Akhlaq Faḍi'l-Lāh Facebook

Puasa dan Selera Makan Kita

ASUMSI kita tentang bagaimana kita menciptakan gambaran “berbuka puasa” kita sudah menabrak tujuan dari puasa itu sendiri.

PUASA tahun ini saya lewati di sebuah kota di Nusa Tenggara Timur. Yah, tepatnya di kota Ende, sebuah kota, tempat lahirnya Pancasila. Memang tak seramai di Jawa sana. Tapi, sore hari menjelang berbuka tetap sama gambarannya seperti di tempat-tempat lain di negeri ini. Bermunculan para penyedia sajian berbuka yang muncul setahun sekali. Ada juga pemain lama. Yaitu, mereka yang biasa buka pagi, tapi di bulan Ramaḍān (Ramadhan) mereka buka sore.

Di kota ini, sajian berbukanya memang tak serumit dan tak sevariatif di Jawa sana. Tapi, itupun sudah membuat suasana Ramadhan menjadi semarak. Sudah terdapat indikasi bahwa ada fenomena Ramadhan di kota ini.

Saya cuma mau memberikan sebuah gambaran bahwa kita perlu sesuatu yang spesial untuk merayakan keberhasilan kita menahan lapar dan haus (tidak perlu terlalu jauh dulu hingga kepada aspek-aspek lain, semisal marah, syahwat juga dosa-dosa lain yang perlu ditahan). Kita merasa pantas untuk mendapatkan sajian berbuka yang spesial (tentu spesial sesuai kemampuan kita). Dan semua ini terjadi begitu saja tanpa kita sadari, tanpa kita harus merenung terlebih dahulu. Apakah kita bisa menyebutnya sebagai ‘naluri’? Saya khawatir istilah ‘naluri’ dapat menabrak batas-batas kesantunan beragama kita.

Fenomena ‘buka bersama’ sudah menjadi kegiatan wajib di bulan Ramadhan. Tentu, bukan ‘bukber’ di rumah, tapi di tempat-tempat tertentu yang saat bulan Ramadhan tiba tempat-tempat tersebut menjamur dimana-mana. Momen Ramadhan memang momen yang dinilai bagus untuk menjalin tali ‘silaturahmi’ dengan teman lama, teman sekantor, maupun keluarga sendiri. Suasana hangat tercipta. Lapak-lapak lesehan digelar. Menu-menu spesial terhidang. Lalu, obrolan-obrolan ringan menjadi pengantar menuju bedug magrib.

Kita merasa berhak atas suasana yang spesial seperti ini. Suasana yang jarang sekali didapat. Suasana ini adalah sebuah anugerah atas keberhasilan kita menahan lapar dan haus. Itulah asumsi umum kita. Tak masalah berapapun biaya yang keluar. Ia jauh lebih mahal dan tak ternilai dengan rupiah yang kita miliki. Kalau boleh saya bertanya, apakah semua ini lahir dari ‘naluri’ manusiawi kita? Atau dari kesalehan kita tentang konsep “berjamaah”?

Saya mau katakan kepada diri saya juga Anda yang berpuasa bahwa kita semua sudah keliru. Kita tengah masuk dalam pengaruh naluri-naluri manusiawi kita saat berpuasa. Asumsi kita tentang bagaimana kita menciptakan gambaran “berbuka puasa” kita sudah menabrak tujuan dari puasa itu sendiri.

Apakah kita berpuasa hanya untuk memenuhi selera makan kita yang telah bermetamorfosis menjadi lebih buas? Seharian kita berlelah-lelahan, menahan godaan gambar-gambar makanan yang sempat kita lihat di televisi atau beranda FB kita. Itu baru gambar loh. Belum lagi saat istri atau ibu atau pembantu, masak di sore hari. Bau bawang yang ditumis saat itu terasa sangat berbeda, seakan-akan ia tengah menghujam pertahanan paling akhir dari puasa kita. Lalu, terbentuklah titik-titik air di mulut, yang cuma bisa kita telan bersamaan dengan aroma tumisan bawang tersebut.

Lalu terbentuklah sebuah niatan tentang upaya “balas dendam” atas rasa lelah yang menyerang. Dalam otak kita sudah tercipta sebuah strategi berbuka yang paling ideal. Pertama, saya harus minum es buah, lalu kolak, lalu gorengan lengkap dengan cabe rawitnya, lalu, lalu dan lalu. Terpotong oleh ṣalāt (shalat) magrib, strategi lanjutan pun tercipta saat tengah shalat magrib. Nasi dengan ayam goreng, lengkap dengan sambal dan lalapan, kerupuk tak boleh ketinggalan, juga es teh manis. -pikiran ini terus menghantui kita. Naluri hewaniah kita mulai menguasai raga kita yang tengah diterjang rasa lapar.

Rasul-kita saw. pernah bersabda begini, “Bagi orang yang berpuasa ada dua , ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya.”

Secara sepintas, kata-kata “kebahagian ketika berbuka” tertuju kepada nikmat-nikmat . Saya tak mau berasumsi bahwa kesimpulan itu lahir di bawah tekanan rasa lapar. Tapi, naluri manusiawi kita mengatakan realitas yang tengah ia hadapi. Itu hak Anda kalau mau memaknai hadits tersebut sebagai kebahagian lahiriyah.

Tapi, apa hubungannya antara kebahagian lahiriyah tersebut dengan “kebahagian ketika bertemu Rabb-nya”? Apa iya kedua kebahagian ini berbeda dimensi? Yang pertama fisik yang kedua ghaib? Atau Anda mau memaknai kebahagian kedua juga secara lahiriyah? Musa a.s. saja mustahil untuk melalukannya, lalu apalah kita ini yang cuma sekedar tangkai cabe rawit pelengkap bala-bala saat berbuka.

Kebahagian ketika bertemu Rabb-nya memiliki makna yang begitu batini. Perlu sebuah pra kondisi yang khusus. Perlu sebuah penghayatan yang mendalam untuk menghadirkan Rabb saat berbuka. Dalam sejarah nabi-nabi Allāh dan orang-orang suci zaman dulu, cara menghadirkan Rabb adalah dengan merasakan keperihan yang mendalam. Keperihan tersebut hanya bisa diraih ketika tak ada lagi tempat bergantung kecuali Dia.

Pertanyaannya adalah apakah Dia bisa hadir di tengah-tengah makanan enak yang disiapkan untuk perut-perut yang merasa telah teraniaya sejak pagi? Dan saat berbuka adalah saatnya untuk balas dendam. Atau Dia bisa hadir di tengah-tengah kumpulan manusia yang terlibat dalam obrolan tak tentu arah, lalu saat berbuka hatinya tak resah bahwa ia belum shalat magrib? Malah, hingga magrib habis keresahan itupun tak kunjung datang.

Saya tidak punya sentimen tertentu dengan makanan enak atau pun dengan konsep bukber yang sedang “ngetrend”, tapi saya cuma mau katakan bahwa pernah bersabda tentang tiga orang yang doanya tidak mungkin ditolak salah satunya “Aṣ-ṣā’imu ḥattā yufṭiru”—yakni, “orang yang berpuasa ketika ia berbuka.” Tidakkah kita mempunyai harapan-harapan tentang di dunia dan hingga kita merasa bahwa berdoa adalah tempat bergantung satu-satunya untuk meraih semua itu?

Saya khawatir kita tidak butuh semua itu. Kita beranggapan bahwa hidup kita sudah baik kok. Tidak perlu meng-“hiperbolis”-kan bulan Ramadhan sebagai satu-satu jalan menuju kebahagiaan, itu adalah pemikiran yang lebay. Happy fine aja, selama kita masih bisa menahan diri dari lapar dan haus, itu lebih dari cukup.

Itu hak Anda untuk mempunyai pemikiran yang sederhana semacam itu. Allāh pun tak merasa dirugikan dengan minat Anda terhadap puasa sebagai sebuah proses pengguguran kewajiban, atau sebagai momen untuk mempererat pertemanan di antara sesama muslim, meski Dia berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Puasa ini untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan mengganjarnya.”

Anda tahu “olimpiade”? Ajang olahraga internasional empat tahunan yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga di musim panas dan musim dingin. Adalah sebuah kebanggaan bisa turut serta dalam ajang ini, meski cuma jadi peserta. Tapi, kebanggaan paling tinggi adalah saat bendera kebangsaan dikibarkan lalu orang-orang beramai-ramai menyanyikan lagu kebangsaannya. Yah, menjadi juara adalah kebanggaan paling menakjubkan.

Dan Allāh menjadikan bulan Ramadhan serupa dengan olimpiade. Ajang untuk berkompetisi meraih prestasi paling tinggi. Untuk prestasi-prestasi duniawi yang tak mampu memberi kepastian tentang kehidupan lebih baik saja kita berupaya mati-matian mencapainya. Lalu, apakah kita menganggap bahwa Allāh tak mampu memberi kepastian tentang kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat untuk para pemenang Ramadhan? Kalau itulah yang sedang Anda pikirkan, betapa lemah Tuhan yang Anda miliki.

Gitu aja sihhh..
Mudah-mudahan ‘gak pada baper…

 

_
Facebook.com « tautan asal

 

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar