Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Rasionalisasi Dosa: Upaya Pembenaran

SESEORANG yang menyadari telah melakukan perbuatan dosa, setidaknya penyesalan itu pasti ada. Raja Pena | “Rasionalisasi Dosa: Upaya Pembenaran”; oleh Muhammad Idris (575 kata)

BARU-baru ini berita tentang tertangkapnya buronan kelas kakap yang bertahun-tahun melarikan diri ke luar negri telah menghebohkan masyarakat Indonesia. Kritik pun bermunculan dari masyarakat yang menyayangkan penyambutan ini oleh pejabat-pejabat penting negara bak tokoh penting nan terhormat.

Demikianlah kenyataan pahit yang terjadi di negri ini, di mana koruptor kelas kakap disambut dengan penuh hormat, bahkan tak nampak raut penyesalan sama sekali di wajahnya. Hal inipun terjadi dengan para koruptor yang lain, dengan wajah ‘innocent’ mereka yang sangat khas.

Ditambah lagi harapan itu masih selalu ada bagi mereka untuk lolos dari jerat hukum, sehingga pengacara-pengacara tersohor pun dipilih untuk membelanya. Jalur hukum ditempuh hingga sampai kepada putusan tertinggi dari hukum di negri ini. Belum pernah rasanya terdengar bahwa para koruptor ini dengan kesadaran penuh mengakui dosanya.

Atau jangan-jangan merekapun tidak pernah menganggap apa yang dilakukannya adalah ? Seseorang yang menyadari telah melakukan perbuatan , setidaknya penyesalan itu pasti ada. Sebab adalah sebuah kesalahan yang merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Sudah menjadi tabiat alami , bahwasanya dia menghendaki untuk bisa melakukan apa saja namun ingin lepas dari konsekuensi perbuatannya. Dia menginginkan kebebasan dalam bertindak tanpa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan, orang lain, bahkan kepada dirinya sendiri.

Sebab logikanya adalah seseorang yang ‘unaware’—tidak menyadari bahwa perbuatannya adalah salah, tidak dapat digolongkan melakukan kesalahan dengan sengaja. Secara teori seseorang dalam posisi inipun dianggap tidak bertanggungjawab atas kesalahannya.

Celah inilah yang dimanfaatkan oleh syaiṭān () untuk menjerumuskan manusia, sehingga di dalam disebutkan bahwa setan telah membuat semua yang mereka telah perbuat terlihat ‘fair’ bagi mereka (QS Al-An‘ām {6}:44). Demikianlah ulah setan yang menampakkan perbuatan dosa seolah menjadi perbuatan yang wajar dan bukan merupakan satu kesalahan.

Setan yang disebutkan dalam ayat tersebut tak lain dan tak bukan adalah hasrat rendah manusiawi yakni hasrat untuk berbuat dosa. Hasrat inilah yang menyebabkan manusia melakukan upaya ‘’ atas setiap dosa yang dilakukannya. Sehingga semua perbuatan dosanya nampak sebagai hal yang wajar bahkan benar adanya.

Upaya ‘rasionalisasi’ atas dosa ini juga disebutkan di ayat yang lain bahwa setan telah membuat perbuatan-perbuatan mereka terlihat bagus kepada mereka, sehingga telah menyesatkan mereka dari jalan yang benar. (QS Al-‘Ankabūt {29}:39)

Para pelaku dosa tidak hanya dijerumuskan untuk berbuat dosa, namun juga dijerumuskan untuk melakukan upaya ‘rasionalisasi’ atas perbuatan dosa mereka sehingga semua kesalahan yang diperbuatnya terlihat wajar saja. Lalu bagaimana penyesalan dapat diharapkan dari orang-orang semacam ini?

Rasionalisasi atas dosa ini terlihat dalam berbagai bentuknya misalnya seorang yang melakukan aksi teror brutalnya, dengan alasan yang mereka bunuh adalah orang-orang kafir. Ataupun para koruptor yang dengan segudang dalihnya mengatakan bahwa uang yang mereka korupsi itu adalah hak mereka juga!

Namun sejatinya, rasionalisasi atas dosanya ini hanyalah nampak di permukaan saja sedangkan jauh di lubuk hatinya dia menyadari kesalahannya. Hanya sejauh mana dia menyadarinya itu tergantung kepada individu masing-masing.

Pendiri Jamaah Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan bahwa mengapa seseorang bisa terjerumus ke dalam dosa? Hal ini sama halnya dengan seseorang tidak akan mau untuk sengaja berdiri di depan singa yang kelaparan ataupun memasukkan tanganya ke sarang ular.

Karena, dia memahami kerugian yang akan didapat bila melakukan hal itu. Selama manusia belum mengetahui dengan penuh keyakinan terhadap bahayanya suatu hal maka dia tidak akan pernah berhenti untuk melakukannya. (The Essence of Islam Volume I)

Upaya rasionalisasi dosa hanya akan menghasilkan dosa yang lain yaitu atas dosa itu sendiri. Sehingga Tuhan pun memperingatkan pelaku dosa untuk tidak melakukannya, melainkan lakukanlah tobat sebagai upaya menyesali perbuatan dosa dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

 

_
Qureta.com http://www.qureta.com/post/rasionalisasi-dosa

Tentang Penulis

Muhammad Idris