Akhmad Reza Kompasiana Sejarah

Sejarah Selalu Berulang sebagai Tragedi

Penulis : Akhmad Reza
Dipublikasikan di : Kompasiana

Peribahasa ”hanya keledailah yang terperosok ke lubang yang sama” tidak benar-benar dialamatkan kepada binatang yang selama ini dianggap bodoh itu. Justeru manusialah yang menjadi sasarannya. Manusia senantiasa terperosok ke lubang yang sama. Mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Ironisnya, mereka nampak menyadari kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu, namun tak segan-segan memraktekkannya kembali di masa kini.

Sekadar contoh penulis ambil dari sejarah. Inkuisisi adalah praktek gelap yang mencoreng agama Kristen. Atas nama iman, ratusan ribu kaum pagan, orang Yahudi atau bahkan sekte-sekte Kristen yang dianggap ”sesat” dimusnahkan dengan keji. Praktek yang mulai dilembagakan abad ke—seakan-akan memutar kembali jarum sejarah. Para inkusitor –pelaku inkuisisi- tidak mengambil pelajaran bagaimana kaum Kristen awal menjadi korban. Selama kurang lebih 3 abad, mereka dikejar-kejar, dijadikan santapan bagi harimau-harimau lapar di Colloseum dan dituduh ”sesat” oleh Penguasa Romawi. Baru pada abad XX, Paus mengemukakan bahwa praktek inkuisisi adalah kesalahan besar yang pernah dilakukan gereja.

Hal serupa berulang lagi dalam sejarah Islam. Pengejaran, teror mental dan fisik adalah cerita sehari-hari para ”al-sabiqunal al-awwalun”(pemeluk pertama). Seiring dengan perjalanan waktu umat Islam memegang tampuk kekuasaan. Sayangnya, ketika sudah dalam posisi itu, sebagian dari mereka melupakan ajaran junjungan mereka sendiri, Rasulullah Saw. Jika dahulu mereka berada dalam posisi mustadh’afin (orang-orang yang dilemahkan), kini, setelah berkuasa mereka cenderung menjadi sosok mustakbirin (orang-orang yang sombong).

Sosok penguasa semacam ini selain cenderung tiran, mereka menganggap tafsir merekalah yang merupakan pengejawantahan sah dari ajaran Islam. Mazhab atau pemikiran yang berbeda, yang biasanya terdiri dari kaum minoritas otomatis dicap kafir, sesat dan dengan demikian wajib hukumnya untuk dienyahkan dari muka bumi. Namun, para penguasa tidak bekerja sendiri. Aparatus untuk mengenyahkan mazhab yang berbeda, kaum minoritas yang ”nyeleneh” biasanya didahului dengan ”fatwa” yang dikeluarkan para ulamanya. Ulama-ulama semacam ini menjadi justifikator kebijakan para penguasa. Produk-produk fatwa yang mereka hasilkan kedengaran seragam dalam kalimat-kalimatnya meskipun merentang ribuan tahun. Mereka menuduh bahwa kelompok atau mazhab anu sesat dan menyesatkan, harus segera bertaubat dan kembali ke ajaran yang benar. Melalui fatwa-fatwa inilah tindakan kekerasan seolah mendapatkan legitimasi.

Jatuh bangunnya suatu mazhab memang tergantung dari seberapa dukungan yang mereka dapatkan. Ketika masih kecil, mereka seringkali diperangi, dituduh sesat dan ditindas sedemikian rupa. Mirip teori Darwin melalui natural selection banyak mazhab yang punah, namun ada juga yang bertahan. Yang membesar, apalagi didukung oleh penguasa, maka mazhab itu menjadi mazhab negara. Dengan demikian, nasib-nasib mazhab lain sudah bisa ditentukan, dimusnahkan atau dijalankan oleh para pengikutnya yang yakin secara sembunyi-sembunyi. Sungguh benar perkataan Amin al-Khuli, ”Kapanpun, pemikiran memang, sebuah kekafiran. Ia diharamkan dan diperangi. Bersama lalunya zaman, ia menjadi sebuah aliran:bahkan keyakinan dan pembaharuan….”

Ketika Mu’tazillah menjadi mazhab penguasa dan mayoritas, maka selain dari dirinya otomatis mendapat label sesat dan wajib digempur. Salah satu korbannya, Imam Ahmad bin Hanbal, yang harus menemui ajal karena berbeda keyakinan dengan mazhab penguasa. Sebaliknya, ketika paham Asyiriah berkuasa, giliran Mu’tazillah dimusnahkan. Tokoh sufi tersohor, Mansur Al-Hallaj disalib dan jasadnya dibakar karena dianggap ”sesat” oleh ulama dan penguasa.

Ironisnya, para imam pendiri mazhab bersangkutan adalah sosok yang saling menoleransi. Ikhtilaf (perbedaan penafsiran) tidak mengurangi saling menghormat dan saling mencintai di antara mereka. Imam Ahmad ibn Hanbal berguru pada Imam Syafi’i. Imam Syafi’i berguru pada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Keduanya berguru pada Imam Ja’far Al-Shadiq, yang dianggap sebagai Imam Syiah (Rakhmat, 2007:111). Namun, di tangan pengikutnya, yakni para penguasa yang tiran ini- menjadikan mazhab yang diyakininya sebagai ”alat penggebuk” untuk menyingkirkan mazhab-mazhab lainnya. Di sini ucapan Marx benar, ”para pencipta ideologi dalam banyak hal revolusioner. Tetapi pengikut-pengikutnya senantiasa merupakan golongan reaksioner semata.”

Nasib kaum minoritas, mazhab yang dianggap nyeleneh dari kaum mainstream sama saja dari zaman “baheula.” Mereka senantiasa menjadi the disposable, kaum marjinal yang harus dikorbankan. Seperti apa yang terjadi pada kelompok Ahmadiyah hari-hari ini. Sudah ”digebuk” di sana-sini, mereka pulalah yang dianggap menjadi biang keladi atas kekerasan yang mereka alami sendiri. Sungguh suatu logika yang aneh bin ajaib.

Tentang Penulis

Raja Pena