Kemanusiaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (2/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun

Penggalan kedua | SPIRIT

 

Pancasila adalah spirit kedua bangsa Indonesia untuk membangun perdamaian dalam kemajemukan, keanekaragaman dan keberagamannya. (Wikipedia) Spirit perdamaian di Indonesia tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang SPIRIT Pancasila 2000px-Pancasila_Perisai.svg.png-001

Pancasila adalah spirit kedua Indonesia untuk membangun perdamaian dalam kemajemukan, keanekaragaman dan keberagamannya. (Wikipedia)

KEINGINAN sebagian elemen bangsa Indonesia membentuk negara dengan landasan agama tertentu, bukan pada masa sekarang ini saja ada. Pada masa revolusi, di tengah berkecamuknya perjuangan merebut kemerdekaan, para pejuang kemerdekaan masing-masing punya ide, punya gagasan, dan punya cita-cita untuk mendirikan negara berdasar agama tertentu. Sebutlah misalnya, nama: , , dan K.H. Wahid Hasyim.

Namun, para pejuang kemerdekaan, the founding fathers, mereka semua berjiwa besar, dan berlapang dada. Demi Indonesia merdeka dan berdaulat, demi kesatuan dan persatuan nasional, mereka rela melepas ide, gagasan, dan cita-citanya membentuk negara berdasar agama tertentu, sepakat dengan konsep negara bangsa berdasar Pancasila dan . The Founding Fathers patut kita apresiasi. Jiwa besar dan lapang dada mereka perlu kita teladani.

Lima sila Pancasila: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab; (3) Persatuan Indonesia; (4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; (5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kalangan agamawan pasti sepakat, lima sila Pancasila semuanya adalah esensi ajaran semua agama. Lima sila Pancasila diamalkan secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia () akan menjadi negara yang agamis tanpa melabelkan negara agama. Yang kita perlukan memang negara yang agamis, bukan negara agama. Apa artinya negara berlabel agama, tetapi dalam prakteknya tidak agamis.

Dari perspektif politis, Pancasila adalah spirit kedua bangsa Indonesia untuk membangun perdamaian dalam kemajemukan, keanekaragaman dan keberagamannya.

Salah satu kekayaan bangsa Indonesia terletak pada kemajemukan dan keanekaragaman agama. Enam agama besar tumbuh dan berkembang di tanah air. Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Semua agama yang ada di tanah air, semuanya mempunyai ajaran damai dan mengajarkan kedamaian.

 

ISLAM mengajarkan, Allāh mempunyai sifat Ar-Raḥmān—Maha Pengasih, Ar-Raḥīm—Maha Penyayang,[1] As-Salām—Maha Damai, Al-Mu’min—Maha Pelimpah Kemanan, dan Al-Muḥaimin – Maha Pelindung.[2]

Masyarakat bangsa Indonesia yang kebetulan beragama Islam, seyogianya dan seharusnya menyerap dan mewarisi sifat-sifat Allāh tersebut. Makin dalam rasa keagamaan seorang Islam, makin dalam pengetahuan ketuhanan seorang Islam, seyogianya makin menjelma sifat Allāh Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, As-Salām, Al-Mu’min, dan Al-Muhaimin, di dalam dirinya. Ia seyogianya menjadi manifestasi Allāh di bumi (khalīfatul-Lāh fi’l-arḍi).[3]

Jika ada seorang berpenampilan ahli agama, jubahnya jubah agama, tetapi perilakunya bertolakbelakang dengan Ar-Raḥman, Ar-Raḥīm, As-Salām, Al-Mu’min, dan Al-Muhaimin, tidak mencerminkan sifat-sifat Tuhan tersebut, ia belum selesai belajar agama dan ilmu ketuhanan. Ia sebaiknya menyelesaikan dulu belajar agamanya dan ilmu ketuhanannya.

Islam adalah agama yang sejak awal telah mengakui kemajemukan: suku, bangsa, bahasa,[4] juga agama.[5] Islam melarang satu kaum mencemooh kaum lain,[6] melarang mengatakan bukan mukmim kepada orang yang mengucapkan ,[7] dan memerintahkan, jika menerima suatu berita dari seorang pendurhaka sekalipun, agar mengadakan penyelidikan ().[8]

Esensi Islam ini tentu saja merupakan spirit perdamaian bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk mayoritas seyogiyanya , perdamaian, dan harmoni terbangun dengan baik di negeri ini.

 

(BERSAMBUNG)

 

[1] Al-Qur’ān Sūrah (QS) I—Al-Fātiḥah: 1

[2] QS LIX—Al-Ḥasyr: 24. Ayat-ayat Al-Qur’ān yang dikutip dalam makalah ini menggunakan Al-Qur’ān yang mencantumkan basmalah «bismi’l-Lāhi’r-raḥmāni’r-raḥiim» sebagai ayat pertama dalam semua Sūrah, kecuali Sūrah At-Taubah. Oleh karena itu, jika dalam dalam makalah ini mengutip QS 59:24 maka dalam Al-Qur’ān tanpa bismillah sebagai ayat pertama adalah ayat ke-23. Selisih satu angka.

[3] QS II—Al-Baqarah: 31

[4] QS LXIX—Al-Ḥujurāt: 14

[5] QS 2:63

[6] QS 49:12

[7] QS IV—An-Nisā’: 95

[8] QS 49:7

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar