Opini

Sekecil Apapun Dusta, Tetap Dusta

bohong
  • “Amalkan enam pesan-ku, pasti kalian kujamin dengan surga; benar bila bicara, tepat janji, menunaikan amanat jika diberi amanat dan memelihara kemaluan, menundukan pandangan serta menahan tangan.” (H.R. Ahmad)

Suatu kali seorang laki-laki datang kepada saw menanyakan tentang . Beliausaw menjawab dengan singkat, “islam itu jujur, tidak .”

Di saat yang lain ada orang yang mengaku ingin masuk islam, tapi hobi lamanya yaitu mencuri, berzina, dan beberapa kebiasaan jelek lainnya belum bisa ditinggalkan. Ternyata Rasulullahsaw meluluskan permintaan orang tersebut. Artinya ia diterima masuk Islam, hanya dengan syarat yang ringan, asal berbuat jujur dan tidak berbohong.

Orang itu pulang dengan hati masygul. Suatu malam sebagaimana biasa ia beroperasi untuk mencuri, kali ini sasarannya seorang janda kaya. Operasinya  tidak  banyak hambatan ia sudah menerobos masuk ke kamar. Kini tidak hanya harta janda kaya tersebut yang menjadi incarannya. Terdorong oleh hasrat birahinya, kini ia juga ingin melampiaskan syahwatnya.

Akan tetapi bersamaan dengan derasnya keinginan ini, dari jauh terdengar sayup-sayup suara azan. Ia sadar bahwa ia sudah Islam dan suara azan adalah panggilan untuk menunaikan kewajiban shalat. terbayang dalam ingatannya Rasulullahsaw sedang mengimami shalat, terlintas juga ia akan janjinya kepada Rasulullahsaw untuk tidak berbohong. Tiba-tiba ada pertanyaan muncul dalam hatinya, jika nanti ditanya Rasulullahsaw , bagaimana mesti menjawab ?

Orang itu mengurungkan niatnya untuk mencuri, juga memperdayai wanita itu. Ia segera pulang dan bertobat kepada Allahswt  ,sejak saat itu tidak lagi meneruskan kebiasaan jahiliyahnya.

Andai kita ditanya seseorang tentang Islam, jawabanya hampir dipastikan bahwa kita akan menjelaskan beberapa pokok ajaran Islam sampai pada detilnya. Akan tetapi Rasulullahsaw tidak melakukan seperti yang  kita perbuat. Justru beliau memilih jawaban-jawaban pendek yang mengena sasaran.

Jawaban pendek Rasulullahsaw  ternyata sangat tepat, Islam adalah kejujuran. Sepertinya sederhana tapi kandungannya luar biasa. Contoh di atas adalah bukti konkrit betapa sesungguhnya dengan kejujuran seseorang tidak akan terjebak tindak kejahatan.

Dalam Islam, kejujuran dijunjung tinggi. Orang boleh menyandang sifat dan kepribadian apa saja. Akan tetapi suatu hal yang tidak boleh melekat pada setiap Muslim yaitu suka berbohong. Sifat ini sangat dibenci oleh Islam.

Suatu kali para sahabat bertanya kepada Rasulullahsaw:

“Apakah ada orang Mukmin yang pengecut ?” Nabi bersabda, “Ada.” Beliausaw ditanya lagi, “Apakah ada orang Mukmin yang kikir ?” Beliausaw menjawab, “Ada.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah ada orang mukmin yang pembohong ?” Beliausaw menjawab, “tidak ada.” (H.R. Imam Malik).

Hadis ini menegaskan bahwa orang mukmin tidak selayaknya berbohong, atau lebih tegasnya lagi, orang yang berbohong itu sesungguhnya telah melepas baju Islamnya. Tak layak seorang yang pembohong mengaku sebagai Mukmin. Kata Nabi, “orang mukmin (pada dasrnya) diberi semua watak dan sifat-sifat kecuali khianat dan bohong.” (H.R Ahmad)

Terhadap sahabatnya yang melakukan kesalahan Rasulullahsaw. Dengan mudahnya memaafkan dan melupakannya. Akan tetapi kepada sahabat yang melakukan , maka sulit baginya untuk melupakannya. Perbuatan orang tersebut sulit hilang dari pikiran sampai ia betul-betul bertobat kepada Allahsaw. Hz. Aisyahra menceritakan dalam sebuah hadistnya, “tidak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullahsaw melebihi bohong. Apabila beliausaw melihat seseorang berbohong dari segi apa saja, maka orang itu keluar dari perasaan hati Rasulullahsaw, hingga beliausaw tahu bahwa orang tersebut telah bertobat.” (H.R. Ahmad).

Kejujuran merupakan salah satu ciri keislaman, sedangkan kebohongan adalah bukti kemunafikan. Orang-orang yang munafik sangat dibenci oleh Islam. Karenanya keberadaan mereka harus selalu diwaspadai, Sifat dan kelakuanya harus dihindari.

Perhatian Allahswt terhadap kaum munafik ini besar sekali. Terbukti dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang orang munafik. Ini isyarat dari Allah Ta’ala betapa berbahayanya kaum munafik itu. Mereka licin bagaikan belut. Perkataanya penuh kebohongan, janjinya tak bisa dipegang, jika dipercaya malah menghianati.

Siapa yang bisa tahan hidup bersama kaum ini ?

Kaum Muslimin wajib menghindari sekecil apapun sifat-sifat kemunafikan. Sejak kecil anak-anak harus dilatih agar tidak berbohong. Selain diberi pelajaran yang lebih penting lagi teladan. Jangan sampai orang tuanya justru yang mendorong anaknya berbuat bohong.

Dalam hadist riwayat Abu Daud dikisahkan bahwa Abdullah bin Amir berkata, pada suatu hari saya dipanggil ibu. Pada saat itu Rasulullahsaw ada di rumah kami. Ibu berkata, Abdullah mari ke sini! Aku akan memberi sesuatu kepadamu.” Rasulullahsaw bertanya kepada ibu, apa yang akan diberikannya? Ibu menjawab, “kurma”. Rasulullahsaw bersabda kepada ibuku, “kalau ibu tidak memberikan sesuatu, maka ibu akan dicatat melakukan satu kali kebohongan.”

Imam Bukhari adalah seorang ahli hadis yang amat mahsyur. Ia dikenal sangat teliti dalam menyaring hadis, hingga ia rela berbulan-bulan yang sangat melelahkan hanya untuk mencari orang yang merawikan hadis. Ini dilakukannya demi pengabdian kepada Islam.

Suatu ketika ia menemukan orang yang sudah dicari dari orang ini diperoleh banyak hadist yang sesuai dengan catatannya. Akan tetapi setelah ia melihat orang tersebut memanggil ayam piaraanya dengan menggenggam tangannya, sementara dalam genggaman tangannya tidak ada apa-apa, maka seketika itu ia meningalkannya. Imam Bukhari berkesimpulan bahwa orang tersebut berbohong kepada ayam piaraanya. Oleh karenanya, ia tidak pantas meriwayatkan hadist.

Dalam Islam, sekecil apapun kebohongan itu tetap dicatat sebagai suatu kebohongan. Seorang ibu yang berjanji akan memberi anaknya sesuatu, tetapi ternyata tidak memberi sama halnya dengan mengajari anaknya berbuat . Kesalahan ibu menjadi dua kali. yang pertama diri sendiri, yang kedua adalah mengajarkan anak berbohong.

Mungkin saja ibu atau bapak menganggap dusta seperti itu perkara remeh. Akan tetapi justru anggapan ini berbahaya sekali. Dikhawatirkan anak-anak meremehkan maslah dusta hingga pada akhirnya tidak merasa bersalah atau berdosa jika melakukannya. Dari dusta kecil, lama-lama terbiasa berdusta dalam masalah-masalah besar.

Tanpa sadar seorang ayah biasa mengajari dusta kepada anaknya. Ketika ada seorang tamu yang tidak disukainya, si ayah memerintahkan anaknya untuk berkata kepada tamu tersebut bahwa ayah tidak di rumah. Pelajaran ini lebih melekat pada jiwa anak dibanding dengan teori-teori tentang kejujuran yang diceramahkan oleh guru, ustadz, atau oleh ayahnya sendiri.

Keadaan santai sering kita gunakan untuk bergurau. Islam tidak melarang umatnya bergurau, asal tetap dalam batasan kejujuran. Akan tetapi jika gurauan itu sudah melampaui batas kejujuran, maka hal ini jelas dilarang. Rasulullahsaw memberi peringatan secara tegas lewat sabdanya:

“Celaka bagi orang yang berbicara supaya orang lain tertawa, kemudian ia berbohong sungguh celaka baginya. Sungguh celaka baginya.”(H.R. Tirmizi) Rasulullahsaw sangat menghindari dusta walaupun ia sedang bergurau.”

Itulah teladan dari Rasulullah saw, agar kita tidak sembarangan melakukan dusta. Kita harus tetap bisa mengontrol diri agar tidak terjebak melakukannya karena bila dusta sudah menjadi kebiasaan, kita akan sulit untuk menghilangkannya. Perlu dididik yang intensif dan sangat ketat untuk membina pendusta. “tidak beriman seorang hamba, hingga ia meninggalkan dusta di dalam kelakar, dan meninggalkannya riya sekalipun ia benar.” (H.R. Ahmad)

 

Sumber Gambar: https://gey4641.wordpress.com/2013/12/02/regret/

Tentang Penulis

Rafi Assamar Ahmad

Tinggalkan komentar