Opini

Radikalisme Dianggap Sunnah, Padahal Itu Jahiliyyah

isis

Seorang ustadz yang kini diduga terlibat jaringan di Suriah, sebab, lembaga kemanusiaan yang dipimpin disinyalir telah memberikan bantuan kepada kelompok disana, pernah memberikan ceramah begini:

Ustadz: Kalau ada istilah Islamic State, nyenengin atau nyeremin? Nyenengin atau nyeremin?

Jamaah: Nyenengin

Ustadz: Kalau ada bendera hitam, dan disitu ada cap suci Rasulullah saw. Nyenengin atau nyeremin?

Jamaah: Nyenengin

Ustadz ini punya pengaruh yang cukup besar di lingkungan MUI. Juga, memiliki posisi yang tinggi dari pergerakan aksi bela yang berjilid-jilid itu. Saya tak perlu menyebutnya siapa? Karena itu tak penting. Yang terpenting adalah mengapa sang ustadz begitu bersemangat hendak membawa pengaruh ISIS ke Indonesia?

Orang awam yang tak tahu apa-apa, tentu akan menganggap ISIS sebagai sebuah pergerakan revolusioner dalam Islam. Dimana, telah berdiri khilafah di lingkungan ISIS. Awam akan mengira, ini adalah saat umat Islam bersatu padu di bawah naungan khilafat. Mereka akan menerjemahkan propaganda ISIS ini sebagai sebuah kebenaran Qurani yang didukung oleh Sunnah Nabi.

Bagaimana kita bisa menyebut aktivitas pembunuhan mereka yang dianggap kafir sebagai Sunnah? Bagaimana kita bisa menyebut aksi pembakaran hidup-hidup, pemenggalan, penembakan massal, bahkan penjatuhan beberapa orang dari atas gedung karena dianggap LGBT, semua ini dianggap sebagai Sunnah? Belum lagi kasus budak seks yang menimpa perempuan-perempuan Yazidi. Bagaimana kita bisa menyebut itu sebagai Sunnah?

ISIS mendirikan khilafah di atas darah dan air mata. Padahal, konsep khilafah dalam Quran menyebutkan “…walayubaddilannakum min ba’di khaufihim amna..” yakni setelah khilafah berdiri, ketakutan akan digantikan dengan keamanan, ketenteraman dan kedamaian. Khilafah jenis apa yang ditawarkan ISIS yang hanya menimbulkan rasa takut dan air mata? Apakah konsep khilafah ala ISIS ini bersumber pada Quran atau kitab yang lain?

Melihat banyak orang di negeri ini yang memuja keberadaan ISIS malah hendak membuat cabang baru ISIS di Indonesia, ini mengingatkan saya saat Islam pertama kali disampaikan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw harus menyampaikan pesan Islam di sebuah masyarakat yang amat jahiliyyah. Dimana kejahiliyyahan itu dianggap sebagai kesalehan juga dianggap sebagai sebuah peradaban modern.

Masyarakat jahiliyyah sangat gemar mabuk-mabukan. Perjudian, mereka anggap sebagai olah seni. Perampokan dan pemerkosaan dianggap sebagai tolok ukur kejantanan. Dan bagi masyarakat jahiliyyah, kedudukan perempuan sama dengan hewan peliharaan. Bahkan, membunuh anak perempuan dapat dianggap perbuatan terpuji.

Orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab dianggap sebagai orang suci yang punya kedudukan tinggi. Kesalahen dapat diukur dari apa yang mereka lakukan. Saat Rasulullah saw menyampaikan misi kenabiannya, Abu Jahal lah orang yang paling menentang. Dan melawan Abu Jahal akan dianggap sebagai sebuah kekafiran.

Itulah mengapa, banyak sekali kaum muslimin di masa awal kedatangan Islam yang mendapat banyak sekali penyiksaan. Banyak wanita yang dibunuh secara biadab. Laki-laki disembelih secara keji. Para budak diseret di atas pasir yang panas. Terlalu sakit untuk menceritakan berbagai penganiayaan kaum kafir Quraisy kepada umat Islam masa awal.

Dan mereka (kafir Quraisy) menganggap semua ini adalah kebenaran. Kebrutalan yang mereka lakukan dianggap amal saleh. Tindakan yang tidak berperikemanusian yang mereka lancarkan, mereka menganggap semua itu sebagai perbuatan yang mulia. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW dan para pengikutnya harus hijrah ke Madinah.

Sifat jahiliyyah tersebut muncul kembali di era modern ini. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan adalah perintah Quran. Mereka juga mengafiliasikan kebar-baran mereka sebagai bagian dari Sunnah Rasul. Orang-orang ini sudah gila. Mereka tidak sadar telah menghidupkan kembali peradaban jahiliyyah bangsa Arab sebelum Rasulullah saw diutus.

Mereka menjual Quran untuk menuruti nafsu mereka dengan menggunakannya sebagian, sementara sebagiannya lagi mereka buang, sebab tidak sesuai ideologi mereka. Bagaimana mereka memahami bahwa orang kafir itu wajib hukumnya dibunuh. Sebab Quran katakan, “…faqtuluhum haitsu tsaqiftumuhum…” yakni, bunuhlah mereka (orang kafir) dimana pun kamu menemuinya. Mereka memotong ayat tersebut sehingga, seolah-olah Quran memerintahkan membunuh orang kafir sembarangan. Ini adalah proganda yang keji karena berlindung di bawah naungan Quran. Ini benar-benar penistaan atas Quran.

Orang-orang jahil semacam ISIS tengah berada dalam pengaruh kemabukan beragama. Mereka tidak sadar bahwa mereka keliru dalam memahami Islam. Ketidaksadarannya ini yang membuat mereka merasa paling benar, dan yang lainnya salah.

Ini sangat berbahaya. Ini seperti sebuah peribahasa Melayu “Marahkan nyamuk, kelambu dibakar”. Kaum radikalis tidak tahu permasalahan yang tengah dihadapi Islam. Mereka tahunya Islam sedang digempur dari segala penjuru. Untuk itulah, mereka mengangkat pedang (senjata) untuk melindungi Islam. Padahal, janji kemenangan Islam sudah Allah gariskan “…liyuzhirahu ‘ala ad-dini kullih…” yakni Dia (Allah) akan memenangkan Islam di atas agama-agama.

Islam tidak butuh kebar-baran mereka. Allah sendiri yang akan memenangkannya. Jangan beranggapan bahwa tanpa aksi radikal mereka Islam akan kalah. Islam akan hancur. Ini merupakan sebuah kelancangan yang terlalu berani untuk diungkapkan di hadapan Allah.

Jadi. Kalau ada yang menganggap sebagai Sunnah, itu sama saja dengan anggapan bahwa perbudakan adalah Sunnah. Ada aspek sejarah yang banyak tak dimengeri oleh mereka yang tengah mabuk beragama. Saya menganggap bahwa radikalime adalah sisa-sisa peradaban jahiliyyah yang tengah diupayakan untuk bangkit kembali.

Sumber Gambar: http://www.weeklyline.net/jurnal/20150722/isis-dan-belenggu-radikalisme.html

 

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar