Kebangsaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (4/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun

Penggalan keempat | AGAMA Buddha

 

Buddha spirit perdamaian di Indonesia Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis Buddha4

Buddha | Spirit perdamaian di . (ilustrasi AsiaFinest.com)

AGAMA BUDDHA sebagai salah satu agama yang di anut masyarakat Bangsa Indonesia juga mengajarkan damai.

Buddha a.s. bersabda, “ tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan . baru akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi”.[1]

Pelajaran Buddha tentu saja merupakan spirit damai bagi Bangsa Indonesia yang bergam suku dan agama.

 

AGAMA .  bersabda, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”.[2]

“Kasihilah musuhmu dan berdolah bagi mereka yang menganiaya kamu”.[3]

“Kasihilah , -mu, dengan segenap harimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”[4]

 

AGAMA amat mementingkan pengembangan bukan hanya kepada sesama umat manusia tetapi kepada sesama makhluk hidup. kepada sesama anggota keluarga, kepada sesama umat manusia tidak dipandang sebaga yang istimewa. Kesadaran bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar sangat membantu orang untuk mengembangkan universal ini.

Dia adalah puncak cinta kasih di dunia ini, merupakan landasan penting untuk mengembangkan Prema Bhakti atau cinta kasih rohani kepada Tuhan yang Maha Esa. Cinta kasih universal dalam beberapa kitab suci disebutkan sebagai ciri, hiasan dan sifat-sifat agung orang-orang suci atau para Sadhu.

“Titiksavah karunikahsuhrdah sarva-dehinamajata-satravah santahsadhavah sadhu-bhusanah”—maksudnya, “Ciri-ciri atau hiasan dari seorang Sadhu atau orang suci adalah ia harus memiliki sifat-sifat senantiasa damai, memiliki besar, penuh karunia, bersifat berteman dengan seluruh makhluk hidup, tidak mempunyai musuh, hidupnya selalu didasarkan pada kitab suci dan segala kepribadiannya terpuji.”

Yajur menegaskan, “Mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantamamitrasyaham caksusa sarvani bhutani samiksemitrasya caksusa samiksyamahe”—artinya, “Semoga semua makhluk hidup melihatku dengan pandangan sebagai teman, semoga aku melihat semua makhluk hidup dengan pandangan sebagai seorang teman, semoga kami melihat satu sama lainnya dengan pandangan sebagai seorang teman.”[5]

 

(BERSAMBUNG)

 

[1] Budha, Dhammapada I, 5

[2] Matius 5:39

[3] Matius 5:44

[4] Lukas, 10:27

[5] https://deayuliakrsty.wordpress.com/2013/11/06/hubungan-cinta-kasih-menurut-agama-dan-negara/

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar