Opini

Sang Mayoritas Yang Kurang Pede

muslim
Penulis Satria Utama

Pepatah  mengatakan,”It’s not about how big the dog in a fight, it’s about how big the fight in a dog“. Perlu saya jelaskan lebih dulu bahwa maksud tulisan kali ini merupakan bentuk keprihatinan saya sebagai bagian dari umat terhadap kondisi () secara umum. Sama sekali tidak ada maksud untuk memojokkan, apalagi menjelekkan umat Islam, tapi saya mengajak semua pembaca agar mencoba melihat dan merasakan situasi yang sedang berlangsung saat ini.

Sepintas terasa janggal bunyi judul tulisan ini, namun itulah yang saya lihat tengah terjadi di kalangan umat Islam di negeri kita ini. Bertolak belakang dengan kenyataan bahwa negeri kita merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia, namun hal ini seolah berbanding terbalik dengan tingginya rasa percaya diri sebagian besar warga muslim kita. “Amacacih?”, mungkin itu yang muncul di pikiran anda, oleh karenanya mari sejenak kita amati beberapa peristiwa di sekitar kita akhir-akhir ini. Yuk….

Sebagai umat , seyogyanya umat muslim di Indonesia merasa tenang dan tentram dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Namun tidak demikian kenyataan yang terjadi, sebagian besar umat muslim Indonesia kerap kali bersikap defensif, curiga bahkan terkadang ofensif terhadap hal-hal yang menurut mereka “mengancam akidah”, dengan kata lain, umat cenderung sensitif terhadap hampir segala macam hal dengan dalih tersebut. Saya setuju bahwa kita memang wajib menjaga tegaknya akidah umat, namun apakah itu berarti kita jadi musuh semua umat yang kita cap berseberangan? Menurut anda saya terlalu berlebihan? Berikut saya kemukakan beberapa contohnya.

Saat bulan puasa, umat muslim ramai-ramai menyuarakan “Hormatilah orang yang berpuasa”, dan menurut sebagian besar muslim kita, bentuk penghormatan tersebut adalah dengan menutup tempat menjual makanan, tempat hiburan dan tempat sejenis. Lebih jauh lagi, hal ini didukung oleh beberapa pemerintah daerah yang mengeluarkan peraturan berupa larangan tersebut. Alasannya? Saya jujur tidak mengerti. Kenapa kita harus meminta orang lain untuk menghormati kita? Apalagi dengan memutus jalan rejeki umat yang mencari nafkah dengan berjualan makanan, bekerja di tempat hiburan, dan lain-lain. Demi penghormatan kepada yang sedang berpuasa? Karena takut yang sedang berjuang menahan lapar dan haus akan tergoda untuk makan dan minum? Lalu di mana nilai perjuangannya? Ini sama saja seperti memakaikan sarung tangan pada bayi untuk mencegah si bayi menggaruk mukanya sendiri, dan saya yakin anda sudah bukan bayi lagi kan?

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sedang belajar berpuasa? Jawaban saya sama saja, jika tujuan menyuruh mereka untuk belajar berpuasa adalah untuk mendidik mental mereka supaya terbiasa berpuasa, maka saya ragu mental mereka akan cukup kuat untuk berpuasa di negara non-muslim sekalipun mereka sudah dewasa.

Contoh lain, baru-baru ini rama-ramai sekelompok muslim menuntut agar dirobohkannya patung dewa di sebuah tempat ibadah. Walaupun tidak jadi dirobohkan, akhirnya patung besar tersebut dibungkus dengan kain putih, dan saya tidak habis pikir, apa bedanya dibungkus/ tidaknya patung tersebut? Jika sekelompok umat muslim merasa imannya akan goyah jika melihat patung tersebut, alangkah ringkihnya iman mereka. Jangankan mendapat godaan setan yang tidak kasat mata, godaan dari benda matipun tidak bisa mereka lawan.

Saya tidak tahu bagaimana anda melihat kondisi tersebut, namun saya melihatnya sebagai bentuk kurangnya kepercayaan umat muslim akan kekuatan iman mereka sendiri. Mereka berupaya untuk membentuk suatu lingkungan yang aman dan nyaman serta meminimalisir segala bentuk godaan yang mungkin timbul supaya iman mereka tetap terjaga. Dan hebatnya itu semua dilakukan dengan berlindung dibalik ke-mayoritas-an mereka.

Tidak hanya itu, sikap serupa juga ditunjukkan oleh umat muslim pada sesama muslim lainnya. Seperti kita tahu umat muslim di Indonesia terdiri dari berbagai golongan dan aliran, dan tentu saja tiap-tiap golongan tersebut memiliki pandangan atau penafsiran yang berbeda terhadap beberapa hal tertentu. Perbedaan inipun kerap menjadi celah untuk terjadinya tekanan dengan alasan yang sama: penegakkan akidah. Tidak percaya?

Masih ingat kasus pengurus masjid yang menolak men-sholatkan jenazah? Silakan anda berargumen bahwa itu karena sang almarhum sudah mendukung seorang pemimpin kafir, namun saya melihat masalah sebenarnya karena perbedaan penafsiran terhadap satu ayat Al-Qur’an saja. Hanya demi menguatkan penafsiran, mereka tega bersikap seperti itu pada sesama muslim.

Banyak contoh lainnya yang mereka lakukan terutama pada kelompok muslim lain dengan alasan yang sejenis kepada kelompok muslim lainnya, seperti sebutan sesat, menyimpang, murtad, kafir atau bahkan menghalalkan darah, seperti selama ini sering ditujukan pada golongan Syiah dan Ahmadiyah. Dalam tindakannya mereka senantiasa mengadakan aksi unjuk kekuatan, mulai dari sesumbar di media sosial, arak-arakan, hingga pengumpulan masa. Satu pesan yang ingin mereka tunjukkan: Jangan berani melawan kami, kaum mayoritas! Ironis mengingat aksi ini karena kekhawatiran mereka akan runtuhnya keimanan akibat segelintir minoritas.

Tidak sampai di situ saja “kelucuan” tingkah mereka. Baru-baru ini tengah gencar pemberitaan di media sosial tentang “konflik agama” yang terjadi di Myanmar. Saya tulis dalam tanda petik karena sesungguhnya, tanpa maksud mengecilkan perkara yang terjadi, sebenarnya konflik tersebut merupakan tragedi kemanusiaan. Adapun balutan agama yang muncul ke permukaan merupakan semata rekayasa beberapa pihak yang berkepentingan dalam konflik tersebut. Namun sebagian umat muslim berkeras bahwa itu murni konflik agama, ada saudara muslim mereka yang teraniaya di sana sehingga mereka harus mengulurkan tangan. Satu saja pertanyaan saya pada mereka: jika mereka bukan muslim, apakah mereka tidak layak ditolong?

Mereka yang berteriak paling lantang bahwa “Islam adalah rahmatan lil alamin” ternyata pada prakteknya baru sebatas “Islam rahmatan lil muslimin” itupun dengan tambahan tulisan kecil di bawahnya: Syarat & Ketentuan Berlaku.

Saya tegaskan kembali bahwa maksud tulisan saya ini sama sekali bukan bertujuan untuk merendahkan sesama saudara muslim, namun untuk mengajak bersama-sama merenungkan kembali tujuan beragama kita. Agama kita hanyalah urusan kita sendiri dengan Sang Maha Pencipta, bukan untuk pamer kekuatan saat kita menjadi mayoritas, ataupun memohon belas kasihan saat menjadi minoritas. Dengan agama pula kita dibimbing agar bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita, minoritas atau mayoritas, senantiasa berupaya mendatangkan rahmat bagi sesama. Dengan demikian tidak akan ada lagi perasaan khawatir akan keteguhan iman kita, dan kita senantiasa bisa hidup berdampingan dengan damai di manapun kita berada. Cag.

Sumber Gambar: https://www.linkedin.com/pulse/good-different-how-majoring-biology-prepared-me-beth-comstock

Tentang Penulis

Satria Utama

Tinggalkan komentar