Kebangsaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (9/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun

Penggalan kesembilan | PROFIL Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan kepemimpinan Ahmadiyah

 

PROFIL Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan kepemimpinan Ahmadiyah Spirit perdamaian di Indonesia Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis 525986083_4e21a23a4d

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.. (Ilustrasi dari dokumentasi Dewan Naskah JAI)

PENDIRI Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., adalah seorang ahli tasawwuf modern dan termasuk sufi besar abad ke-14 Hijriyah.

Pada 1888, Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan diri sebagai mujaddid abad keempatbelas.

Tahun 1889, Mirza Ghulam Ahmad mendirikan Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Tahun 1890, Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan diri sebagai Almasīḥ-dan-Almahdī-Yang-Dijanjikan-kedatangannya oleh Nabi .

Sepanjang hayatnya, Mirza Ghulam Ahmad menulis lebih dari 80 judul buku, wafat pada 26 Mei 1908 di Lahore, dan dikebumikan di Qadian, tempat asal kelahirannya.

Setelah Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. wafat, 1908, Jamaah Muslim Ahmadiyah dipimpin seorang , dikenal dengan sebutan Khalīfatu’l-Masīḥ.

Sepanjang 105 tahun terakhir (1908—2013), lima orang Khalifatul Masih telah dan sedang memimpin Jemaat Ahmadiyah: Khalifatul Masih I Ḥaḍrat Alḥajj Maulana -r.a. (1908—1914); Khalifatul Masih II Ḥaḍrat Alḥajj Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad-r.a. (1914—1965); Khalifatul Masih III Ḥaḍrat Mirza Nasir Ahmad-r.h. (1965—1982); Khalifatul Masih IV Ḥaḍrat Mirza Tahir Ahmad-r.h. (1982—2003); dan, Khalifatul Masih V Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad-atba. (2003-sekarang).

Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah bagian dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional yang dulu berpusat di Qadian, , India, dan sekarang di Rabwah, Jhang, Pakistan.

JAI berdiri tahun 1925, duapuluh tahun sebelum Indonesia merdeka. Meski secara organisasi Ahmadiyah berlepas diri dari kancah politik praktis tetapi warga Ahmadiyah sebagai elemen masyarakat bangsa Indonesia ikut aktif dalam kancah perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Wage Rudolf Soepratman, Pencipta Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” termasuk salah seorang aktivis awalin Ahmadiyah Indonesia.

 

Sayyid Syah Muhammad PROFIL Ḥaḍrat Mirza Ghulam AhmSpirit perdamaian di Indonesia Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis bung-karno-dan-ahmadiyah

Maulana Sayyid Syah Muhammad r.h. dan Presiden RI Soekarno. (Ilustrasi dari dokumentasi Dewan Naskah JAI)

“KETIKA Belanda menyerahkan kedaulatan ke tangan Republik Indonesia, harus pindah lagi dari ke Jakarta. Saya mendapat kehormatan terpilih  dalam rombongan duabelas orang pengantar beliau ke Jakarta dengan plane pertama ‘Garuda’ di mana saya satu-satunya orang yang bukan warga negara RI.

“Di antara ke-12 orang itu terdapat antara lain Ki Hajar Dewantara, , Sri Paku Alam, Raden Mas Haryoto dan lain-lain. Kejadian-kejadian itu menjadi kenangan yang indah dan memberikan suatu perasaan bangga karena perintah dari Imam Jamaah Ahmadiyah, Ḥaḍrat Khalifatul Masih II r.a..

“Dengan demikian merasa sebagai suatu kewajiban yang suci untuk mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan Bangsa Indonesia, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ‘Ḥubbul waṭan mina’l-īmān—kecintaan kepada tanah air adalah sebagian dari iman’.”

Demikian tulis Maulana Sayyid Syah Muhammad Al-Jailani dalam sebuah memoarnya.[1]

Maulana Sayyid Syah Muhammad Al-Jailani, adalah mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah berkebangsaan India yang bersama dengan komponen bangsa lain ikut berjuang dalam kancah revolusi, sebelum dan sesudah Republik Indonesia merdeka.

Karena jasa-jasanya pada perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan RI, Maulana Sayyid Syah Muhammad Al-Jailani, mendapat penghargaan sebagai warga negara RI kehormatan dan sebagai veteran Republik Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, JAI mendaftarkan keberadaan organisasinya kepada Pemerintah RI c.q. Menteri Kehakiman RI. Sejak tahun 1953, Jemaat Ahmadiyah Indonesia resmi diterima sebagai badan hukum dengan SK Menteri Kehakiman RI Nomor JA 5/23/13 Tanggal 13-3-1953.

Dengan demikian JAI adalah organisasi yang legal formal berbadan hukum. Ketua MK Jimly Asshiddiqie menyatakan, “Ahmadiyah itu sah secara konstitusional.”[2]

Sebagai bagian dari warga masyarakat bangsa Indonesia, Ahmadiyah menerima sebagai ideologi atau asas berbangsa dan bernegara. Anggaran Dasar Perubahan Jemaat Ahmadiyah Indonesia 1989 menjelaskan pada:

Bab II Asas Pasal 2 » “Jemaat Ahmadiyah Indonesia berasaskan Pancasila. Bab III. Tujuan.”

Pasal 3 » (1) “Jemaat Ahmadiyah Indonesia menghayati, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila dan (seribu sembilan ratus empatpuluh lima).”

(2) “Jemaat Ahmadiyah Indonesia bertujuan: (a) Mengembangkan agama Islam, ajaran Nabi Muhammad shallal-Laahu ‘alaihi wa sallam menurut Al-Quran, , dan Ḥadīts; (b) Membina dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta meningkatkan kemampuan para anggotanya baik dalam bidang sosial, pendidikan, kebudayaan, , amal bakti, maupun kerohanian.”

 

(BERSAMBUNG)

 

[1] Lihat, Kami Orang Islam, Jemaat Ahmadiyah Indonesia 2007, hal. 124

[2] Lihat, Pedoman News.Com, 30/10/2010

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar