukuri nikmat pun masuk kategori kafir. Lagi, orang-orang yang tidak memiliki kepedulian sosial juga, (Qur’ān) menyebut mereka sebagai kafir. Satu lagi, orang-orang yang melakukan juga disebut kafir menurut Qur’ān.

Ringkasnya. Terma “kafir” memiliki makna yang luas dan beragam. Qur’ān dan Ḥadits biasa menggunakan terma tersebut untuk berbagai keadaan.

Sayangnya, banyak muslim yang terjebak dalam memaknai terma “kafir”. Mereka menyempitkannya pada satu titik. Untuk memberikan perbedaan mana Islam, mana non-Islam. Mana yang Allāh riḍai, mana yang Allāh murkai. Mana yang akan menang, mana yang akan binasa.

_
Nur al-Kalam

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar