Kebangsaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (10/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun

Penggalan kesepuluh | ISU mengada-ada dan fitnah

 

 

Isu Mengada-ada dan Fitnah Spirit perdamaian di Indonesia Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang

Ilustrasi Isu Mengada-ada dan Fitnah

DALAM wacana publik tanah air ada berkembang opini: Ahmadiyah bukan Islam, Ahmadiyah tidak mengakui Nabi sebagai Khātama’n-Nabiyyīn; Ahmadiyah punya nabi baru ke-26 bernama Mirza Ghulam Ahmad; Ahmadiyah punya kitab suci baru bernama ; Ahmadiyah punya syahadat baru, tiga kalimah, bukan dua kalimah; hingga, Ahmadiyah punya kiblat baru: -, bukan Baitullah-.

Isu mengada-ada dan fitnah tersebut telah melahirkan berbagai teror terhadap Ahmadiyah: teror mental, teror fisik, dan teror .

Teror mental adalah mengancam membunuh warga Ahmadiyah.

Teror fisik adalah terjadinya penutupan-penyegelan pusat-pusat kegiatan Jamaah Ahmadiyah, pembumihangusan, pembakaran perkampungan-perkampungan serta pengusiran warga Ahmadiyah dari kampung halamannya, dan pembunuhan secara sadis tiga warga Ahmadiyah di Cikeusik, , Banten.

Dan, teror Politik yaitu terbitnya ‘Nomor 3 Tahun 2008’, ‘Nomor Kep-033/A/JA/6/2008’, dan ‘Nomor 199 Tahun 2008’, yang “mengikat” tangan serta kaki, membungkam warga Ahmadiyah agar tidak berbicara kepada publik terkait keyakinannya.

 

AHMADIYAH berakidah sesuai dengan ‘Rukun Iman enam perkara’, dan beribadah sesuai dengan ‘Rukun Islam lima perkara’.

Ahmadiyah meyakini itu Esa, dan meyakini Muhammad adalah nabi dan rasul-Nya.

Ahmadiyah mengikrarkan dua kalimah syahadat: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allāh, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allāh.

Dengan akidah tersebut, Ahmadiyah meyakini: Ahmadiyah adalah Islam. Dan, Ahmadiyah meyakini, Islam adalah agama yang sempurna serta lengkap dan satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai “kesatuan” dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis, “Inti dari kepercayaan saya ialah «Lā ilāha illa’l-Lāhu, Muḥammadu’r-rasulu’l-Lāhu—tiada tuhan selain Allāh, Muhammad adalah utusan Allāh».

“Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini dan yang pada-Nya kami—dengan rahmat dan karunia Allāh—berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah bahwa junjungan dan penghulu kami, Nabi Muhammad saw., adalah Khātama’n-Nabiyyīn dan Khairu’l-Mursalīn, yang termulia dari antara nabi-nabi.

“Di tangan beliau [saw.], hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini, pada waktu sekarang, adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.”[1]

“Tiada agama bagi kami kecuali agama Islam dan tiada kitab bagi kami kecuali Al-Qur’ān kitab Allāh Yang Maha Tahu. Tiada nabi panutan bagi kami kecuali Nabi Muhammad—-saw..”[2]

Ahmadiyah meyakini Al-Qur’ān adalah kitab suci samawi yang diwahyukan Allāh kepada Nabi Muhammad saw.. Ahmadiyah meyakini, Al-Qur’ān adalah Khātamu’l-Kutub.

Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis, “Tidak ada kitab kami selain Al-Qur’ān-syarīf, dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad-musthafa–ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada agama kami kecuali Islam dan kita mengimani bahwa nabi kita, Muhammad—ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam—adalah Khātamu’l-Anbiyā’ dan Al-Qur’ān-syarīf  adalah Khātamu’l-Kutub”.[3] Ahmadiyah tidak pernah meyakini Tadzkirah sebagai kitab suci Ahmadiyah. Yang mengatakan Tadzkirah merupakan kitab suci Ahmadiyah adalah mengada-ada dan fitnah.

Ahmadiyah meyakini dan sangat meyakini, Nabi Muhammad saw., adalah Khātamu’n-Nabiyyīn.

Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis, “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi, serta kami beriman, beliau adalah “Khaataman-nabiyyin”.[4]

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Khātamu’l-Anbiyā’. Seorang yang tidak percaya pada khātamu’n-nubuwwah beliau saw. adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar lingkungan Islam.”[5]

Yang mengatakan Ahmadiyah tidak meyakini Nabi Muhammad saw. sebagai Khātamu’n-Nabiyyīn adalah mengada-ada dan fitnah, dan tidak paham Ahmadiyah.

Ahmadiyah meyakini, karena Nabi Muhammad saw. adalah Khātamu’n-Nabiyyīn, maka sesudah beliau tidak akan ada lagi nabi yang datang, nabi yang membawa syari‘at atau pun nabi yang tidak membawa syari‘at dan berdiri sendiri—tasyri‘-ghairi tasyri‘ mustaqil (nabi haqiqi), atau nabi lama—seperti nabi Isa a.s. yang diyakini akan datang pada Akhir Zaman, ataupun nabi baru—nabi yang membawa agama baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru.

Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersabda “Saya dengan sangat yakin dan dengan pendakwaan mengatakan bahwa potensi-potensi nubuwwah atau kenabian telah berakhir pada wujud Rasulullah saw..

“Orang yang menegakan suatu silsilah baru menentang beliau saw. dan yang memisahkan diri dari kenabian beliau saw. lalu memaparkan suatu kebenaran dan meninggalkan mata air kenabian itu, adalah pendusta dan penipu.

“Saya katakan dengan sejelas-jelasnya bahwa terkutuklah orang yang meyakini orang lain di luar Rasulullah saw. sebagai nabi sesudah beliau saw. dan yang merubuhkan Khaatamun-Nubuwwat beliau saw. Itulah sebabnya sesudah Rasulullah saw. tidak bisa datang lagi nabi yang tidak memiliki cap/stempel kenabian Nabi Muhammad saw”.[6]

“Untuk itu, hal ini telah ditetapkan hingga hari kiamat, bahwa seseorang yang tidak membuktikan kedudukannya sebagai ummati, melalui sikap mengikuti secara hakiki dan tidak menjadikan segenap wujudnya mabuk dalam mengikuti beliau saw., orang seperti itu sampai hari kiamat tidak akan dapat memperoleh suatu wahyu sempurna dan tidak pula dia dapat menjadi mulham kamīl (penerima ilham sempurna). Sebab, kenabian mustaqil telah berakhir pada wujud Rasulullah saw..”[7]

“Dan hakikat yang sebenarnya, saya berikan kesaksian sepenuhnya, Nabi kita, Muhammad saw., adalah Khātamu’l-Anbiyā’. Sesudah beliau saw. tidak ada lagi nabi yang datang baik ‘nabi lama’ maupun ‘nabi baru’.”[8]

Yang mengatakan Ahmadiyah punya nabi baru, punya kitab suci baru, dan punya kalimah syahadat baru,  adalah mengada-ada dan fitnah, tidak paham Ahmadiyah.

 

(BERSAMBUNG)

[1] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891, hal.137

[2] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Anjami Atham, hal. 143

[3] Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld.5, No. 4

[4] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tuhfatu Baghdad : 23

[5] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir wajibul I’lan, 1891

[6] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Al-Hakam, 10 Juni 1905, hal. 2

[7] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Hakikatul Wahyu, hal. 27-28

[8] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Anjam-e-Atham, catatan kaki, hal. 27-28

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar