Opini Satire

Kesehatan: Selalu ada kepentingan untuk ROKOK

Tulisan Bang Deny Siregar tentang “Merokok itu Perang” memberi saya sebuah pencerahan. Sebelumnya, saya telah terperdaya dengan data dari Kang Tere Liye. Memang, tulisan Kang Tere sangat aduhai, selalu dapat mengacak-ngacak perasaan. Tapi, entahlah. Apakah diktum “kenaikan rokok sebagai solusi mengurangi konsumsi rokok” ini fiksi atau fakta? Kalau fiksi, Kang Tere jagonya.

Saya takjub saat membaca berita di sebuah media online. Ada sejumlah uang, sekitar empat juta dolar (sekitar empat triliun rupiah) untuk perangi rokok. Dana ini digalang bersama oleh Bloomberg Philantropies dan Bill and Melinda Gates Foundation.

Membacanya, saya merasa Bloomberg dan Gates Foundation tengah berjihad melawan kemunkaran. Rokok ini merusak generasi . Kerusakannya jauh melampaui kerusakan yang diakibatkan oleh “”. Nilai atas kampanye anti-rokok melampaui atas pacaran, bukan begitu?

Malah, Tempo(dot)com membuat sebuah headline “Lawan Rokok, Bloomberg sumbang 385 triliun rupiah”. Angka yang fantastis untuk sebuah “sumbangan”. Dermawan sekali seorang Michael Bloomberg.

Setelah membaca tulisan Bang Deny. Kecurigaan saya tentang sumbangan yang nol-nya susah dihitung itu terbukti. Apakah dana sebesar itu murni untuk amal? Angka sebesar itu sangat tidak masuk akal bagi kaum kapitalis.

Mematikan industri rokok untuk menghidupkan industri farmasi. Itulah pesannya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, meski itu dikatakan untuk amal.

Kita pasti bertanya-tanya, kok bisa begitu? Untuk apapun bisa. Kenapa bisa muncul virus? Sebab, banyak orang tergiur untuk berbisnis anti-virus. Kegaduhan harus dibuat, untuk menjual ketenteraman. Keburukan harus dibuat, untuk menjual kebaikan.

Rokok dipropagandakan merusak kesehatan, membuang percuma uang, merusak generasi muda. Kegaduhan ini harus dibuat. Sehingga, orang-orang harus menjauh dari rokok.

Propaganda tersebut melahirkan sebuah . Rokok harus dibatasi. Kalau perlu dimahalkan saja. Agar generasi muda tak mampu membelinya.

Kita tidak sadar. Masalah rokok bukan masalah harga. Ini masalah ketergantungan akan “nikotin”. Suatu zat yang mampu menstimulasi rasa rileks dan semangat dalam otak. Rasa ini memberikan efek ketagihan. Serupa dengan rasa rindu yang datang tiba-tiba. #ehh

Ini adalah perang. Perang antara industri rokok dan industri farmasi. Apa yang diperebutkan? Palestina? Bukan. Tapi “nikotin”, lebih tepatnya pasar nikotin.

Manusia di dunia punya ketergantungan yang kuat akan nikotin. Saat perusahan rokok tak mampu lagi memproduksi rokok sebagai penyedia nikotin, masuklah perusahaan farmasi.

Mereka akan membuat “permen” anti rokok dengan rasa nikotin. Tidak cuma permen, obat pengurang kecanduan rokok juga. Malah, koyo untuk mengurangi kebiasaan merokok.

Kegaduhan yang menghabiskan jutaan dolar itu akan tertutupi alias balik modal dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Setelah itu, hanya keuntungan demi keuntungan didapat. Itulah mengapa, Melinda Gates punya saham di sebuah perusahaan farmasi. Bukankah ini investasi yang menggiurkan?

Dan adalah pasar nikotin yang menggiurkan. Industri rokok subur-makmur di sini. Harga rokok terjangkau, tidak ada pembatasan penjualan yang benar-benar nyata, dan konsumsi rokok sangat tinggi. Apalagi punya ketergantungan yang tinggi akan cukai rokok.

Makanya, Banyak LSM yang menerima dana asing untuk mengkampanyekan anti rokok. Tujuannya memang mulia. Untuk menyelamatkan moral bangsa. Tapi, pemegang modal selalu tahu caranya memanfaatkan keluguan manusia.

Saya bukan tidak setuju kalau harga rokok naik. Tapi, apakah kenaikan itu punya dampak nyata dalam mengurangi jumlah perokok remaja? Sebuah riset di Amerika justru menunjukkan bahwa kontrol harga tak berpengaruh banyak untuk menurunkan jumlah perokok muda.

Memang, remaja akan sangat sensitif dengan harga. Tapi, apakah itu menjamin mereka benar-benar berhenti merokok saat mereka cukup secara finansial?

Tidak ada jalan yang aman untuk masalah rokok. Jika harga rokok naik, anda berhenti merokok. Lalu, industri rokok hancur. PHK di mana-mana. Demo bermunculan. Pemerintah kewalahan.

Kemudian, para perokok masuk dalam ketergantungan obat, permen atau koyo. Cerita horor tentang rokok berakhir, masuk ke cerita horor berikutnya. Sementara, para kapitalis asyik menonton sambil menghitung keuntungan dengan jumlah nol tak terhingga.

Diam terkait isu kenaikan rokok pun bukan jawaban untuk menyelesaikan masalah rokok. Kok jadi serba salah gini?

Baiklah…

Saya coba bertanya kepada diri saya sendiri. “Apa yang bisa anda tawarkan supaya orang-orang berhenti merokok, tapi tak terjebak dalam permainan industri farmasi?”

Saya coba menjawab begini:

Kuncinya ada di lingkungan kita . Sulit berhenti merokok meski harganya sudah naik sebabnya adalah belum menemukan lingkungan yang bebas rokok. Meski tanpa tulisan “Dilarang Merokok!” di dalamnya.

Saya pernah punya pengalaman unik. Ini terjadi saat acara Jalsah Salanah (pertemuan tahunan Jemaat ) di Lombok. Bersama rombangan saya ada seorang mubayyin (orang yang baru masuk ). Namanya Pak Amin, seorang perokok berat.

Saya beserta teman sudah peringatkan Pak Amin. “Pak, di area masjid, atau tempat berlangsungnya acara, diharapkan tidak merokok. Boleh merokok kalau di luar itu.”

Selama acara jalsah yang berlangsung 3 hari, ditambah beberapa hari sebelum dan sesudahnya, yah sekitar seminggu, Pak Amin benar-benar tidak merokok. Saya tanya, “Pak Amin kok bisa tidak merokok selama seminggu?”

Jawabnya sederhana, “Yah bisa. Ini barang (rokok) kok yang kita kendalikan, bukan dia yang kendalikan kita.”

Lingkunganlah yang membuat Pak Amin mampu mengendalikan rasa asam pada mulutnya. Lingkungan seperti ini akan banyak kita jumpai di masjid-masjid milik Ahmadiyah. Sulit sekali menemukan abu, apalagi puntung rokok di dalamnya.

Mau kurangi konsumsi rokok? Mau berhenti merokok? Ciptakanlah lingkungan yang bebas rokok. Lingkungan yang lahir bukan atas sebuah larangan. Tapi kesadaran bahwa tidak merokok itu lebih baik. Sebab, kesadaran memiliki hukuman yang lebih menyakitkan ketimbang larangan.

Tidakkah jauh lebih menyakitkan dikucilkan karena merokok ketimbang disuruh merokok satu bungkus sekaligus sebagai hukuman karena melanggar?

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

1 komentar

  • Ada pertanyaan titipan nih dari kawan saya:

    “Gagasan tulisannya gak masuk logikaku nih.
    Bgmn mungkin perusahaan farmasi mendanai kampanye anti rokok. Padahal dg banyaknya rokok banyak pasien yg menderita dan menggunakan obat ( farmasi ).”

    Terima kasih ya. JzKml-Lh…

Tinggalkan komentar