Opini

Sel-sel Daesh di Indonesia: Bahaya Laten di Pelupuk Mata

daesh
Penulis Adi Nasir

Belum lama telah pecah konflik antara kelompok Maute yang mengklaim dirinya sebagai sayap dari (selanjutnya ) Al-Baghdadi dengan tentara pemerintah di kota Marawi, Mindanao pada penghujung bulan Mei 2017. Kelompok ini berkeinginan mengubah Mindanao sebagai bagian dari kekhalifahan.

Kelompok ini terdiri dari tak hanya milisi asli Filipina, namun juga radikalis yang berasal dari negara tetangga, seperti dan Malaysia. Kali ini yang terjadi di Mindanao bukan lagi pemberontakan warga Filipina, namun telah menyebar menjadi sebuah invasi oleh teroris asing dengan mengusung seruan Daesh (Sebutan untuk ISIS) jika mereka kesulitan untuk pergi ke Irak atau ke Suriah. Akan halnya sepak terjang Daesh di Irak dan Suriah, segala cara mereka lakukan untuk mengukuhkan keberadaannya. Orang yang mereka anggap kafir, entah itu Kristen atau Muslim, turut menjadi sasaran. Segala praktik kekejaman mereka obral; tua-muda, wanita dan anak-anak menjadi korbannya. Pada situasi di Filipina juga mengkhawatirkan, Daesh telah meradikalisasi sejumlah pemuda Muslim Filipina.

Menyadari letak geografis Filipina dan Indonesia yang dekat dan kaitannya dengan geliat Daesh yang berusaha mendirikan basis baru di Asia Tenggara, khususnya Filipina Selatan, pastinya terpikirkan jika Daesh merangsek masuk ke Indonesia. Khawatir? wajar saja jika kita merasa demikian.

Dengan ancaman dan teror bom, hingga munculnya klaim atas nama Daesh atas kejadian peledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta, tak ayal menimbulkan resah warga.

Semua hal tersebut menjadi mungkin karena adanya kesamaan ide maupun pikiran (connective action): mendirikan negara Islam di Indonesia dengan kekhalifahannya.

Masuknya bagaimana? apakah mereka akan datang dengan sejumlah pasukan? Kecil kemungkinannya bila seperti itu, mengingat besarnya tekanan pemerintah (baik Filipina maupun Indonesia) terhadap organisasi dan kekuatan semacam ini. Bila perlu, tumpas hingga ke akarnya.

Namun kali ini caranya membuat mereka (yang sepaham dengan Daesh) sulit dideteksi oleh pihak yang berwajib: pembentukan sel-sel kecil yang diyakini sebagai strategi baru Daesh setelah mereka dan organisasi teroris lainnya berhasil ditekan oleh kepolisian. Disebutkan oleh pengamat masalah terorisme, Noor Huda Ismail, pola rekrutmen Daesh seperti ini sulit dideteksi karena hampir semua yang direkrut adalah orang-orang baru dan tidak pernah ikut jaringan manapun sebelumnya.

Apa yang membuat mereka terhubung sedemikian rupa?

Ide-nya. Awalnya hanya sepakat dengan idenya saja, tapi kemudian terkoneksi dengan grup WA, Telegram dan media lain yang memungkinkan. Ini fenomena yang agak mengkhawatirkan, demikian analisis Noor Huda Ismail. Melalui media sosial itulah, kelompok-kelompok kecil ini ‘bergerak’. Jika tak bisa hijrah atau bergabung dengan Al-Baghdadi/ Daesh di Suriah, maka lakukan saja di sini (Indonesia).

Dalam hal ini, TNI dan Polri diharapkan lebih waspada terhadap segala kemungkinan tumbuhnya sel-sel kelompok Daesh di tanah air. Dipaparkan oleh ketua Komisi III DPR, Bambang Soesatyo; pertama, pasca kekalahan Daesh di Aleppo, tak menutup kemungkinan pasuka Daesh akan keluar dari kawasan itu jika terus-menerus digempur. Telah terungkap pula oleh Panglima TNI dan Presiden Filipina akan rencana Daesh membangun basis di Filipina Selatan untuk mewujudkan kekhalifahan baru di Filipina, Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam.

Kedua, rencana itu juga relevan jika dikaitkan dengan kembalinya puluhan simpatisan Daesh yang merupakan WNI ke tanah air.

Ketahanan nasional akan mengalami ujian berat jika rencana Daesh membangun basis di Asia Tenggara tidak segera ditangkal. Ada gelagat bahwa sel-sel terorisme di Indonesia memberi respon positif atas rencana itu. Diperlukan perlakuan hukum ekstra tegas terhadap para terduga dan tersangka teroris, dikatakan Bambang Soesatyo, “Termasuk kepada mereka yang diduga sebagai simpatisan Daesh di dalam negeri, harus dilumpuhkan agar mereka tidak memiliki peluang mewujudkan basis Daesh di Asia Tenggara”.

Presiden Joko Widodo menegaskan dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Pancasila, bahwasanya saat ini kebhinekaan bangsa tengah diuji, antara lain oleh sikap intoleran, radikalisme, terorisme, yang diperburuk dengan penyalahgunaan media sosial untuk menyebarkan hoax atau berita bohong.

Dari sekian banyak pengalaman buruk negara lain akan hal-hal tersebut, seyogyanya banyak hal yang dipetik hikmahnya bagi kita, bangsa Indonesia untuk menghindari masalah teersebut. Kita dapat hidup rukun dan bergotong royong membangun negeri di tengah kemajemukan. Beliau menyebutkan, tiada jalan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, bijak, berjiwa gotong royong dan toleran.

Rasulullah SAW bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang beriman dan tidak beriman tanpa ada rasa kasih sayang. Sebarkanlah perdamaian”. (HR Ahmad, dalam kitab Baqi Musnad al-Mukatstsirin, No. 9788, 9332 dan 8722)

————————————————

sumber:

https://international.sindonews.com/read/1208220/40/militan-sayap-isis-asal-indonesia-termasuk-yang-dihabisi-filipina-1495775203

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38391497

http://nasional.kompas.com/read/2016/12/30/11155871/2017.indonesia.diminta.lebih.waspadai.geliat.isis.di.tanah.air

http://news.liputan6.com/read/2973374/pidato-lengkap-jokowi-di-upacara-hari-lahir-pancasila

Sumber Gambar: http://www.independent.co.uk/news/uk/politics/why-david-cameron-is-going-to-start-calling-isis-daesh-a6756981.html

Tentang Penulis

Adi Nasir

Tinggalkan komentar