Opini

Rendah Hati dalam Hidup yang Bersatu

rendah hati

Dan ketahuilah sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku-lah Tuhan mu. Maka Bertakwalah kepada-Ku. Tetapi mereka, orang ingkar, terpecah belah menjadi beberapa golongan  Masing-masing golongan bergembira dengan apa yang ada pada mereka” (Quran surat Al-Muminun 53-54)

Dalam tafsir terjemahan di atas dikatakan bahwa sebetulnya kita ini umat yang satu. Sesungguhnya semua utusan Tuhan menggalang persaudaraan dikarenakan memiliki sumber ilahi yang sama serta menjalin persaudaraan dengan tujuan dan maksud yang sama. Umumnya setelah seorang nabi wafat, para pengikut nabi kemudian saling berselisih dan terpecah-pecah menjadi beberapa mahzab dan aliran. Masing-masing aliran itu menganggap dirinya sebagai pengikut yang paling sejati dan paling benar, sementara pemahaman aliran lain dianggap tidaklah benar. Fenomena inilah yang marak terjadi di tengah kita.

Animo pergerakan yang mengatasnamakan agama, khususnya yang belum lama terjadi pada umat di Indonesia, seolah menunjukkan peningkatan kesadaran jiwa-jiwa sebagai pribadi yang beragama. Positifnya, setiap orang memiliki kesadaran akan peran dirinya sebagai umat beragama yang bertanggungjawab. Beredarnya slogan pembangkit bahwa ‘kejahatan itu meningkat bukan karena bertambah banyaknya orang-orang yang jahat, namun kerena diamnya orang-orang baik‘ seolah menjadi api penyulut kepada jiwa-jiwa yang haus pengkhidmatan, mengiba kedekatakan diri pada ilahi agar lebih semangat berkontribusi dalam naungan payung agama.

Hanya saja, yang saat ini terlihat, praktik pergerakan atas nama agama ternyata melenceng dari nilai-nilai agama yang sesungguhnya. Tidak jarang pergerakan yang terjadi justru malah menimbulkan perpecahan baik antar agama, ataupun di dalam agama Islam itu sendiri.

Sejarah mencatat bahwa pertentangan banyak terjadi akibat ketiadaan toleransi dan sikap kerendahan hati. Kebenaran dianggap hanya milik satu golongan. Lebih parah, golongan tersebut kemudian memaksakan apa yang menjadi panutannya seolah menutup mata akan kebenaran yang lain. Praktik inilah yang mendasari terjadinya penganiyaan kepada kaum minorias yang dianggap tidak sesuai dengan pemahamam umum yang mereka anut. Kebenaran seolah telah didominasi oleh golongan kaum tertentu. Kebenaran seolah telah dimonopoli.

Padahal, sejatinya kebenaran itu bisa beragam karena dapat dipandang dari berbagai sisi. Mengutip contoh yang dikemukakan  seorang tokoh Islam Moderat, Quraish Shihab,  beliau menyatakan bisa saja seseorang melihat gajah sebagai mahluk hidup yang besar, seorang yang lain bisa pula meyatakan bahwa gajah adalah hewan yang memiliki belalai. Lalu apakah perbedaan pandangan itu layak untuk diperdebatkan?.

Lalu bagaimana perilaku kita dalam menghadapi perbedaan-perbedaan ini?. Kuncinya adalah sikap . Pendiri Ahmadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s menyampaikan dalam buku Bahtera Nuh :

“…Tinggalkanlah keinginanhawa-nafsu kamu dalam keadaan apa pun, dan lenyapkanlah ketegangan antara satu dengan yang lain. Walaupun seandainya kamu ada di pihak yang benar bersikaplah merendahkan diri seakan-akan kamu seorang pendusta, agar kamu diampuni.”

Di waktu lain, dalam khutbah Jumat, Khalifah V Jamaatul Ahmadiyah menyampaikan bahwa dalam menjalani kehidupan ini, haruslah berlaku baik, tidak bersikap arogan, dan selalu mengedapankan sikap rendah hati.

Karenanya seyogyanya yang dapat kita lakukan sebagai orang Indonesia yang hidup dalam lingkungan majemuk, yaitu harus terus meningkatkan sikap rendah hati.  Hilangkan rasa diri paling unggul dan rasa paling benar diatas yang lain. Perbedaan harusnya menjadi sinergi. Bukalah mata dalam menilai suatu permalahan. Karena tidak ada kebenaran mutlak yang benar-benar manusia ketahui. Apabila terdapat perbedaan, maka ber- tabayyun-lah, carilah ilmu nya, jangan mudah memberi penilaian atas suatu hal yang tidak ketahui. Karena sesungguhnya manusia yang berilmu lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang beriman. Lebih jauh lagi, sebetulnya siapakah yang layak dalam menetapkan tolok ukur nilai suatu kebenaran?

Dalam hal ini Al-Quran menjawab:

Alif Lam Mim

Akulah Allah yang Maha Mengetahui

(Q.S. Al-Baqarah-2)

Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui

(QS; Al-Baqarah 31 )

Sumber:

Al-Quran

Bahtera Nuh

Khotbah Jumat Huzur tanggal 18 Agustus 2017 (http://ahmadiyah.id/khotbah/sikap-memaafkan-dan-menjalin-kerukunan)

Catatan: Penomeran ayat Al Quran menghitung “Bismillah” di setiap awal surat sebagai ayat pertama

 

Sumber Gambar: https://radarlombok.co.id/20-ribu-hektar-padi-ditargetkan-masuk-asuransi.html

Tentang Penulis

Khaula Nurrul Hakim

Tinggalkan komentar