Opini

Puisi Sukmawati, Ujian Pendewasaan Bagi Umat Islam

puisi sukmawati
Penulis Amatul Shafi

Setahun berlalu sejak mencuatnya rekaman pidato Ahok yang menyinggung soal Al-Maidah ayat 51  hingga menjadi polemik dan berakhir di balik jeruji. Baru-baru ini umat Islam kembali digegerkan oleh dugaan penistaan agama Islam lewat viralnya yang dibacakan .

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari dirimu

….

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok

Lebih merdu dari suara azanmu

Itulah penggalan bait puisi karya Sukmawati yang menuai kontroversi, protes, kecaman, dan berbuntut pada tuntutan hukum. Beberapa orang menilai, persepsi Sukmawati dalam puisi adalah sebagai seorang budayawati pribumi yang uzur akan syariat Islam.

Dalam klarifikasinya ia mencoba menyuarakan kaum marhaen yang kebanyakan non-muslim yang menurut penulis, tidak paham makna syar’i azan dan cadar sehingga hanya menilai keindahannya dari penginderaan. Secara polos, meminta kita mengakui bahwa tak semua muazin yang mengumandangkan azan terdengar merdu, tak semua setuju keindahan estetis dari cadar. Akan tetapi, ia menyatakan tidak ada niatan menghina syariat Islam.

Memang dalam ketidaktahuan, alangkah bijaknya jika seseorang untuk tetap diam, namun keberaniannya mengemuka atau lebih tepat dibilang nekat, agaknya didorong oleh keresahannya terhadap gelombang Arabisasi yang menggeser budaya asli nusantara.

Bisa jadi pula Sukmawati membacakan puisi itu memang karena kurang sensitif menilai fenomena sosial yang tengah berkembang di masyarakat sekarang sehingga ia gagal memperkirakan dampak sosial puisinya bila dibacakan di ruang publik.

Entah mana yang benar motifnya dan apa makna puisi itu sesungguhnya, sebagai orang yang disangkakan bersalah, ia telah memenuhi kewajibannya untuk mengakui kesalahan, menunjukkan rasa penyesalan dan meminta maaf.

Lantas, yang jadi persoalan sekarang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap atas pernyataan maaf tersebut?

Kasus puisi Sukmawati ini memang membuat banyak umat muslim baper, geram, dan tersinggung. Tersinggung boleh saja, namun kita bisa memilih agresivitas tersebut akan disalurkan menjadi sebuah proyeksi pada pelaku atau disublimasi secara konstruktif.

Sebagian tokoh ulama muslim kali ini berhasil menampakkan kearifan dimana pihak lain masih bertabiat primitif dan kekanak-kanakan. Segerombolan umat Islam lagi-lagi dengan sangar melayangkan tuntutan demi tuntutan tanpa menghiraukan permohonan maaf Sukmawati.

Dulu Ahok pun meminta maaf. Baiklah dengan Ahok yang non-muslim yang dengan lantang disebut kafir, mereka tak mau kompromi. Betapapun analisa logis, fakta persidangan, berbagai saksi dan ahli memberi pembelaan, walhasil keadilan hukum tetap tunduk pada tekanan massa. Sementara pada Sukmawati, seorang yang beragama Islam, mereka tetap berkeras hati.

Mereka, yang membuat laporan polisi mengatasnamakan umat Islam secara general, tetap mendesak proses hukum dijalankan sekalipun Ketua Umum MUI—yang dianggap Islam mayoritas sebagai representasi resmi umat dan ulama Islam di Indonesia—sudah mengisyaratkan agar rujuk.

Semestinya bila seorang muslim benar dalam menjalankan syariat agamanya maka watak yang tampil adalah pribadi yang suka damai, bukan yang gemar memperpanjang masalah dan bikin onar. Sebagaimana peringatan yang disampaikan pimpinan PA 212 yang secara tak langsung mengancam akan membuat kegaduhan bila kasus ini tidak segera diselesaikan dengan target Sukmawati ditahan.

Reaksi yang berlebihan dengan amarah ini sungguh menggambarkan kepribadian massa Islam yaNG tidak dewasa. Pemberian maaf adalah kemampuan moral. Apabila dengan maaf akan menimbulkan sebuah perbaikan perilaku maka ia layak dimaafkan. Moral welas asih ini jelas disampaikan dalam Firman-Nya:

“Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal, 8:2)

“Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka engkau pun cenderung pulalah kepadanya.” (QS. Al-Anfal, 8:62)

“Dan apabila mereka melalui sesuatu hal yang sia-sia (laghw), mereka berlalu dengan sikap yang agung.” (QS. Al-Furqan, 25:73)

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang sebaik-baiknya. Dan tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang kental.” (QS. Ha Mim As-Sajdah, 41:35).

Imam zaman ,Imam Mahdi telah mengintepretasikan ayat-ayat di atas dengan sangat gamblang dan menyejukkan bahwa hamba-hamba Allah yang shalih berjalan di muka bumi dengan rukun (hawn). Tanda hidup rukun ialah mengabaikan perbuatan-perbuatan menyakiti yang sia-sia (laghw) yang pada hakikatnya tidak mendatangkan suatu kerugian dan kemudaratan bagi si penderita kemudian menerapkan perilaku yang mulia.

Tetapi jika perbuatan menyakiti itu tidak sebatas laghw malahan benar-benar mendatangkan kerugian jiwa, harta atau kehormatan, maka akhlak rukun tidak ada kaitannya dengan itu, melainkan apabila dosa semacam itu diampuni maka akhlak tersebut dinamakan ‘Afw. Jika ada orang yang  karena nakalnya mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh maka hendaknya membalas dengan sikap rukun melalui cara yang baik, maka dengan demikian musuhpun akan menjadi kawan.

Mengenai maaf (‘Afw) dijelaskan ada tiga tingkatan. Pada tahap pertama, seorang mukmin bila disakiti ia menekan atau mengekang kemarahannya. Pada tahap kedua, ia maju selangkah lagi dan memberi maaf dan ampunan tanpa syarat kepada si pelanggar. Pada tahap ketiga, ia bukan saja memberi ampunan sepenuhnya kepada si pelanggar, tetapi ia juga melakukan kebaikan tambahan padanya dan memberinya suatu anugerah.

Ketiga tahapan ini—menahan amarah, pengampunan, dan berbuat baik telah dilukiskan dengan indah oleh suatu peristiwa dalam kehidupan Hadhrat Imam Hasan, putra Ali r.a. dan cucu Rasulullah SAW. Seorang budaknya pada sekali peristiwa membuat satu kesalahan, Hadhrat Imam Hasan sangat marah dan hampir menghukumnya.

Seketika itu si budak membacakan bagian pertama ayat Ali-Imran: 134, yaitu “Mereka yang menahan amarah.” Mendengar kata-kata itu Hadhrat Hasan menarik tangannya. Kemudian budak itu membacakan kata-kata “dan yang memaafkan manusia.” Mendengar perkataan itu Hadhrat Hasan dengan serta merta memaafkannya.

Kemudian budak itu membacakan “dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Oleh karena patuhnya kepada perintah Ilahi, hati Hadhrat Hasan sangat terharu dibuatnya sehingga beliau segera memerdekan budak itu.

Seseorang dikatakan melakukan sifat ‘afw bila ia menghapuskan sama sekali dari pikirannya, atau sama sekali melupakan dosa-dosa atau pelanggaran terhadapnya yang dilakukan oleh orang lain.Bahkan hingga tingkat pertama dari sifat ‘Afw ini pun, mereka, gerombolan pemarah itu tak sampai.

Jangankan berlapang dada memberi ‘Afw, sedikitpun mereka tak menunjukkan niat untuk hawn. Meski sejak di bait pertama Sukmawati mengungkapkan keuzurannya yang jika hendak ditinjau secara ushul fiqih menjadikannya cacat hukum.

Bila memang murni tuntutan hukum tetap dilanjutkan atas dasar bela Islam, bela syariah, mengapakah pada Sukmawati seorang muslimah pun gerombolan ini tak juga melunak? Mengapa pula langkah yang diambil adalah menuntut menggunakan hukum pidana ciptaan manusia?

Mengapa bukan dengan syariat Al-Quran—seperti paparan di atas—perkara ini diselesaikan sebagaimana tajuk aksi bela syariat yang digaung-gaungkan? Sebesar apa kerugian yang ditimbulkan oleh Puisi Sukmawati pada umat Islam, apakah melebihi laghw, yang mana menimbulkan kerugian jiwa dan kehormatan?

Jikapun merugi sedemikian rupa, gerombolan yang mengaku diimami oleh ulama warisatul anbiya ini semestinya benar-benar mewarisi teladan budi pekerti Nabi Muhammad SAW. Kesempuraan moral beliau mengejawantah dengan berkilau pada momen Fathu Mekah. Kita tahu tidak ada kesusahan yang tidak ditimpakan Abu Jahal dan konconya kepada Rasulullah SAW. Beliau dan para pengikut beliau dianiaya begitu keras.

Wanita-wanita Islam yang malang dikaitkan pada unta dan unta-unta itu dilarikan ke arah yang berlainan; merobek tubuh-tubuh wanita Islam itu. Namun ketika Mekah takluk, ketika beliau memiliki kekuatan untuk memperlakukan mereka sekehendak hati, beliau memperlihatkan kemurahan hati yang luarbiasa. Rasulullah mendidik kesabaran dan beliau memaafkan mereka semua dengan mengatakan, “La tashriba ‘alaikumul yaum.”

Dikisahkan dalam hadits shahih yang ditakhrij oleh Abu Daud: 501. An-Nasâi: 2/827. Ahmad: 3/408. Ad-Dâruquthni: 68. Dan Al-Baihaqi: 1/392, disarikan dari hadits Ahmad nomor 14835 tentang seorang sahabat Nabi bernama Abu Mahdzurah yang mencaci suara azan. Abu Mahdzurah yang sedang menggembalakan kambing bersama beberapa anak kaum musyrikin dan beberapa anak keturunan Quraisy berpapasan dengan rombongan Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang hendak beranjak meninggalkan Hunain.

Tiba waktu zuhur, Rasulullah berhenti untuk mengerjakan shalat. Beliau pun memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk mengumandangkan azan. Ketika azan dikumandangkan di hadapan kaum muslimin, Abu Mahdzurah meniru azan di hadapan kambing gembalaannya dengan maksud mengolok-olok.

Mendengar itu, Rasulullah SAW meminta Ali dan Zubair untuk mendatangkan pemilik suara tersebut. Lalu keduanya pergi ke balik gunung dan berhasil menangkap sekelompok orang di sana, kemudian membawa mereka ke hadapan Rasulullah SAW. Bukan malah ingin menangkapnya, beliau mengajari dan menyuruh Abu Mahdzurah untuk mengumandangkan azan. Ternyata Abu Mahdzuroh mampu mengumandangkan azan dengan merdu.

Seusainya, Rasulullah SAW tidak langsung meminta Abu Mahdzurah pergi, beliau menghadiahkannya sebuah bingkisan perak. Tidak hanya itu beliau juga mengusap kepala, wajah dan dada Abu Mahdzurah seraya berdoa, “Barakallahu Fika wa Baraka ‘alaika.” Seketika itu rasa bencinya berubah menjadi rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan ia pun mengucap kalimat syahadat. Jelas sudah bagaimana sunnah Nabi memperlakukan seorang yang terang-terangan menghina azan.

Dan janganlah kamu menjadikan Allah sasaran bagi sumpah-sumpahmu supaya kamu terhindar dari berbuat kebaikan, berlaku taqwa, dan mengadakan perbaikan di antara manusia.”(QS. Al-Baqarah 2: 224)

Sungguh suatu perbuatan fasik kalau berani mencatut nama Allah (tentu juga agamanya) untuk menjauhkan diri dari kebajikan. Maka tak pelak ada yang memprasangkakan tuntutan hukum terhadap Sukmawati ini bukanlah untuk bela Islam, tapi maksud di balik batu yang dilempar ini adalah upaya balas dendam atau titik tawar bagi umat yang mengaku Islam dengan pimpinan Rizieq Shihab, agar ia pun terlepas dari jeratan hukum sejumlah kasus.

Ataupun sekaligus ingin memperkeruh suasana dan memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali membangkitkan sentimen agama guna kepentingan Pilkada dan Pilpres yang akan datang.

Oleh karenanya, alih-alih marah, mengutuk, dan menuntut, seharusnya kita bersyukur atas peristiwa ini. Adanya Ahok dan Sukmawati menjadi ujian pendewasaan bagi kita umat muslim untuk meningkatkan ketaqwaan. Justru cara kita membalas sentilan puisi Sukmawatiialah dengan melakukan refleksi diri.

Benarkah penghayatan agama kita sebegitu kaku sebatas simbol cadar dan azan? Buktikan kita bukan tengah terlena dalam euforia keagamaan yakni dengan hati yang lapang memberi maaf dan mengedepankan semangat perdamaian.

Sumber Gambar: https://www.liputan6.com/news/read/3423800/sesali-puisi-sukmawati-guntur-anak-sukarno-dididik-sesuai-ajaran-islam

Tentang Penulis

Amatul Shafi