Opini

Soal Agama, Bertanyalah Kepada Ulama Jangan Ke Google  

google

Membaca fenomena zaman sekarang, banyak sekali anak muda yang belajar Agama hanya lewat Mbah Google.

Sebuah pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan! Suka bertanya? Hati-hati disesatkan! Bertanya kepada Google? Besar kemungkinan disesatkan.

Seringkali orang keliru menjadikan Google sebagai tolok ukur kebenaran. Caranya dengan melihat jumlah hasil apa yang ditampilkan Google ketika suatu masalah dicari. Padahal kebenaran itu tidak pernah diukur berdasarkan jumlah viewers, sebab kebenaran tidak sama dengan demokrasi.

Al-Quran mengatakan:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan di minta pertanggung jawabannya” (Q.S 17:37)

Sungguh memprihatinkan ketika banyak fenomena berbicara tanpa ilmu dan menjawab pertanyaan mengenai Islam dalam berbagai kasus dan menyampaikan fatwa dari kesimpulan mereka sendiri yang referensinya kebanyakan diambil dari google.

Saya sama sekali tidak melarang untuk mencari informasi dari google. Namun perlu diketahui google adalah mesin pencari sumber informasi dan berfungsi sekedar memberi clue atau jejak saja. Sumber yang kita temukan masih harus ditelusuri lebih lanjut, entah nanti sejak itu sampai ke tempat yang benar atau juga ke tempat yang tidak benar. Buat google, benar salahnya informasi itu tidak ada urusan.

Lalu harus bagaimana? Mari kita tuang segelas kopi dulu untuk membahasnya.

Islam adalah agama yang sempurna dalam membahas segala sendi kehidupan. Oleh karena itu Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya sesuatu kepada ahlinya.

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 44)

Ilmu adalah keahlian dan setiap keahlian membutuhkan ahlinya, maka untuk mempelajarinya membutuhkan muallimnya yang ahli, tentu dalam hal ini adalah ulama.

Ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah ism fail dari kata dasar: ’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu. Dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu.

Baru-baru ini PP Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia (Organisasi Kepemudaan Ahmadiyah) membuat program ” Cinta Mubaligh”. Tentu program ini jangan diartikan sebagai seremonial saja, akan tetapi dalam program tersebut terdapat pesan bahwa kita harus sering sowan dan bertanya segala sesuatu kepada Mubaligh. Ini penting untuk menjaga sanad keilmuan kita.

Sanad adalah sandaran yang dapat dipercaya atau kaki bukti (menurut bahasa). Ini sangat penting untuk mencegah kita berbicara semaunya atau seenaknya karena dengan sanad maka hal-hal yang diajarkan Rasulullah SAW akan terjaga keaslian ilmunya.

Bari para ahmadi, mendapatkan bimbingan rohani secara langsung oleh Khalifah yang meneruskan ajaran Imam Mahdi a.s merupakan suatu keharusan dan kebutuhan. Dan, Mubaligh adalah kepanjangan tangan Khalifah, maka Mubaligh adalah salah satu jalur ilmu yang penting untuk sampai pada pemahaman yang diajarkan oleh yang Mulia Rasulullah SAW.

Sowan kepada Mubaligh tidak bisa digantikan dengan baca-baca buku dan browsing internet. Pahala duduk dalam majelis ilmu, keutamaan duduk dalam majelis-majelis dzikir, manfaat mendengar penjelasan Mubaligh, jelas tidak bisa didapat dengan duduk berlama-lama memencet keyboard dan meng-klik mouse.

Dan menghadiri Majlis Ilmu ini bukan hanya sekedar saat kita ingin bertanya tentang masalah hukum agama saja. Sowan kepada Mubaligh ini memang banyak fadhilahnya. Dan untuk menanyakan persoalan pun, sebenarnya tidak sopan kalau cuma chatingan, tapi akan lebih ber-adab jika berkunjung dan meminta nasehat langsung. Tentu saja, saat-saat darurat, tidak mengapa jika terpaksa menelepon atau  mengirim chat di WhatsApp.

Mari seruput dulu kopinya. (Ternyata sudah dingin)

Sumber Gambar: http://ar-rahman.or.id/tanda-tanya-untuk-film/

Tentang Penulis

Usama Ahmad Rizal

Tinggalkan komentar