Opini

Spirit Kartini untuk Masa Kini

kartini

Saat wanita mulai mempunyai asa,,

Takkan ada yang mampu menampiknya..

Pagi yang cerah di tanggal 21 April 2017 ini terasa berbeda bagiku. Ya, hari ini memang hari disaat semua anak – anak hingga dewasa, dari sekolah Taman Kanak – kanak hingga para PNS & karyawan swasta, tengah disibukkan dengan kelengkapan atribut budaya Nasional di perayaan Hari . Rasanya seperti berada dalam suasana yang kental akan kebudayaan. Semua bersatu padu menampilkan pakaian & atribut budaya yang mewakilkan setiap suku di seluruh penjuru Indonesia. Gumamku, “indahnya,, damainya,, keaneragaman suku budaya tanpa adanya tendensi

Di tengah hiruk pikuk di luar sana yang menyajikan keanekaragaman suku budaya yang kental dalam peringatan Hari Kartini, aku merasa ada yang berbeda di Hari Kartini tahun ini. Aku, si ibu rumah tangga yang setiap tahunnya hanya sebagai penikmat perayaan Hari Kartini, merasakan sesuatu yang sangat berbeda dihari ini. Mengapa tidak, aku sungguh tak menyangka, Taman Belajar Al -Masroor yang selama ini ku dirikan dengan dukungan dari suamiku terpampang jelas di sebuah harian Jawa Pos. Bukan, bukan kebanggaan dan rasa besar kepala yang membuncah di dalam kepalaku. Yang kurasakan hanyalah sebuah ketidakpercayaan. 3 tahun kujalani pengabdianku pada Taman Belajar Al Masroor ternyata dapat diapresiasi oleh sebuah harian nasional. Belum lagi, momennya yang terbit pada saat peringatan hari kartini. Entahlah antara kebetulan atau ketidaksengajaan. Namun rasa yang berbeda ini masih terus menghinggapi kepalaku hingga saat ini.

Ya, sebuah foto dan berita mengenai Taman Belajar Al Masroor memang terbit di harian nasional tersebut. Mungkin, bagi banyak orang itu hanyalah hal yang biasa. Namun bagiku, ini merupakan hal yang luar biasa. Bukan, sekali lagi bukan tentang kebanggaan yang luar biasa. Namun ini menjadi tanggung jawab yang luar biasa untuk ku. Aku diharuskan lebih dan lebih lagi mengabdi untuk anak – anak Al Masroor. Jujur, pengabdianku pada mereka tanpa ada niat terselubung. Berjalan mengalir layaknya air. Yang kumau hanyalah dapat menebarkan cinta kasih untuk mereka, dan tentunya, walaupun sedikit yang kubisa, kuingin bermanfaat untuk mereka.

Aku sangat yakin, bukan hanya diriku yang memimpikan dapat bermanfaat untuk orang lain. Banyak para wanita yang memimpikannya, bahkan tak hanya mimpi, mereka  sudah lebih jauh bermanfaat bagi orang lain. Hipotesisku, wanita yang sekarang ini meraih mimpi – mimpinya & terus menebarkan manfaat untuk orang lain tak lepas dari sosok Kartini di masa lalu.

Bersyukurnya ada sosok Kartini di masa lalu. Yang menjadi spirit untuk kartini – kartini di masa kini. Entahlah, jika dimasa lalu sosok Kartini itu tidak ada. Bukan hal yang mudah menemukan kata emansipasi wanita di saat ini. Mungkin, jangankan untuk bisa membagi diri dan bermanfaat untuk orang lain, para wanita hanya terpenjara dibalik kata wanita yang sejatinya harus selalu ada dikungkungan aturan yang tidak semestinya.

Emansipasi wanita yang saat ini dinikmati para wanita mandiri dan dapat berdiri sendiri adalah hasil perjuangan kartini di masa lalu. Habis gelap terbitlah terang, kegelapan untuk para wanita mulai terang benderang dari hasil jerih payahnya. Semoga kita para wanita yang sejatinya dapat menjadi para kartini di masa kini, dapat menjadi penerang disekitar kita. Namun, ingatlah emansipasi ini tidak untuk melupakan fitrat kita sebagai wanita yang sejatinya tetap harus mengadi pula pada pasangan hidup di dunia ini. Meskipun sudah dapat berdiri sendiri, tetaplah menjadi para wanita yang taat pada sang suami.

Terima kasih ibu Kartini,,

saat ini, kami para wanita yang mempunyai asa,

tak akan sulit meraihnya karna dikungkung aturan yang tak semestinya..

Kami akan terus berusaha meraih mimpi – mimpi kami,,

Hingga asa akan menjadi realita disaat nanti..   

Emansipasi ini akan terus kami nikmati,,

Dan semoga bukan emansipasi yang ‘kebablasan’ yang menyakiti hati para lelaki..

 

Sumber gambar : http://www.aquila-style.com/focus-points/raden-ajeng-kartini-indonesias-champion-of-education-for-women/63853/

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar