Opini

Saracen, First Travel, dan Runtuhnya Moral Manusia

Tanggal 25 Agustus 2017 menjadi hari bersejarah bagi Grup karena menjadi puncak penangkapan beberapa orang dari grup mereka oleh pihak kepolisian setelah beberapa pekan pencarian. Pencarian dan penangkapan baru masih mungkin dilakukan dalam waktu dekat. Tidak hanya mengarah kepada jaringan penyebar berita bohong dan ujaran kebencian ini. Tapi juga kepada para pemesan jasa mereka.

Ini pun bisa kita jadikan sebagai titik balik untuk menyadarkan masyarkat akan pentingnya mendapatkan informasi yang benar tanpa hoax sedikit pun di dalamnya.

Tersangka awal yang ditangkap adalah Sri Rahayu Ningsih yang ditangkap pada tanggal 5 Agustus 2017 karena terjerat kasus penghinaan terhadap Presiden Jokowi. Setelah penangkapan Sri Rahayu, penyidik pun melumpuhkan akun milik Sri Rahayu. Namun, ternyata Jasriadi (pemimpin grup) memulihkannya kembali sehingga menjadi jalan bagi polisi untuk menangkap Jasriadi pada tanggal 24 Agustus lalu.

Sebelum Sri Rahayu, ada Ropi Yatsman yang sudah ditangkap bahkan sudah divonis penjara 15 bulan karena kasus penghinaan kepada Presiden. Penyidik pun baru mengetahui keberadaan Grup Saracen ini setelah beberapa penangkapan setelah Ropi. Ternyata pola kerja mereka sangat terorganisasi dan mereka memang sering menyebarkan ujaran kebencian atau hoax yang berbau SARA.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah gerakan organisasi Saracen ini yang luar biasa berbahaya. Bagaimana tidak, grup ini menebarkan berita bohong dan ujaran kebencian dengan masif dan terencana dengan baik.

Kabag Penum Divisi Hubungan Masyarakat Polri Kombes Pol Martinus Sitompul, menyampaikan bahwa dalam grup Saracen ini ada tiga kelompok yaitu, kelompok inti yang beranggotakan 22 orang yang bertugas untuk memproduksi, memuat konten-konten, memberikan data-data sasaran yang akan dikerjakan dan disampaikan, dan membuat meme yang akan disebarkan melalui media sosial hingga viral.

Kelompok kedua yaitu kelompok pendukung. Kelompok pendukung ini beranggotakan 11 orang. Tugas kelompok kedua adalah mendistribusikan dan menyebarkan informasi-informasi yang telah disiapkan oleh kelompok inti.

Sedangkan kelompok ketiga bertugas sebagai followers atau pengikut. Tugas kelompok pengikut ini adalah menyebarkan kembali informasi atau meme yang telah diunggah oleh kelompok pendukung melalui akun-akun media sosial yang mereka miliki. Bahkan, bisa jadi mereka membajak atau meng hack akun media sosial tanpa kita ketahui sehingga penyebaran hasil produksi lebih luas lagi.

Dalam aksi mereka ini, mereka menauh tarif Rp 72 juta per paket. Jika kita lihat gerakan masif ini dan mereka terlihat serius dalam mengerjakannya, sepertinya ada banyak pemesan yang tergiur untuk menggunakan jasa mereka. Bisa kita tebak manfaat dari jasa mereka adalah untuk menjatuhkan lawan dalam pagelaran politik atau mungkin suatu kelompok yang tidak disukai.

Ini sangat mengerikan sekali. Ketika hoax bisa dibuat dengan bebas untuk menjatuhkan lawan bahkan mungkin saja yang sekarang sedang mendekam di penjara memang koorban dari grup Saracen ini. Tentu langkah pihak kepolisian dengan menangkap beberapa anggota awal pekan ini patut kita apresiasi sebesar-besarnya.

Dan, pasti langkah penyidik tidak akan berhenti di sini karena baru hanya 3 orang yang mereka tangkap. Dalam tiga kelompok grup Saracen saja mungkin terdapat kurang lebih 30 anggota. Itu pun belum termasuk pemesan jasa mereka.

Presiden Jokowi pun telah meminta kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus Saracen ini tidak hanya di kalangan Saracen saja tapi juga sampai penyandang dana dan pemesannya.

Ini merupakan sinyal kuat akan adanya dukungan penuh dari Presiden Jokowi untuk melawan penyebaran ujaran kebencian dan hoax yang beredar di masyarakat.

Kasus First Travel juga tidak kalah ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia saat ini. Biro perjalanan yang mengawali bisnis mereka sejak tahun 2009 ini terjerat kasus penipuan pemberangkatan jamaah haji pada musim haji tahun 2017 ini.

Kurang lebih sekarang ada sekitar 17 ribu laporan pengaduan penipuan yang dilakukan oleh First Travel ke Bareskrim Polri. Bahkan, satu dari antara mereka, calon jamaah umrah asal Garut, Rokayah, telah meninggal dunia.

Rokayah awalnya dijanjikan berangkat awal 2017, bahkan dimintai tambahan sebesar 2,5 juta rupiah agar bisa segera berangkat. Namun janji tinggal janji dan kini justru Rokayah wafat.

Memang, suami-istri bos First Travel juga telah ditangkap dan akan diproses di pengadilan. Akan tetapi, kasus ini tentu mengiris hati para calon jamaah umrah dan haji yang batal berangkat tahun ini. Atau mungkin para calon haji lain menjadi was-was dan memiliki rasa kurang percaya terhadap biro perjalanan haji lain karena khawatir terkena tipuan seperti kasus First Travel.

Departemen Agama atau departemen pemerintahan lain yang terkait dengan pemberian izin biro perjalanan haji perlu berbenah dan melakukan pengawasan yang jauh lebih ketat terhadap biro perjalanan haji supaya pemberangkatan haji dari Indonesia di tahun berikutnya jauh lebih baik.

Pemilik First Travel disinyalir menggunakan uang hasil pengumpulan dana keberangkatan haji untuk keuntungan mereka sendiri. Bahkan, mereka memiliki gaya hidup yang super mewah dengan menggunakan besarnya uang yang mereka kumpulkan.

Rasulullah SAW sebagai Teladan umat Islam

Dua kasus yang sedang ramai diperbincangkan di atas bisa dikatakan sebagai contoh runtuhnya moral manusia di Indonesia. Grup Saracen menggunakan bahkan menyebaran kebohongan sebagai mata pencaharian. Sedangkan First Travel membohongi para calon jamaah haji untuk keuntungan dan kekayaan mereka sendiri.

Ini nyata sekali bukanlah apa yang diajarkan oleh Islam dalam menjunjung tinggi kejujuran dalam seluk beluk kehidupan manusia di alam semesta ini. Kejujuran bukanlah semata-mata hanya ditujukan untuk umat muslim tapi juga oleh seluruh umat manusia. Apalagi jika kebohongan dan ketidakjujuran itu dilakukan oleh umat Islam itu sendiri. Tentu ini sebuah keruntuhan akhlak yang harus kita hindari.

Jika grup Saracen digunakan dalam ‘perang’ politik, maka kita pun harus melihat teladan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau dalam menghadapi ‘perang’ politik di tanah Arab.

Ketika Nabi Muhammad SAW membuat perjanjian Hudaibiya dengan disaksikan oleh sahabat beliau dan lawan politiknya, Rasulullah tetap bersikap santun dan berbaik hati baik kepada sahabat maupun lawan.

Sejarah Islam mencatat bahwa Suhail berkeberatan kepada Rasulullah SAW ketika Rasulullah SAW akan menulis “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Lalu, Rasulullah SAW tidak menunjukkan rasa marah akan tetapi mengikuti keinginan Suhail dengan hanya menuliskan “Dengan nama Allah” pada awal perjanjian Hudaibiya.

Lalu, ketika Nabi Muhamad SAW menuliskan “Perjanjian perdamaian ini dibuat di antara warga Mekkah dan Muhammad, Rasulullah SAW.” Suhail kembali menyatakan keberatannya dan Rasulullah juga mengikuti keinginan Suhail dengan menggantinya dengan “Muhammad, putra Abdullah.”

Perjanjian Hudaibiya ini pun bukan tanpa ada keberatan dari para sahabat Rasulullah SAW. Bahkan Umar ra. mempertanyakan isi perjanjian Hudaibiya yang terkesan memberatkan umat Islam. Akan tetapi, Rasulullah SAW mampu menjawab mereka dengan bijak dan meyakini para sahabat bahwa perjanjian ini diliputi keberkatan dari Allah Ta’ala dan demi keamanan umat Islam ketika menjalankan ibadah Haji di Mekkah.

Rasulullah SAW dan perwakilan penduduk Mekkah menandatangani perjanjian Hudaibiya, Rasulullah SAW tetap menjalankan dengan baik isi perjanjian Hudaibiya.

Beberapa lama setelah perjanjian itu, ternyata penduduk Mekkah mengalami berbagai kesulitan dan warga muslim dapat hidup tenang. Hingga akhirnya Abu Jandal ra., anak dari Suhail, menghampiri Rasulullah SAW dan menyatakan masuk Islam. Dan perjanjian Hudaibiya menjadi salah satu jalan sukses perkembangan Islam dan contoh teladan Rasulullah SAW.

Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 105

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan ialah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka adalah orang yang pendusta.”

Sebagai umat Islam, sebagai bangsa dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Umat Islam di Indonesia harus selalu menjalankan segala perintah Allah SWT dalam Al-Quran dan mengikuti segala teladan Rasulullah SAW. Dua kasus yang muncul akhir-akhir ini menjadi bukti telah runtuhnya moral manusia dan ini tidak boleh menjadi kebiasaan yang lumrah di Indonesia.

Kejujuran dan menunjukkan akhlah mulia seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW harus tertanam di hati seluruh umat Islam di Indonesia sebagai cara untuk menjaga moral baik bangsa Indonesia.

  

Sumber:

  1. http://news.liputan6.com/read/3070426/kronologi-terungkapnya-sindikat-saracen-ada-unsur-kebetulan
  2. http://www.viva.co.id/berita/nasional/951552-peran-dan-cara-kerja-kelompok-saracen
  3. http://nasional.kompas.com/read/2017/08/25/20475761/ini-tarif-kelompok-saracen-untuk-sebarkan-konten-ujaran-kebencian-dan-sara
  4. https://nasional.tempo.co/read/news/2017/08/27/063903655/Jokowi-Minta-Saracen-Diusut-Tuntas-hingga-Pemesan-dan-Donatur
  5. http://news.liputan6.com/read/3077523/1600-berkas-dan-20-oknum-first-travel-masuk-di-aduan-bareskrim
  6. https://alislam.org/library/browse/book/Life_of_Muhammad/?l=English#page/198/mode/1up

Sumber Gambar: http://www.desicomments.com/desi/sad/

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad

Tinggalkan komentar