Opini

Putusan Mahkamah Konstitusi, Kifarat dan Tawakkal Ilallah

mahkamah konstitusi

Tiga jam sebelum Mahkamah () memutuskan pengujian Undang-Undang atas UU No. 1/PNPS/1965[1] yang diajukan beberapa Ahmadi, Jemaat Jakarta Utara melaksanakan pemotongan dua ekor hewan kurban sebagai kifarat. Kami hanya satu dari sekian banyak Jemaat Lokal yang telah melakukan hal serupa.

Kifarat atau sedekah ini sebagai sebuah doa dan harapan agar Allah Ta’ala menganugerahkan “takdir” terbaik-Nya untuk Jamaah Muslim Ahmadiyah di Indonesia. Takdir terbaik tidak berarti harus berpihak pada Jamaah Muslim Ahmadiyah. Bisa saja sebaliknya, bahkan lebih buruk. Sebab, Tuhan selalu mempunyai cara ajaib untuk membuat kita lebih kuat, taat dan besar.

Pada 1974, saat itu Jamaah Muslim Ahmadiyah di Pakistan mulai mendapat diskriminasi secara konstitusional.[2] Dikeluarkannya amandemen yang membatasi definisi “Muslim” membuat Jemaat digolongkan sebagai non-Muslim. Yang terjadi setelahnya adalah gelombang persekusi meningkat.[3] Mereka yang tergabung dalam gerakan anti-Ahmadiyah serasa memiliki legal formal untuk menghancurkan Jemaat, dengan spirit bela agama sekaligus bela konstitusi.

Jamaah Muslim Ahmadiyah ke-III r.h. dengan segera merespon. Beliau r.h. mendatangi Parlemen Pakistan, lalu menerangkan berbagai hal terkait dengan definisi juga seputar akidah Jamaah Muslim Ahmadiyah. Apa yang Jamaah Muslim Ahmadiyah sampaikan sudah sangat komprehensif, berdiri di atas pondasi teks-teks yang otoritatif, tak terbantahkan, dan mampu membungkam mereka yang mencap Ahmadiyah sebagai di luar .

Apakah persekusi dan intimidasi selesai setelahnya? Faktanya, eskalasinya justru meningkat. Sepuluh tahun setelah ordonansi pertama keluar, lima ordonansi menyusul. Tidak hanya membuat lebih spesifik ke-non-Islam-an Jamaah Ahmadiyah, tapi juga mulai membatasi kegiatan-kegiatan.

Tentu kita bertanya-tanya, mengapa keadaan Jamaah Muslim Ahmadiyah makin tak kondusif di Pakistan, padahal ada Huzur di tengah-tengah mereka? Jawabannya, Tuhan mempunyai kehendak agar Jamaah ini makin besar dan tersebar ke seluruh dunia. Cuma, untuk ke arah sana butuh pengorbanan yang luar biasa hebatnya. Mustahil kemajuan dimulai tanpa pengorbanan. Bahkan untuk kedatangan seorang Nabi, Sang Khootamul-Anbiya, dibutuhkan pengorbanan berupa wujud seorang anak yang paling dicintai.

Menggunakan konstitusi untuk menghentikan laju perkembangan Jamaah Muslim Ahmadiyah menemui jalan buntu. Sudah banyak anggota yang ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh, angka mereka yang bai’at masuk ke dalam Jemaat justru terus meningkat. Akhirnya, dimulailah rencana jahat untuk “memenjarakan” Khalifah. Sebab, tidak ada efeknya memenjarakan anggotanya. Lalu dibuatlah aturan baru yang memungkinkan Khalifah bisa ditangkap dan dipidanakan.

Para intelijen mulai datang silih berganti ke Rabwah, terutama di hari Jumat. Mereka berharap Khalifah berdiri di atas mimbar, membacakan syahadat, lalu mereka langsung bisa membekuk beliau. Sayangnya, dalam beberapa Jumat, Huzur tidak naik ke mimbar. Beliau terlihat hanya memimami shalat.

Keadaan di Pakistan sudah semakin parah. Khalifah sangat dibatasi gerak-geriknya. Padahal, kata-kata Khalifah adalah mata air samawi bagi warga Jemaat di seluruh dunia. Dalam situasi seperti ini, diputuskanlah, Khalifah harus hijrah London. Tapi, Khalifah berkenan hijrah dengan cara biasa.

Tidak boleh ada permainan dan tipuan di dalamnya. Tiap detik, Panitia pengawal kepindahan Khalifah merasa was-was, sampai-sampai tidak bisa tidur. Iringan do’a dan shalawat selalu dipanjatkan. Begitu juga para Ahmadi yang mengetahui rencana kepindahan beliau ini. Sebab, yang bisa diandalkan pada saat itu adalah do’a. Tidak ada yg lain. Kita tidak bisa membayangkan, beliau pergi dengan paspor bernamakan Mirza Tahir Ahmad. Berpakaian pun tidak berubah. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Sementara pemerintah sudah menutup akses bagi Khalifah ke luar negeri.

Di tengah suasana yang sulit itu, pertolongan Ilahi datang. Beliau bisa keluar dari Pakistan dengan selamat. Bahkan, tidak lama setelah beliau tiba di London, Zia ul Haq tewas secara mengenaskan di pesawat udara pada tanggal 18 Agustus 1988.[4] Dan kita tahu setelahnya, perkembangan Jamaah Muslim Ahmadiyah begitu luar biasanya. Kehadiran MTA[5] membuat suara Khalifah bisa didengar bahkan di pelosok negeri yang jauh-jauh. Siapapun bisa menikmati suara kebenaran.

Keputusan MK yang kemarin kita dengar[6], bukanlah akhir dari Jemaat ini. Sudah menjadi sunnatullah bahwa Jemaat selalu berada dalam posisi yg amat sulit. Persekusi dan intimidasi seolah-olah merupakan cara Tuhan memberikan kabar kepada hamba-Nya: “Masa untuk perkembangan Jemaat telah dimulai. Maka sambutlah dengan suka cita.”

Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah ke-V aba pernah menceritakan seorang sahabat Rasulullah saw yang memohon doa agar bisa syahid dalam perang. Itu bukan keputusasaan, tapi itu adalah semangat untuk menjemput “takdir khas” Allah Ta’ala. Bahkan setelah Rasulullah (saw.) wafat, para sahabat berlomba-lomba untuk menjadi syahid di setiap peperangan. Kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya membuat tidak tersisa lagi ruang untuk takut dan bersedih hati.

Kemenangan Jamaah ini sudah digariskan Allah Ta’ala. Siapapun tidak akan mampu untuk membendungnya. Tapi, apakah kita sudah termasuk orang-orang yang beruntung, yang menjadi bagian dari proses kemenangan ini?

[1] https://kemenag.go.id/file/dokumen/UU1PNPS65.pdf diakses 26 Juli 2018

[2] http://na.gov.pk/uploads/documents/1333523681_951.pdf diakses 26 Juli 2018

[3] http://www.thepersecution.org/facts/h71-80.html diakses 26 Juli 2018

[4] https://ur.wikipedia.org/wiki/%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF_%D8%B6%DB%8C%D8%A7%D8%A1_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%82 diakses 26 Juli 2018

[5] www.mta.tv

[6] http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=download.Risalah&id=10131 diakses 26 Juli 2018

Sumber Gambar: http://pepnews.com/2017/11/30/lahirnya-pusat-data-putusan-mahkamah-konstitusi/

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin