Opini

Pribumi dan Pemuda yang Bersumpah

Kepemimpinan Anies-Sandi di DKI Jakarta memberi warna baru bagi kancah perpolitikan . Warna baru yang paling mencolok adalah kehebohan gerak-gerik dan komentar-komentar mereka berdua. Bukan dari kebijakan-kebijakan yang mereka rencanakan dan akan mereka laksanakan.

Penulis mencatat kehebohan pertama yang dibuat oleh duo ini adalah ketika Sandiaga Uno berpose seperti burung bangau. Walaupun sebetulnya jarang juga ditemukan di dunia nyata bangau bergaya seperti itu.

Lalu, yang lebih menghebohkan lagi adalah ketika Anies Baswedan berpidato setelah pelantikannya sebagai Gubernur DKI yang baru. Ajektiva ‘’ seakan-akan menjadi bom nuklir yang tiba-tiba meledak menggelegar seantero Indonesia. Padahal ‘bom’ ini cuma dijatuhkan di Jakarta. Namun dampaknya seperti bergetar hingga ke pelosok Indonesia.

Ramai lah semua lini masa di media sosial membahas kepribumian yang disuarakan oleh Anies Baswedan. Warga seakan-akan mengerti bahwa maksud ‘pribumi’ di sini membandingkan gubernur sebelumnya yang dianggap berasal dari non-pribumi karena berasal dari etnis tionghoa. Anies pun berkali-kali mengelak bahwa ia ingin menampilkan kesengsaraan yang dialami oleh kaum pribumi pada masa penjajahan Belanda dulu.

Menurut penulis, komentar Anies ini sangat berlawanan dan kontraproduktif dengan semangat Sumpah yang disuarakan oleh para pemuda 17 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda yang mengutamakan persatuan nasional di seluruh wilayah di Indonesia tanpa memandang asal muasal keturunan mereka.

Kondisi bangsa Indonesia sebelum ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan pertama kali masih terkotak-kotak. Indonesia pada masa itu masih sulit terlepas dari dampak kombinasi strategi politik Devide et Impera yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-15.

Mohammad Yamin lah yang memiliki peranan penting dalam merumuskan puisi “Ikrar Pemoeda” yang kemudian berubah menjadi “Soempah Pemoeda” pada Kongres Pemuda ke-II pada 28 Oktober 1928, yang isinya:

“Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia mengdjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.”

Sumpah di atas menjadi pertanda lahirnya sebuah bangsa baru yaitu Bangsa Indonesia. Bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa daerah. Persatuan menjadi suatu impian dan cita-cita yang sepertinya masih angan-angan, pada waktu itu, karena sulitnya menyatukan prinsip dan perjuangan secara nasional untuk memerdekakan Indonesia. Persatuan yang menjadi cikal bakal kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta 17 tahun kemudian.

Perjuangan pemuda 89 tahun yang silam tentu tidak boleh kita lupakan dan kita anggap usang. Tak perlu lah kita memandang nasionalisme seseorang dengan membedakan asal usul keturunan. Asalkan ia memiliki semangat perjuangan untuk mengutamakan kepentingan bangsa.

Selain itu, terdapat pula penelitian yang mengungkapkan asal usul bangsa Indonesia yang berasal dari Yunan, China (Van Heine Geldern dan Drs. Moh. Ali). Ada pula yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa Mikronesia, Polinesia, dan Melanesia karena kemiripan bahasanya (Prof. Dr. H. Kern).

Lalu, yang manakah yang bisa disebut sebagai ‘pribumi’ Indonesia? Manakah yang lebih pantas merasa lebih Indonesia dari yang lain? Atau, apakah sebaiknya kita tak perlu mempermasalahkan siapa yang lebih Indonesia dan siapa yang kurang Indonesia?

Ernest Douwest Dekker atau dikenal juga Danudirja Setiabudi merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia dan termasuk ke dalam daftar pahlawan Indonesia. Tentu tak bisa kita singkirkan darah Belanda yang mengalir di tubuhnya. Douwest Dekker tak pernah berpikir bahwa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia hanyalah datang dari bangsa pribumi sendiri.

Ia pun menunjukkan perjuangannya untuk membela hak-hak bangsa Indonesia dengan pergerakannya di bidang jurnalistik dan organisasi politik Budi Utomo dan Indische Partij. Akibat kritik kerasnya kepada pemerintah Belanda, ia pun harus mengalami pengasingan di Suriname pada tahun 1941.

Melihat kiprah Douwes Dekker di atas seharusnya membuat kita menyadari bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak perlu memandang siapa leluhur kita. Warga keturunan Portugis di Aceh dan Maluku, warga keturunan India dan Arab di Medan, warga keturunan Tionghoa di Jawa dan pesepakbola naturalisasi dari Argentina dan Uruguay, tak perlu merasa kecil untuk merasakan nikmatnya nasionalisme Indonesia.

Al-Quran sendiri menyebutkan dalam surat Ar-Rum:22:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Tuhan sendiri sudah menciptakan kita berlain-lainan baik di dalam satu negara sekali pun. Lalu di antara itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui. Bagi yang belum mengetahui, apakah akan berdiam diri dalam ketidaktahuan? Atau bersikap bijaksana dengan mengedepankan persatuan nasional dengan tanpa membedakan mana pribumi mana non-pribumi?

Maka, janganlah menuhankan egoisme kebangsaan sendiri. Yang penting, yang merasa bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Yang sedang berdiaspora atau yang cukup bangga menjadi Indonesia dengan berbatik ria, punya hak yang sama untuk merasa berbangsa Indonesia. Salam Sumpah Pemuda.

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad

Tinggalkan komentar