Opini

PKI Itu Racun, Khilafah Itu Penawar

khilafat

Setelah 52 tahun berlalu, isu kebangkitan bersuara di seantero Indonesia. Presidium Alumni 212 pun kembali beraksi dengan label aksi baru: aksi 299. Pada aksi kali ini mereka menuntut untuk menolak kebangkitan dan meminta DPR menolak Perppu UU No 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat. Dalam aksi 299 tersebut pun para demonstran banyak yang berteriak “! !” sambil mengibarkan bendera Ar-Rayah raksasa.

Dua tuntutan itu memberi sinyal bahwa mereka menggunakan teori racun dan penawar. Aksi mereka seakan-akan menyeru bahwa PKI adalah racun sedangkan khilafah adalah penawar. Hal ini menimbulkan banyak tanya. Apakah betul PKI bangkit kembali di Indonesia? Atau isu bangkitnya PKI ini hanya isu buatan supaya teori racun dan penawar bisa mereka gunakan?

Di media sosial, terdapat banyak foto-foto dan artikel yang menunjukkan bangkitnya PKI di Indonesia dewasa ini. Di antaranya adalah simbol palu dan arit yang ada di lembar uang kertas, bendera PKI yang berkibar di suatu tempat, sampai artikel yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi adalah PKI.

Setelah tertangkapnya kelompok penyebar isu bohong semacam Saracen, para netizen harus selalu berhati-hati dalam membaca konten yang tersebar di media sosial. Bukan berarti isu itu seratus persen salah. Tetapi, akan lebih bijak jika kita mengolah dan meneliti lebih dalam kebenaran isu tersebut. Jangan jadikan hidup kita sia-sia sebagai korban hoax.

Komunisme di Indonesia

Ada beberapa hal yang sepertinya perlu kita ketahui mengenai sejarah perkembangan paham komunisme di Indonesia. Kemunculan PKI di Indonesia berawal dari partai yang didirikan pada tahun 1914 oleh Henk Sneevliet dan beberapa kaum sosialis Hindia Belanda. Partai tersebut bernama Indische Sociaal Demcratische Vereeniging (ISDV). Pada akhir tahun 1917, ISDV dan dewan-dewan soviet melakukan pemberontakan di Surabaya. Kisah ini berakhir dengan ditangkapnya para pemberontak ini termasuk Henk Sneevliet sendiri. Henk Sneevliet bersama pemberontak lain ditangkap dan dipulangkan kembali ke Belanda.

Selama perjalanan politiknya, ISDV membentuk kerjasama dengan Sarekat Islam (SI) yang juga anti kolonial. Beberapa anggota SI pun tertarik dengan ideologi yang dibawa oleh Henk Sneevliet, di antara mereka adalah Semaun dan Darsono. Pada awal pergerakan, Semaun, Darsono, dan Alimin menjadi banyak melancarkan aksi mogok buruh besar-besaran pada tahun 1918.

Pada tahun 1920, ISDV pun berubah nama menjadi Partai Komunis Hindia dengan Semaun sebagai Ketua dan Darsono sebagai Wakil Ketua. Dan beberapa bulan kemudian nama partai berubah kembali menjadi Partai Komunis Indonesia. Awalnya, PKI merupakan bagian dari Sarekat Islam (SI). Namun pada tahun 1921, akhirnya PKI berpisah dari SI karena berbeda paham.

Hingga pada tahun 1950-an D.N. Aidit menjadi ketua Partai Komunis Indonesia dan mendukung arah politik anti-kolonialisme yang dibawa oleh Soekarno. Pimpinan PKI pada saat itu diduduki oleh politisi muda seperti Sudisman, Nyoto, Lukman, dan Sakirman. Pengaruh mereka pun sangat kuat pada masa itu hingga pada tahun 1960 Soekarno menyuarakan slogan Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). PKI pun memiliki basis kekuatan yang besar hingga Gerakan 30 September pecah pada tahun 1965 dengan berakhir pada penumpasan pengikut PKI sekitar tahun 1965-1966.

Tumbuh kembang komunisme di Indonesia sebenarnya didasari oleh ide anti-kolonialisme yang dibawa. Pergerakan ini cocok dilakukan pada masa itu untuk melawan kapitalisme dan feodalisme yang sudah merasuk ratusan tahun di Indonesia. Karl Marx dan Frederick Engels menyampaikan dalam Manifesto of the Communist Party bahwa ide komunisme muncul untuk melawan kaum Bourgeoisie modern dan Proletar yang memiliki kekuasaan yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial di Eropa.

Ekstremisme Agama

Sebetulnya, ada yang lebih berbahaya daripada pemikiran sosialisme dan komunisme yaitu ekstremisme agama. Apapun bentuknya. Apapun agamanya. Segala hal yang berbentuk ekstremisme dalam agama adalah alarm bahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belum selesai tragedi di Rohingya terjadi di Myanmar dan Bangladesh. Walaupun tragedi tersebut lebih kental dari sisi politik, namun kelompok agama yang disebut turut serta dalam menyerang kelompok etnis Rohingya menjadi contoh dari ekstremisme itu.

Di Indonesia pun nampaknya ekstremisme bernafaskan agama masih merajalela. Yang dianggap tidak islami dan mendukung khilafah disebut kafirun atau sesat. Kita sendiri lah yang bisa menjawab berbagai bentuk intoleransi hasil dari ekstremisme agama itu. Padahal, dalam Al-Quran sudah tertera jelas mengenai menghargai orang lain yang memiliki keyakinan lain.

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku

(QS.Al-Kaafirun:6)

Surah di atas turun di Mekkah ketika umat Islam sedang mendapat banyak ancaman dari kaum kafir Mekkah. Ketika Islam masih dalam posisi sebagai minoritas di tanah Arab, umat muslim menyuarakan surah tersebut kepada kaum kafir untuk saling menghargai dalam agama yang mereka anut masing-masing.


Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.

(QS.Al-Isra’:84)

Ayat di atas pun menjelaskan bahwa masing-masing manusia akan dihisab atau dinilai sesuai dengan keadaan atau perlakuan mereka masing-masing. Jadi, manusia tidak boleh memaksakan kehendak kepada manusia lain untuk melaksanakan apa yang menurut mereka benar untuk dilakukan. Termasuk memaksa untuk mendirikan negara khilafah di suatu negara karena memang tidak ada keharusan suatu berdirinya negara Islam yang dipimpin oleh khilafah. Apalagi siapa yang akan terpilih menjadi pun masih belum jelas.

Khilafah Sebagai Penawar

Penulis meyakini benar bahwa khilafah sebagai penawar dari segala kekacauan yang ada di Indonesia dan di seluruh dunia. Saat ini dunia sedang menunjukkan wajahnya yang muram dan kusam oleh radikalisme, ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.

Segala kekacauan tersebut tentu membutuhkan penyelesaian dan jalan yang ditunjuk langsung oleh Petunjuk dan arahan dari Allah SWT pun diberikan kepada khalifah yang memimpin di dunia untuk menyampaikan petunjuk ilahi itu tanpa ada tendensi untuk menguasai teritori atau politik di satu negara.

Kekhilafahan yang sudah berdiri di dunia ini ada dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah. Kekhilafahan yang tidak berpolitik dan tidak membutuhkan kekuasaan teritori dalam menyebarkan pesan perdamaian hingga ke seluruh pelosok dunia. Semua pesan yang disampaian oleh Khalifah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad adalah pesan damai tanpa ada suara untuk menyebarkan kebencian sedikit pun.

Bahkan, kekhalifahan Muslim Ahmadiyah menghargai keberadaan seluruh negara yang ada di dunia ini tanpa meminta negara tersebut berubah menjadi negara Islam. Tidak seperti kekhilafahan yang disuarakan oleh HTI bahwa sebuah negara harus berubah menjadi negara Islam yang dipimpin oleh khalifah yang belum jelas juga siapa khalifah tersebut.

Salam Love for all hatred for none

Sumber:

  1. https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-3-murid-tjokroaminoto-soekarno-semaoen-kartosoewirjo.html
  2. Communism and the Communist Party in Indonesia, Edward Janner Sinaga (1960)
  3. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/09/29/16451211/massa-aksi-299-kibarkan-bendera-raksasa-sambil-serukan-khilafah
  4. Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara.Zulkifli, Arif; Hidayat, Bagja, ed (2010)

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad

Tinggalkan komentar