Opini

Sang Bayi yang Malang

bayi

Lutfi harus pasrah. Kelahiran keempatnya harus tanpa ayahnya. Tapi ia mengerti. Sebagai pengabdi negeri, tugas sang suami adalah segalanya.

Lutfi terus berjuang. Menarik nafas, menahannya, melepaskannya. Berulang kali. Perlahan. Sambil menahan semua nyeri dan sakit.

Yang ia punya hanya doa, kini. Ia berharap bayinya selamat. Menghirup sejuknya udara. Menatap dunia. Dan merasakan hangatnya kasih orang tuanya.

Ia tak sabar melihat sang suami. Menemaninya di saat-saat rapuhnya ia juga bayinya. Menggendong bayinya yang tak tahu apa-apa tentang dunia. Dunia yang amat keras.

Akhirnya. Semua rasa nyeri dan sakit itu pun berlalu. Tangisan seorang terdengar riuh. Melegakan setiap orang yang menyaksikan.

Air muka Lutfi berubah. Kebahagiaan serasa tumpah, menggantung di senyumnya. Ia serasa melihat “jannah” di balik wajah sang bayi yang mungil itu.

Tapi masih ada yang kurang. Kebahagiaan tersebut belum lengkap. Belum ada kabar dari sang suami.

Ia tak sabar Yudi segera menemui. Membelainya dengan hangat. Menyaksikan sebuah amanah satu lagi dari . Lalu meng-azan-kan dan meng-iqamat-kan sang bayi. Dan menggendongnya dengan perasaan haru dan bahagia.

Menjadi istri seorang perwira polisi itu berat. Kalian tidak akan kuat. Cukup Lutfi yang menjadi saksi. Bahwa menjadi pengabdi negeri harus rela mengorbankan segalanya.

Ditinggal saat persalinan hanya satu bagian dari pengorbanan yang harus dilalui. Ia boleh berharap sekembalinya dari tugas, sang suami sehat wal afiat. Tapi ia tak boleh keberatan jika takdir berkata lain.

Inilah realitas yang ia harus pahami. Mungkin nilainya rendah dalam pandangan dunia. Tapi Tuhan tak pernah salah menilai. Sebab mencintai tanah air, melindunginya, mengamankannya, itulah wujud iman.

Dan ternyata. Takdir berkata lain. Takdir memilih jalan lain dari harapan Lutfi. Takdir memilih untuk menguji Lutfi lebih jauh. Membuatnya makin rapuh, tak berdaya.

Ia harus menghadapi konsekuensi paling agung sebagai istri sang pengabdi negeri. Kita tahu, siapa pun takkan siap dengan ini. Tapi itulah cara Tuhan. Menunjukkan sebuah “tanda” bagi kehidupan.

Itu bukanlah kesialan. Tapi tanda kasih Tuhan kepada hamba terpilih-Nya.

Menyakitkan? Tapi Tuhan telah menyediakan satu jenis “jannah”. Yang mungkin bersamaan dengan “jannah” yang dilihat sang istri.

Sang bayi dan ayahnya, akhirnya, berada di Rumah Sakit yang sama. Sayangnya, pertemuan mereka berakhir duka dan air mata.

Entahlah. Tangisan sang bayi sebab kali pertama ia menghirup udara kehidupan? Atau rasa sedih yang amat sangat, soal ayahnya. Ayah yang tak tempat memberikan kalimat perpisahan barang satu katapun.

Bukankah naluri seorang bayi tajam bagaikan sebilah pisau?

Tapi bukan pisau yang telah mencabik-cabik tubuh ayahnya. Menyayat batang lehernya. Sampai menganga lah sepotong luka yang mengakhiri kisah kehidupannya.

Orang-orang yang menghabisi nyawa Yudi hanyalah sekumpulan banci. Menyandera banyak orang, menyiksanya dengan keji, lalu mengantarkan beberapa dari mereka kepada ajalnya.

Mereka menyebut dirinya pembela agama. Masa depan agama bergantung mereka.

Tuhan tampak tak berdaya. Dia yang Maha Kuasa, harus tunduk tak berdaya menunggu pertolongan banci-banci tersebut.

Banci-banci tersebut merasa seakan-akan membela Tuhan. Padahal, mengenal-Nya saja mereka gagal.

Dia Maha Pengasih juga Maha Penyayang. Kasih-Nya mengalahkan murka-Nya. Dia selalu mengabulkan segala harapan kita seperti menutup mata dari serangkaian keburukan kita.

Tapi orang-orang ini, alih-alih membela Tuhan, mereka malah merusak nama Tuhan. Nama Tuhan kini berlumuran darah.

Tuhan sedang dihujat oleh makhluk-Nya sendiri. Bukan karena apa telah Tuhan kerjakan. Tapi apa yang telah dikerjakan banci-banci itu.

Andai merekalah yang dinanti kehadirannya. Di saat-saat betapa rapuhnya istri mereka. Bisa jadi mereka baru akan paham tentang “kehilangan”.

Tapi cukuplah Lutfi, tiga anaknya, juga satu bayi malang yang tak sempat dihadiahi kecupan dari seorang ayah. Cukuplah mereka yang mengerti bahwa kehilangan itu amat berat.

Belasungkawaku untuk Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, dan empat korban meninggal lainnya.

Juga dukaku untuk Lutfi Hidaya, beserta keempat anaknya.

Khaksar
Muhammad Nurdin

 

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209095206577877&id=1850131368

Sumber Gambar: https://www.wallpaperup.com/1090974/Photography-child-girl-sad-miss_you-baby-teddy-bear-sitting-grass.html

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin