Opini

Secercah Harapan di Langit Depok

masjid ahmadiyah

Ketika terenggutnya nikmat ibadah di Rumah-Nya

Kemanakah harus mengadukannya?

Kiranya Dialah yang mampu menjawabnya.

Karena Dialah yang Menjadi Secercah Harapan

Ketika kebisingan jalan, bercampur dengan suara adzan. Ketika langkah kaki menuju tempat sosok Sang Pencipta, bersamaan dengan lalu lalang kendaraan. Ketika itu pula, diringi tiupan debu, sang marbot menghamparkan sajadah. Lalu, para manusia mulai merapatkan shafnya, mencari ketenangan beribadah di rumah-Nya. Sebentar, bukan di rumah-Nya, melainkan hanya di pelataran rumah-Nya.

Ibadah yang sejatinya dianjurkan di dalam rumah-Nya, kini hanya bisa menjadi kenangan di masa lalu. Beginilah kondisi saat ini, dimana para pengikut Jamaah Muslim , hanya dapat mencari kenikmatan dengan sang khalik dipelataran Masjid yang hanya berlatarkan sajadah. Pasalnya, sekelompok manusia yang cukup punya kuasa, bersembunyi dibalik kata “mengamankan”, sudah merenggut kebebasan manusia lain yang ingin mencari kenikmatan beribadah di dalam rumah-Nya.

Mengapa tidak, Masjid Al-Hidayah Depok kini tidak dapat digunakan. Jangankan digunakan, kayu – kayu pun menyilang dipaku di depan pintu – pintu masjid, dari pintu kaum bapak, hingga kaum ibu. Tidak cukup puas sampai di pintu, di jendela Masjid pun terpampang pula beberapa kayu.

Mirisnya, saat ini bukan hanya kayu saja yang menghiasi pintu rumah Allah itu, media berwarna kuning bertuliskan tinta hitam, menghiasi pintu Masjid menyilang mengikuti kayu. police line, ya betul, garis polisi itu pun menambah kuat betapa tidak boleh digunakannya tempat ibadah itu. Lalu, pelang besi setinggi 2 meter dibeton tegak di depan Masjid bertuliskan tinta merah KEGIATAN INI DISEGEL. Naudzubilahimindzalik. Jangankan untuk beribadah, membuka pintu Masjid pun tidak dapat dilakukan. Dari kayu – kayu, police line, hingga palang besi dirasa sangat cukup menghalangi manusia yang ingin beribadah di dalamnya. Hukum Pidana pun sudah siap dihadapan mata, bagi siapa saja yang memaksa masuk ke dalam rumah Allah itu.

Gumamku, salahkah manusia yang mencoba mencari kenikmatan Shalat di dalam rumah-Nya? Salahkan mereka menyapa-Nya, mengingat-Nya, mendekatkan diri pada-Nya di rumah suci itu?

Apa mau dikata, pintu Masjid yang sejatinya setiap saat terbuka untuk siapa saja, saat ini tertutup bahkan sangat tertutup. Rumah Allah yang sejatinya didalamnya diramaikan oleh lantunan ayat suci, saat ini hanya terdengar suara lirih lantunan ayat suci dari luar pelataran. Kini di dalam Rumah Allah itu hanya ditutupi oleh debu.

Entahlah, sampai kapan fenomena ini terus terjadi. Mungkin sudah banyak hal yang dilakukan agar Masjid terbuka lagi. Namun apa daya, itu masih menjadi harapan banyak orang yang belum terealisasi.

Tulisan ini pun kiranya tidak mampu mewakili rasa sedih yang menimpa orang – orang di sekitar sini. Terlalu banyak kesedihan hingga airmata yang mereka korbankan, karena terenggutnya kebebasan manusia yang merindukan nikmat beribadah di rumah Allah Yang Maha Suci. Namun kiranya, hanya Dialah secercah harapan yang dapat menjadi obat penawar ini.

Hanya yang menjadi secercah harapan, disaat dunia tidak sesuai dengan harapan.  Disetiap sujud, hanya lirih yang terus berucap. Dialah kiranya yang dapat menjawab lirih kegelisahan para hamba yang merindukan kenikmatan beribadah di dalam rumah-Nya. Teringat firman-Nya dalam surah Az – Zumar ayat 36, yang artinya:

“Tidak cukupkah Allah bagimu”

Ya, kiranya cukuplah Allah yang menjadi jawaban atas segalanya. Keyakinan ini tetap ada bagi para pencinta-Nya, bahwa kebesaran dan ke Mahakuasa-Nya akan mewujudkan segalanya. karena Dia tidak diam namun menunggu.

 

Sumber Gambar: https://www.21c.com/spirituality/2884-tears-of-a-generation-long-gone/

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin