Opini

Presiden Soekarno dan Penghormatannya Untuk Ahmadiyah

Benarkah seorang Muslim bisa taat kepada seorang Khalifah dan Negara pada saat yang sama? Jawabannya bisa kita lihat pada Jamaah Muslim . Bagi yang belum pernah mendengar, merupakan bagian dari yang sudah berada di 210 negara, termasuk . Sejak tahun 1920, mereka mulai menyebarkan pemahamannya di kota Tapaktuan, Aceh melalui seorang ustadz bernama Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. Sampai sekarang, Ahmadiyah sudah tersebar di berbagai kota besar di seluruh .

 

Di masa-masa pra Kemerdekaan, Khalifah ke 2 Jamaah Muslim Ahmadiyah Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad memerintahkan seluruh anggota Ahmadiyah untuk berpuasa senin-kamis supaya Indonesia dapat meraih kemerdekaannya. Semua orang Islam pasti tahu, ada saat-saat waktu tertentu ketika doa begitu mustajab. Salah satunya adalah doa dari orang yang sedang berpuasa dan ketika orang tersebut berbuka puasa. Pada surat kabar “Kedaoelatan Rakjat” edisi Selasa Legi, tanggal 10 Desember 1947 dengan judul Memperhebat Penerangan Tentang Repoeblik, Gerakan Ahmadiyah Toeroet Membanto tertulis:

 

”Betapa besarnya perhatian gerakan Ahmadiyah tentang perdjoeangan kemerdekaan bangsa kita dapat diketahoei dari soerat-soerat kabar harian dan risalah-risalah dalam bahsa Oerdoe djang baroe-baroe ini diterima dari India. Dalam soerat-soerat kabar terseboet, didjoempai banyak sekali berita-berita dan karangan-karangan jang membentangkan sedjarah perdjoeangan kita, soal-soal djang berhoeboengan dengan keadaan ekonomi dan politik negara, biografi pemimpin-pemimpin kita, terdjemahan dari Oendang-Oendang Dasar Negara Repoeblik dll “.

 

“Selain itoe tercantoem djoega beberapa pidato djang pandjang lebar, mengenai “seroean dan andjoeran kepada pemimpin-pemimpin negara Islam, soepaja mereka dengan serentak menyatakan sikapnya masing-masing oentoek mengakoei berdirinya pemerintahan Repoeblik Indonesia. Hal jang mengharoekan ialah soeatoe perintah oemoem dari Mirza Bashiroeddin Mahmoed Ahmad, pemimpin gerakan Ahmadiyah kepada pengikoet-pengikoetnya di seloeroeh doenia jang djoemlahnya 82 djoeta orang soepaya mereka selama boelan September dan Oktober jang baroe laloe ini, tiap-tiap hari Senin dan Kemis berpoeasa dan memohonkan do’a kepada Allah SWT goena menolong bangsa Indonesia dalam perdjoangannya, memberi semangat hidoep oentoek tetap bersatoe padoe dalam cita-citanya, memberi ilham dan pikiran kepada pemimpinnya goena memadjoekan negaranya menempatkan roe’b (ketakoetan) di dalam hati moesoehnya serta tercapainya sekalian tjita-tjita bangsa Indonesia”.

 

Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun merupakan anggota Ahmadiyah. Misalnya saja WR Soepratman , pencipta Lagu Kebangsaan. Tahun 1932 Soepratman menderita sakit urat syaraf, disebabkan lelahnya karena bekerja keras. Setelah beristirahat 2 bulan di Cimahi, beliau kembali ke Jakarta untuk menerima aliran Ahmadiyah [1]. Tercatat pula dalam sejarah bahwa salah satu Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah pada masa orde lama adalah R. Muohammad Moehyidin. Beliau menjabat sebagai pegawai tinggi kementerian dalam negeri dan juga pejuang yang aktif turut serta mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta. Pada 1946 beliau diangkat sebagai sekretaris panitia perayaan kemerdekaan RI yang pertama. Rencananya, beliau akan memegang bendera merah putih di barisan depan. Akan tetapi delapan hari sebelum perayaan proklamasi dilaksanakan, beliau diculik Belanda dan tidak diketahui rimbanya hingga kini.

 

Lalu ada Sayyid Shah Muhammad. Beliau pernah menjabat sebagai pimpinan Ustadz Ahmadiyah. Meskipun beliau berasal dari Pakistan, beliau tetap gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangannya dalam membela kemerdekaan Ahmadiyah adalah dengan menjadi sebagai anggota panitia pemulihan Pemerintah Republik Indonesia Pusat terpilih sebagai salah satu dari 12 orang untuk mengantar Presiden kembali ke Jakarta menggunakan pesawat ‘Garuda. Lalu menjadi ‘Pegawai Bantuan Golongan ke I Kementrian Penerangan Jogjakarta sebagai Kepala Seksi Urdu pada Bagian Publikasi Kementrian Penerangan. Posisi beliau adalah sebagai juru bicara RI untuk menyuarakan perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan ke luar Indonesia dan merebut pendapat Internasional bahwa perjuangan ini adalah benar dan adil. pun menganugrahkan ”Tanda Jasa Pahlawan” kepada Sayyid Shah Muhammad atas jasa-jasa beliau [2].

Terakhir, masih ingatkah pembaca pada sosok HOS Tjokroaminoto? Ketua pertama Sarekat Islam sekaligus guru dari Presiden Indonesia yang pertama Ir. Soekarno. Beliau adalah salah satu yang menerima kebenaran Ahmadiyah. Beliau pun pernah menerjemahkan The Holy Quran: Arabic Text, Translation and Commutary karya Maulana Muhammad Ali, seorang Ustadz Ahmadiyah, ke dalam bahasa Melayu. Pada majalah TEMPO edisi 21 September 1974, Th. IV No. 29 dalam laporannya yang berjudul “Ahmadiyah, Sebuah Titik Yang Dilupa” menulis:

 

Di forum ini juga dibicarakan Tafsir Quran yang sedang dikerjakan Tjokroaminoto. MR. A.K. Pringgodigdo, dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, ada menyatakan bahwa lantaran dari bagian-bagian pertama Tafsir itu ternyata hanya saduran dari kaum Ahmadiyah, timbullah di forum SI itu perlwanan yang keras. Maka tampillah Agoes Salim: beliau ini menerangkan bahwa dari segala jenis tafsir, tafisr Ahmadiyah lah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar ”.

 

Kita tidak akan mengenal sang legenda Bruce Lee jika dia tidak berguru kepada Master Ip Yen. Begitu juga dengan Ir. Soekarno, Bapak Proklamator Indonesia telah berguru kepada HOS Tjokroaminoto. Buah pun tidak jatuh dari pohonnya. Soekarno, dikutip dari buku Di bawah Bendera Revolusi, menyampaikan tanda penghormatannya kepada Ahmadiyah atas perjuangan mereka mencapai kemerdekaan Republik Indonesia:

“Buat jasa ini – cacad saya tidak bicarakan di sini – ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas” (hal.389 ).

Sebagai penutup, jika ada kekhawatiran dari pembaca. Apakah mungkin suatu saat Khalifah Ahmadiyah akan berusaha mendirikan negara Islam dan menjadi ancaman negara? Ini jawaban dari Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah.

 

Ahmadiyah adalah komunitas yang berisikan orang-orang terbaik, yang penuh dengan kerendahatian sehingga saya jamin tidak akan ada satupun yang menjadi ancaman atau menimbulkan kecurigaan terhadap pemerintahan ataupun negara ” [3]

 

Referensi

  1. (Dikutip oleh GEMA dari Buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiunhalaman

168 s/d 171)

  1. https://www.academia.edu/24510632/Perjuangan_Sayyid_Shah_Muhammad-Muballigh_

Ahmadiyah_di_Indonesia

  1. The Truth Unveiled. Page 18

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam

Tinggalkan komentar