Kebangsaan Makalah Opini

Spirit perdamaian di Indonesia (3/11) | Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis

Penulis Syaeful Uyun

Oleh H.M. Syaeful Uyun

Penggalan ketiga | NABI 

 

Spirit perdamaian di Indonesia Tinjauan sosiologis, politis dan agama untuk antar umat beragama yang harmonis pluralisme Sesungguhnya, semua konsep keadilan, hak azasi manusia, kebebasan beragama dan pluralisme modern dijumpai penerapannya yang paling nyata di Madinah pada masa Nabi Muhammad saw.. (ilustrasi; Berita Intrik)

Sesungguhnya, semua konsep , , dan modern dijumpai penerapannya yang paling nyata di Madinah pada masa Nabi Muhammad saw.. (ilustrasi; Berita Intrik)

ISLAM adalah yang sangat mengutamakan persaudaraan dan persamaan umat manusia.[1] Pada peristiwa Ḥajj (haji) yang terakhir, beberapa saat menjelang kewafatan Nabi Muhammad saw., di hadapan sejumlah besar umat Islam, Nabi Muhammad saw. berkhotbah:

“Wahai sekalian manusia! -mu itu Esa dan nenek moyangmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang bukan Arab.

”Seorang kulit putih sekali-kali tak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, dan begitu pula sebaliknya, seorang orang kulit merah tak mempunyai kelebihan apa juga pun diatas orang berkulit putih, melainkan kelebihannya ialah: sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia.

”Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” (Baihaqī)

Ini merupakan Magna Carta—piagam persaudaraan dan persamaan umat manusia. khotbah Rasulullah saw. ini, telah menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul semu yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional.

Khotbah Nabi ini pun tentu merupakan spirit perdamaian bagi bangsa .

Pluralisme Islam, sebuah model

Sesungguhnya, semua konsep keadilan, hak azasi manusia, kebebasan beragama dan pluralisme modern dijumpai penerapannya yang paling nyata di Madinah pada masa Nabi Muhammad saw..

Segera setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw., membuat perjanjian tertulis dengan kaum dan kelompok lain, yang dikenal dengan Misaq Madinah atau perjanjian Madinah.

Isi perjanjian Madinah itu, antara lain:

  1. Kaum Muslimin dan Yahudi akan berhubungan satu sama lain atas dasar simpati dan keikhlasan serta tidak akan terlibat dalam suatu serangan atau berbuat salah terhadap satu sama lain.
  2. Semua kalangan masyarakat Madinah akan menikmati kebebasan beragama sepenuhnya.
  3. Jiwa dan harta benda setiap orang akan dilingdungi, dan akan dihormati, sesuai dengan ketetapan hukum dan peraturan.
  4. Semua masalah perbedaan akan diserahkan keputusannya kepada Nabi Suci saw. dan akan ditetapkan oleh beliau menurut hukum dan adat dari masing-masing kalangan masyarakat Madinah.
  5. Tak akan ada kelompok yang akan pergi berperang tanpa izin Nabi Suci saw..
  6. Dalam hal (jika ada) serangan terhadap kaum Yahudi atau Muslimin, keduanya akan bekerja sama dalam menghadapi serangan musuh itu.
  7. Dalam hal (jika ada) serangan terhadap Madinah, semua golongan akan bekerja sama dalam menghadapinya.
  8. Kaum Yahudi dengan cara apa pun tidak akan membantu atau menyediakan penampungan atau pelayanan untuk mereka.
  9. Semua golongan akan bertanggungjawab pada perbekalan dan biayanya sendiri.
  10. Tak ada apa pun dalam persetujuan itu akan memberikan kekebalan pada orang yang berbuat salah atau pelaku dosa atau pembangkang.[2]

Butir-butir perjanjian Madinah menunjukan: Seluruh penduduk Madinah terdiri atas agama, adat dan kebiasaan yang berbeda, menyatakan sebagai satu ummah atau bangsa.

Semua warga Madinah (pria dan perempuan) mempunyai hak dan tanggungjawab yang sama serta kebebasan beragama yang sama.

Semua warga Madinah menerima tanggungjawab bersama untuk pertahanan menghadapi serangan dari luar.

Islam tidak diberlakukan atas non-Muslim, dan urusan-urusan mereka diputuskan menurut atau adat mereka sendiri seperti yang mereka inginkan.

Inilah hakikat masyarakat majemuk yang berdasarkan pada keadilan, yang melindungi hak-hak azasi dari semuanya—termasuk perlindungan jiwa, harta benda, tempat-tempat ibadah dan hak untuk kebebasan beragama.

Penduduk Madinah—Muslim dan non-Muslim—adalah dua golongan agama berbeda, yang disatukan dalam satu bangsa secara politik.

Ibnu Hisyam mencatat: “Wa inna Yahūda Bani ‘Aufa, ummatan ma‘al mu’minīn. Lil-Yahūdi in dīnahum, wa lil-mu’minīna dīnahum”—Dan Yahudi dari Bani Auf akan menjadi satu bangsa dengan umat Islam;  bagi Yahudi adalah agama mereka, dan bagi kaum mukmin adalah agama mereka.”

Bangsa Indonesia, mayoritas beragama Islam. Dengan konsep dan model pluralisme Islam seperti di atas, kebebasan beragama dan harmoni di antara sesama umat beragama, berpeluang besar untuk dapat diwujudkan dalam bentuknya yang sempurna dan utuh.

Umat Islam, sebagai umat terbaik[3], dengan spirit ajaran agamanya, tidak hanya hidup rukun damai dengan saudara seagamanya, tapi juga dimungkinkan dapat menjadi pelopor dalam menciptakan kerukunan dan kedamaian dengan pemeluk agama-agama lainnya.

Dengan begitu, niscaya tidak ada lagi pemeluk agama yang dibayang-bayangi rasa takut dan was-was dalam menjalankan kegiatan keagamaanya. Indonesia menjadi rumah yang aman bagi semua warganya dan semua pemeluk agama.

 

(BERSAMBUNG)

 

[1] QS XXXIIII—Al-Aḥzab, 33:36

[2] Muhammad, Seal of the Prophets, by Sir Muhammad Zafrullah Khan, Routledge & Kegan Paul, London, 1980, pp. 8889

[3] QS III—Āli ‘Imrān: 111

 

Halaman 1 | Halaman 2 | Halaman 3 | Halaman 4 | Halaman 5 | Halaman 6 | Halaman 7 | Halaman 8 | Halaman 9 | Halaman 10 | Halaman 11

Tentang Penulis

Syaeful Uyun

Tinggalkan komentar