Kebangsaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (11/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun
Penggalan kesebelas | KEDUDUKAN Ḥaḍrat a.s. dalam keyakinan

 

KEDUDUKAN Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dalam keyakinan Ahmadiyah Spirit perdamaian di Indonesia (11/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis promised_messaih_group_1

KEDUDUKAN Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dalam keyakinan Ahmadiyah. (Ilustrasi dari dokumentasi Dewan Naskah JAI)

PENDIRI Jamaah Muslim Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah seorang fanā fi’l-Lāh dan fanā fi’r-Rasūl—saw..

Kefanaannya kepada Nabi telah mengantarkan Mirza Ghulam Ahmad menjadi ḍil atau bayangan Nabi maupun burūz atau cerminan Nabi .

Kefanaannya kepada Nabi Muhammad saw. telah mengantarkan Mirza Ghulam Ahmad mendapat kehormatan dari Allāh untuk mengenakan jubah kenabian Nabi Muhammad saw., mewarisi jubah kenabian Nabi Muhammad saw..

Jubah kenabian yang dikenakan Mirza Ghulam Ahmad a.s., adalah jubah kenabian Nabi Muhammad saw.. Karenanya, kenabian Mirza Ghulam Ahmad a.s. bukanlah kenabian mustaqil  atau berdiri sendiri (nabi haqiqi), terpisah dari Islam dan Nabi Muhammad saw..

Kenabian Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah kenabian ghairi tasyri-ghairi mustaqil—tidak membawa syari‘at dan tidak berdiri sendiri, nabi ḍilli, yaitu kenabian yang tidak terpisahkan dari kenabian Nabi Muhammad saw..

Kenabian  Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah kenabian yang dicapai ‘melalui dan di dalam’ Nabi Muhammad saw., melalui iraṭ-i-ṣiddiqi atau jalan ṣiddiqiyah, melalui jendela fanā fi’r-Rasūl–saw., meleburkan diri secara sempurna dengan penuh kecintaan kepada Rasulullah saw..[1]

“Diri saya sendiri tidak ada. Diri saya telah diliputi Nabi Muhammad saw.. Itulah sebabnya saya dinamakan Muhammad dan Ahmad,” kata beliau dalam Ēk Ghalaṭī Kā Izālah, salah satu buku karya tulisnya, terbit pada 1901.[2]

Sungguh, sangat keliru, dan salah sama sekali jika ada yang mengatakan beliau adalah nabi baru ke-26, yang membawa baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru.

Mereka yang mengatakan, Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi baru, yang membawa agama baru, kitab suci baru dan kalimah syahadat baru, adalah tidak paham Mirza Ghulam Ahmad dan tidak paham Ahmadiyah.

Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah memproklamirkan diri sebagai nabi baru, yang membawa agama baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru. Dan, Jemaat Ahmadiyah juga tidak pernah meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru yang membawa agama baru, kitab suci baru, dan kalimah syahadat baru.

Bagi Ahmadiyah, meyakini ada lagi nabi baru, yang membawa agama baru, kitab suci baru, kalimah syahadat baru, adalah sebuah kekufuran yang sekufur-kufurnya dan kesesatan yang sesat-sesatnya.

Jubah kenabian yang dikenakan Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah jubah kenabian Nabi Muhammad saw..

Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta.

Mudah-mudahan, perkenalan ini melahirkan sayang dan cinta. Sehingga, terbangun harmoni di antara sesama masyarakat bangsa , wa bil-khusus, antara warga masyarakat dan Jemaat Ahmadiyah di .

 

Salam damai.

Luwuk Utara, 10 Juni

 

[1] Lihat, Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad, Ēk Ghalaṭī Izālah, hal. 5—6.

[2] Lihat, Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad, Ēk Ghalaṭī Izālah, hal. 27.

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

 

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar