Opini

Protes di Gaza: Israel Semakin Brutal

gaza

Pengadilan Internasional (ICC) baru-baru ini menyerukan supaya menghentikan kekerasan yang mereka lakukan di . Namun, sepertinya tak akan menggubris seruan ini bahkan terus melakukan serangan.

Sudah dua pekan ini, ribuan warga Palestina melakukan protes di jalur Gaza. Mereka berharap dapat kembali menempati rumah mereka yang terpaksa mereka tinggalkan karena Israel menduduki wilayah ini. Beberapa sumber mengatakan bahwa warga Palestina melakukan aksi ini tanpa membawa persenjataan apapun. Bahkan mereka datang dalam keadaan damai.

Menganggap aksi tersebut sebagai ancaman, sejumlah tentara Israel tidak hanya melakukan tembakan terarah tapi juga melemparkan gas air mata terhadap para demonstran. Akibatnya, 31 warga Palestina tewas dan tidak kurang dari 1.400 mengalami luka-luka (9/34).

Israel seakan-akan memiliki kebebasan bertindak apapun yang mereka inginkan. Bahkan mother country mereka, AS, selalu terlihat diam bahkan mendukung apapun tindakan yang diambil oleh Israel. AS jarang sekali mengecam tindakan kekerasan Israel terhadap Palestina kecuali Presiden ke-44 AS, Barrack Obama, yang mengecam pembangunan pemukiman Yahudi yang diajukan Israel di sidang PBB pertengahan Desember 2016 silam.

Tidak ada kata lain selain kata ‘brutal’ atas apa yang dilakukan Israel terharap warga Palestina. Krisis kemanusiaan terus melanda sejak Deklarasi Balfour pada tahun 1917 yang mendukung pembentukan “rumah bagi orang Yahudi” di Palestina. Hingga pada tahun 1948, deklarasi ini digunakan oleh zionis Israel untuk melakukan penjajahan di Palestina hingga menggerogoti hampir seluruh wilayah Palestina sampai sekarang.

Gaza merupakan wilayah terbesar yang dimiliki Palestina dan wilayah ini masih terus mendapat penjagaan ketat bahkan serangan oleh Israel. Aksi damai dilakukan oleh warga Palestina yang terusir dari tanah mereka sendiri merupakan hak yang harus dijaga oleh Israel dan dunia.

Namun, Israel justru terus melakukan kejahatan dengan menyerang warga Palestina hingga menewaskan mereka. Bahkan Sabtu lalu (7/4), salah seorang jurnalis Palestina bernama Yasser Murtaja (30)  turut menjadi korban tewas tertembak oleh tentara Israel saat meliput aksi damai ini.

di Tangan Pemimpin

Suara keras dikumandangkan PM Turki Recep Tayyip Erdogan dengan mengatakan Israel sebagai negara teror dan Netanyahu seorang teroris. Bukan kali ini saja Erdogan memberi komentar pedas terhadap Israel mengenai kekejaman terhadap warga Palestina. Sebelumnya, Erdogan pernah berkomentar keras kepada Shimon Peres di Forum Ekonomi Dunia Davos 2009.

Dalam forum diskusi tersebut, Erdogan meradang dengan mengatakan serangan udara Israel di  pemukiman Palestina merupakan suatu kesalahan dan banyak orang telah terbunuh. David Ignatius, jurnalis Washington Post, yang pada saat itu menjadi moderator beberapa kali menghentikan Erdogan, hingga akhirnya Erdogan marah dan walk out. Setelah kejadian tersebut, beberapa warga Turki mengibarkan bendera Turki dan Palestina untuk menyambut kepulangan Erdogan bak pahlawan di Bandara Attaturk.

Sayangnya, pembelaan terhadap warga Palestina tak pernah dilakukan oleh negara jazirah Arab. Bahkan, Arab Saudi selalu diam selama penjajahan yang dilakukan Israel di Palestina. Arab Saudi justru sibuk melakukan serangan terhadap Iran dan Yaman yang dianggap mengusik negara mereka. Juga blokade terhadap Qatar yang dituduh mendukung terorisme di dunia.

Salah satu negara tedekat Palestina, Mesir, tak menunjukkan dukungan penuh terhadap Palestina. Mesir pimpinan Abdel Fattah El-Sisi terlihat mendukung gerakan ‘perdamaian’ Benjamin Netanyahu dengan mengatakan “Kita bersamamu” yang ditujukan kepada Israel ketika ia berpidato di sidang PBB di New York pada September tahun lalu.

Pada kenyataannya, Netanyahu tak pernah berupaya untuk mendamaikan situasi yang terus memburuk di Israel. Malah, Netanyahu mendapat dukungan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel beberapa bulan setelah sidang PBB bersama Mesir.

Dukungan terhadap Palestina justru datang dari Uni Eropa yang mempertanyakan serangan yang dilakukan IDF (tentara pertahanan Israel) terhadap pemrotes di perbatasan Gaza. Menlu Prancis pun mengatakan serangan ini sebagai “serangan sembarangan”.

Ketika dukungan justru datang dari luar jazirah Arab, ini sangat menggelitik karena kepedulian negeri Timur Tengah sangat dipertanyakan mengenai Palestina. Kasus kemanusiaan luar biasa ini seharusnya mendapat perhatian serius dari mereka yang memiliki pengaruh besar terutama Arab Saudi. Saling tikam yang terjadi di Timur Tengah terhadap Qatar menandakan mereka berkotak-kotak dan tidak bersatu.

Kondisi ini tentu memperburuk pandangan dunia mengenai persatuan umat Islam di Timur Tengah. Seharusnya Arab Saudi sebagai salah satu negara terkuat di Timur Tengah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan warga Palestina serta mendukung kedaulatan negaranya. Namun, perjuangan ini tidak mereka lakukan.

Muhammad bin Salman sebagai pangeran Arab Saudi belum menunjukkan keseriusan terhadap perdamaian di Palestina walaupun ia seperti ingin menunjukkan wajah Arab Saudi yang moderat. Arab Saudi dan negara Arab lain harus mengambil sikap serius untuk menghentikan aksi kekerasan di Gaza sekarang ini. Jika tidak, mungkinkah mereka memang tega membiarkan warga Palestina mati sia-sia?

Sumber:

https://www.aljazeera.com/news/2018/04/icc-prosecutor-calls-israeli-violence-gaza-180408165010535.html

https://www.aljazeera.com/news/2018/04/palestinians-protesting-israeli-gaza-border-180406165449839.html

https://www.aljazeera.com/indepth/features/return-lands-bloodshed-bombs-180330170242175.html

https://www.theguardian.com/world/2018/apr/06/time-for-peaceful-resistance-says-gazas-new-movement

https://www.timesofisrael.com/eu-says-gaza-deaths-raise-serious-questions-about-israels-use-of-force/

https://www.nytimes.com/2016/12/23/world/middleeast/israel-settlements-un-vote.html

https://www.haaretz.com/israel-news/erdogan-hits-back-netanyahu-is-a-terrorist-israel-a-terror-state-1.5963819

https://www.theguardian.com/world/2009/jan/30/turkish-prime-minister-gaza-davos

https://www.middleeastmonitor.com/20170920-egypts-sisi-to-israel-we-stand-with-you/

Sumber Gambar: https://www.nytimes.com/2018/03/30/world/middleeast/gaza-israel-protest-clashes.html

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad