Opini

Sepenggal Catatan Pasca Pemutaran Film “Pengkhianatan G30S/PKI”

pengkhinatan g30s pki
Penulis Satria Utama

Setelah menjadi polemik selama beberapa pekan terakhir, tadi malam akhirnya sebuah stasiun televisi menayangkan kembali secara nasional film “Pengkhianatan ”. Pro dan kontra yang mewarnai polemik berkisar antara perlu atau tidaknya film tersebut kembali ditayangkan.

Berbagai alasan disuarakan oleh tiap pihak, mulai dari layak atau tidaknya tayangan tersebut sebagai tayangan seluruh warga mengingat terdapatnya adegan kekerasan di dalamnya, hingga fakta sejarah yang (katanya) bertentangan dengan isi film tersebut.

Saya tidak ingin ikut-ikutan memperdebatkan hal tersebut, toh film tersebut sudah ditayangkan, bahkan Presiden Joko Widodo bersama beberapa warga Bogor mengikuti acara nobar yang diadakan di Makorem Kodam III Siliwangi Bogor. Saya ingin mencoba menyelami pelajaran apa yang bisa kita ambil dari pemutaran film tersebut).

biadab, pengkhianat bangsa, tukang fitnah, pemutar balik fakta, harus musnah dari muka bumi Indonesia”, demikian beberapa komentar yang saya dapat dari grup percakapan alumni sekolah saya. Anda setuju jika pelajaran itu yang bisa kita dapat? Jika anda jawab ya, maka dua jempol saya acungkan…ke bawah.

Sabar Bung, sebelum anda mulai bertakbir dan menuding saya antek PKI, alangkah lebih baiknya untuk menahan diri sejenak dan ikuti uraian saya hingga tuntas. Bisa? Dua jempol ke atas saya acungkan jika anda bisa.

Kembali ke masalah film, saya harus menyampaikan pendapat saya secara tegas bahwa adalah suatu kesia-siaan jika hanya itu yang bisa anda pelajari. Anda telah berhasil dipengaruhi oleh suasana mencekam dari ilustrasi musik yang kelam sepanjang film tersebut. Dipengaruhi oleh gambaran manusia menjijikan dari percakapan panjang yang menampilkan gerak bibir satu layar penuh. Dipengaruhi oleh visualisasi mengerikan adegan sadis penyiksaan para Jenderal yang diculik.

Tanpa sedikitpun bermaksud mengecilkan perasaan keluarga para korban kekejaman PKI yang diperlihatkan dalam film tersebut, saya hanya ingin mengingatkan bahwa jika hanya PKI yang anda kecam sedemikian rupa maka jika ada bentuk baru dari gerakan serupa anda tidak akan bisa menyadarinya sebelum semuanya terjadi.

Tap MPRS no. XXV tahun 1966 selain berisi tentang pembubaran dan pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang, juga mengeluarkan larangan penyebaran dan pengembangan paham atau ajaran komunisme. Itu sudah cukup untuk menjamin bahwa organisasi tersebut tidak akan bisa terbentuk kembali di bumi Indonesia ini, namun bagaimana halnya jika ada kelompok tertentu yang berupaya untuk mengulang sejarah kelam tersebut dengan meniru cara-cara yang telah ditempuh?

Adalah suatu kenaifan, jika kita semua memasang alarm tanda bahaya untuk mendeteksi kemungkinan bangkitnya sebuah organisasi yang mengusung nama PKI atau setidaknya ada atribut “Komunisnya” lengkap dengan lambang kebesaran mereka yaitu palu dan arit. Shakespeare pun berkata,”Apalah arti sebuah nama?” karena yang harus kita waspadai bukan nama, atau simbol-simbolnya.

Jika anda berteriak “PKI pengkhianat bangsa” karena bermaksud mengganti Pancasila dengan faham komunisme, apakah anda akan diam jika ada kelompok yang juga ingin mengganti Pancasila dengan syariat agama tertentu misalnya?

Jika menurut anda “PKI biadab” karena telah menculik, menyiksa dan membunuh para Jenderal TNI, lalu apakah anda akan berkata bahwa tentara ISIS yang bertakbir lalu menggorok leher tawanan dan memperkosa para perempuan daerah taklukan sebagai jihadis? Atau anda juga mendukung sekelompok ormas yang kerap berteriak darah penganut Syiah dan Ahmadiyah halal? Naudzubillah…

Jika PKI berusaha menutupi upaya kudetanya dengan melancarkan fitnah tentang adanya Dewan Jenderal, maka bagaimana sikap anda terhadap serangan fitnah tak berdasar (hoax) yang kerap ditujukan pada pemimpin negara kita dengan tujuan untuk menggoyang jabatannya?

Mungkin beberapa dari anda ada yang berkata,”Baru diserang hoax, belum disiksa dan dibunuh…”, maka saya ingin mengutip firman Allah Taala dalam surah Al-Baqarah:191 yang mengatakan bahwa:

“Fitnah itu dosanya lebih besar daripada pembunuhan”

Tidak perlu saya jelaskan bahwa penyebaran hoax adalah suatu bentuk fitnah dan itu berarti para penyebar hoax, seperti kelompok SARACEN, adalah kelompok pelaku kekejaman yang melebihi pembunuhan.

Bung, jika anda berniat untuk memegang pentungan erat-erat menunggu kesempatan untuk menggebuk kepala mahluk yang bernama PKI muncul, maka sampai masa jabatan periode keduapun belum tentu akan muncul.

Tapi jika yang anda tunggu untuk dipentung adalah gerakan-gerakan yang meniru cara-cara PKI dalam mencoba merebut kekuasaan, dengan pemaksaan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, dengan menebar fitnah, dengan menebar teror ketakutan, pamer kekerasan, dan menghalalkan segala cara, maka saya cuma bisa bilang,”Loe ke mana aja selama ini bung?”.

Kesimpulannya, tanpa ada niatan untuk melupakan dan mengubur hantu PKI, saya mengajak anda semua untuk mengalihkan pandangan dari label itu berikut atribut logonya yang kerap dijadikan atraksi para pendemo untuk dibakar. Mari kita lebih memfokuskan perhatian kita terhadap cara-cara kotor yang saat ini juga telah banyak dipraktekkan oleh kelompok-kelompok tertentu demi tercapainya agenda tersembunyi mereka.

Banyak sekali orang-orang baik yang menjadi korban akibat penyebaran fitnah, pemaksaan kehendak, penyalahgunaan kekuasaan/ pengaruh, dan kita hanya berteriak: Awas PKI?

Sudah mulai terbuka mata anda? Jangan khawatir saya tidak akan mengacungkan jempol saya ke bawah jika anda masih berkeras dengan pendapat anda. Saya hanya akan mendoakan semoga kelak, suatu saat, entah di masa pemerintahan siapa, mata anda akan terbuka dan bisa lebih memahami apa yang saya lihat dan rasakan sekarang, dan dengan sungguh-sungguh saya berdoa agar kita senantiasa dijauhkan dari ancaman terhadap keutuhan bangsa kita. Amin.

1) https://m.detik.com/news/berita/d-3664525/jokowi-nonton-film-g30spki-di-makorem-bogor

Sumber Gambar: http://www.bintang.com/celeb/read/2329978/5-tokoh-penting-dalam-film-pengkhianatan-g-30-spki

Tentang Penulis

Satria Utama

Tinggalkan komentar