Opini

Sang Pemilik Syahid

syahid

Berawal dari “mengenal” Tuhan,, Berakhir dengan Mengatasnamakan Tuhan

Berawal dari ,, Berakhir dengan Kebengisan hingga Pembunuhan

Dialah “sang pemilik ” yang sesungguhnya??!

Keresahan tengah terjadi beberapa hari lalu di lapas . Mengapa tidak, seluruh masyarakat dibuat terkejut dengan peristiwa naas itu. Kejadian  yang dimulai dari hari Selasa 8 Mei 2018 lalu menyeruak ke seluruh bumi pertiwi. Peristiwa kerusuhan, penyanderaan, penyiksaan, hingga pembunuhan sadis dilakukan oleh narapidana kepada beberapa anggota kepolisian. Sedikitnya 5 anggota Polri gugur dalam peristiwa naas ini. Duka mendalam tengah terjadi tidak hanya pada keluarga korban, masyarakat Indonesia pun merasakan duka yang sama akibat peristiwa kebengisan yang sangat jauh dari nilai .

Memang, nilai kemanusiaan sepertinya sudah luput dari dalam diri para narapidana terorisme. Kebengisan yang membuat mereka ada dalam jeruji besi hingga apa yang mereka lakukan beberapa hari lalu sudah menjadi bukti autentik hilangnya nilai – nilai kemanusiaan. Mungkin, itu sudah menjadi pilihan hidup mereka. Namun yang lebih menyayat hati, Allah pun mereka jadikan alasan hingga alibi di balik segala kebengisan.

Seperti halnya kejadian di Mako Brimob lalu, pekikan teriakan Allahu Akbar menggema memicu semangat para narapida terorisme. Semangat kericuhan hingga berujung pada penyandraan, penyiksaan dan pembunuhan sadis kepada 5 anggota polri begitu mudahnya mereka lakukan. Merasa “benar”, merasa sedang “berjuang di jalan Allah”, hingga merasa “jalan surga” sudah dihadapan mereka. Kebengisan dirasa seperti jalan yang indah yang harus mereka lalui demi “surga” yang selama ini dinanti.

“Surga” yang dengan piciknya mereka nantikan pun sejatinya begitu fana. Bagaimana mungkin surga dapat mereka dapatkan setelah mereka memberikan neraka di dunia ini. Kekejaman hingga pembunuhan sadis dibatas kenormalan, menjadi neraka tersendiri bagi para keluarga korban yang ditinggalkan. Bahkan bagi para masyarakat yang memiliki hati nurani. Lalu mereka, yang masih bisa tersenyum diatas kebengisan itu, layakkah surga untuk mereka?!

Belum lagi tersematnya kata syahid ketika mereka mati kelak karna sudah merasa “membela . Membela sebuah agama dengan cara tersendiri yakni dengan dengan kekejian dan kebengisan. Lalu dengan percaya dirinya, mereka meyakini, “syahid” sudah ada dalam genggaman ketika mereka mati kelak.  Layakah kata syahid tersemat untuk mereka yang menyandera, menyiksa, hingga membunuh dengan keji para polisi yang mencoba mengamankan negeri?!

Bagi yang masih memiliki hati nurani, sejatinya surga benar – benar tidak layak mereka dapatkan. Dan syahid pun sangat tidak pantas tersemat ketika mereka saat mati kelak. Lalu siapakah yang sejatinya mendapatkan gelar syahid dalam peristiwa naas itu? Kata syahid sejatinya sangat layak tersemat bagi ke-5 anggota Polri yang gugur mengamankan negeri. Untuk mereka yang syahid mengamankan negeri, tentunya tiada balasan kecuali surga-Nya. Surga yang sesungguhnya, yang kekal dan abadi yang telah Allah siapkan. Mereka yang menjaga negeri, yang harus gugur ditangan narapidana terorisme, sejatinya adalah Sang Pemilik Syahid.

Teringat hadits Rasulullah Saw Hubbul Wathon Minal Iman yang artinya kecintaan kepada negeri merupakan sebagian dari Keimanan. Mereka yang gugur dalam mengamankan negeri ini, wafat dalam keimanannya dalam mencintai negeri.   

Referensi:

https://news.detik.com/berita/4014455/kronologi-tragedi-kerusuhan-dan-penyanderaan-di-mako-brimob

https://news.detik.com/berita/d-4014975/mengapa-teroris-sampai-perlu-menyiksa-5-polisi-di-mako-brimob

Sumber gambar: http://charlessledge.com/hatred-women-will-destroy/

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin