Opini

Sebuah Kisah Klasik

toleransi

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

Bertahun tahun sudah negara ini menghadapi krisis toleransi dan demokrasi, ketika menjadi hal yang tabu di lingkungan masyarakat. Masyarakat lebih menyukai sesuatu yang homogen bukan heterogen. Padahal, sejatinya tak ada yang benar-benar sama di dunia ini. Yang lebih membuat pilu, masyarakat sangat mudah sekali percaya dengan berita yang berkembang tanpa memastikannya terkebih dahulu.

Di era digital dan milenial seperti sekarang, penyebaran informasi sangatlah mudah. Hal ini tentu saja angin segar bagi mereka yang bisa memanfaatkan teknologi, mereka yang “tidak bertanggung jawab” memanfaatkan teknologi dengan menyebarkan isu isu yang tidak baik. Sebagai contoh, ketika isu “keberagaman” mulai kembali terusik terutama mengenai yang notabene adalah hal yang paling sensitif, jelas berita tersebut akan cepat menyebar. Orang-orang berbondong bondong melakukan penyerangan, demo, perusakkan atau bahkan pembunuhan mengatas namakan Islam dan jihad.

Orang yang tidak beragama Islam dikatakan kafir, orang yang tidak sama pemikirannya dikatakan kafir. Lalu setelah itu dikucilkan, dihabisi, bahkan di aniaya (fisik dan mental). Sesungguhnya dimanakah implementasi dari kebebasan beragama tersebut? Dimanakah implementasi dari UU tersebut?

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai kisah klasik perdebatan mengenai “demokrasi dan toleransi”, apa yang pertama kali masyarakat awam katakan, ketika mereka mendapatkan pertanyaan “tahu ahmadiyah gak?” – sebagian besar pasti menjawab “aliran sesat ya?”. Lalu setelah itu munculah komentar komentar negatif lainnya yang malah berujung pada ketidak benaran informasi.

Sebagai smart internet user, seharusnya kita menjadi pengguna yang bijak. Apabila mendapatkan informasi alangkah baiknya mencari tahu lebih dalam lagi, sebelum menghakimi atau mengambil kesimpulan. Sangat klasik bangsa ini diombang ambing, dicabik cabik, di cerai berai dengan isu “agama”. Bukankah islam mengajarkan untuk cinta damai? Sebagaimana seperti moto Jemaat Ahmadiyah “Love For All Hatred For None” yang artinya cinta untuk semua tiada kebencian untuk siapapun.

Sudah saatnya, masyarakat saling mencintai apapun ras dan agamanya, tidak mudah terkonfrontasi, tidak mudah tercerai berai. Karena manusia hidup hanyalah untuk-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Sumber Gambar: http://www.dw.com/id/ada-apa-dengan-toleransi-di-indonesia/a-18847244

Tentang Penulis

Dini Reski Apriyani

Tinggalkan komentar