Opini

Sungguh Terlalu, ‘Meminta’ Sumbangan Masjid di Jalanan

meminta

Seketika hati saya menolak ketika melihat beberapa mesjid seraya menemui orang-orang yang sedang berdiri dipinggir bahkan ditengah jalan menengadahkan tangannya melalui jaring serokan sambil berharap seseorang yang melintas memberinya uang. Sejenak saya merasa malu, semiskin inikah agama saya? Begitu jugalah yang menjadi pemikiran teman saya seorang Katolik, dengan bangganya dia mengatakan bahwa agamanya lebih kaya karena tak pernah sekalipun didapati mereka berdiri di jalanan sambil ‘meminta-meminta’.

Jangan meminta-minta

Jiwa dan raga ini bergejolak dan bertanya-tanya, dari manakah umat itu mencontoh? Apakah Rasulullah SAW dan para sahabatnya pernah melakukan hal serupa itu? Berdiri di jalanan menengadahkan tangannya sambil menunggu para musafir dan untanya melintas, mengeluarkan beberapa keeping koin lalu memberikannya? Naudzubillah… Tentu tidak! Karena hal itu jelas-jelas perbuatan meminta-minta yang Rasulullah SAW sendiri tidak menyukainya. Ini terbukti dari sabda beliau SAW: “Tidaklah seorang hamba membuka pintu untuk meminta-minta melainkan Allah membukakan baginya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad)

Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Tak hanya itu, mereka sengaja memasang speaker TOA didekatnya yang terkadang juga memutarkan musik-musik yang tak sesuai dengan nilai-nilai ke-Islaman. Mirisnya speaker TOA tersebut disetel sedemikian rupa sehingga mengeluarkan suara yang cukup keras, sangat meresahkan orang yang melintasinya. Padahal Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. “Dan berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-a’raf; 56).

Mengganggu ketertiban jalan

Jika kita lihat mereka yang meminta sumbangan di jalan sedikit banyaknya menggagu orang yang melintasinya. Dalam hal ini, Rasulullah SAW melarang perbuatan tersebut karena jalan umum adalah milik bersama dan setiap orang mempunyai hak yang sama. Jelas bahwa duduk-duduk di jalan untuk meminta sumbangan mesjid tidak ada dasarnya bahkan itu bertentangan dengan ajaran Nabi SAW. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

إيَّاكُمْ وَالْجُلُوْسَ عَلى هَذِهِ الطُّرُقِ فَإِنَّهَا مَجَالِسُ الشَّيْطَانِ
Artinya: “Waspadailah oleh kalian duduk-duduk di jalan, sebab itu adalah majelis setan….” [HR. Ath-Thohaawi dalam Musykilul Atsar (145). Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kannya dalam Ash-Shohihah (4/84)]

Hal yang asing karena tak pernah melakukannya

Sekian lama saya meratapi hal itu, maka timbullah sesuatu yang menjadi penghibur saya. Beruntungnya saya yang telah beriman kepada Imam Zaman ini dan mendapatkan karunia untuk meresap nasihat-nasihatnya. Dalam Jamaah Muslim , hal tersebut tidak pernah dibenarkan apalagi diberlakukan. Imam kami -berdasarkan ajaran Al-Quran dan Rasulullah SAW- melarang perbuatan tersebut. Hal itu adalah asing bagi saya.

Sejak kecil pun saya sudah diajarkan untuk tidak menjadi peminta-minta, dengan menghafal dan mengamalkan hadits latif Rasulullah SAW, “Alyadul Ulya khairun minal yadul sufli.” (tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah). Hadits itu jugalah yang seketika mewujudkan penolakan dari diri saya ketika melihat orang-orang Muslim melakukan pebuatan itu, padahal masih banyak cara-cara lain yang lebih bijak dan sesuai dengan petunjuk Nabi SAW.

Cara lain yang tidak bertentangan

Dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah, tidak ada kegiatan semacam itu bukanlah berarti kami tidak memikirkan pembangunan mesjid dalam pengembangan agama sempurna ini. Alhamdulillah, sudah ribuan mesjid yang kami bangun, bahkan di negara-negara Barat yang notabenenya biaya pembangunan disana lebih mahal, pun kami bisa membangun ratusan mesjid tanpa harus berdiri di jalanan menganggu orang lain dan menengadahkan jaring serokan kepada para pengguna jalan.

Ya! Kami menggunakan cara-cara lain. Saya membuat perjanjian nominal uang yang akan disumbangan (untuk pembangunan mesjid), kemudian ada petugas-petugas yang mengurusi keuangan itu. Kapan pun saya bisa membayarnya. Selain uang, mereka juga bisa menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan bahan-bahan material untuk keperluan pembangunan mesjid tersebut. Begitulah keadaannya di berbagai tempat yang jemaat kami lakukan.

Kami menyadari bahwa pentingnya bersedekah, terlebih lagi membangun (menyumbang) mesjid termasuk dalam amalan jariyah yang mana Rasulullah SAW menyatakan bahwa ganjarannya tak ada putusnya walaupun kita sudah meninggalkan dunia ini.

Jauhilah hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang hakiki

Marilah kita cermati seberapa pentingnya apa yang kita lakukan dan apakah kita melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang hakiki? Jika ada sedikit saja sesuatu yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Rasulullah SAW, hendaknya kita jauhi itu, karena masih banyak cara-cara lain yang dapat memunculkan keridhaan Allah Ta’ala. Jangan sampai Allah SWT murka karena apa yang kita lakukan. Wallahu A’lam.

Sumber Gambar: https://www.lifetimedaily.com/whats-the-shame-in-aging-apparently-a-lot/

Tentang Penulis

Mubarak Mushlikhuddin

Jangan Lupa Jadi Orang Baik

1 komentar

  • Tulisan yang bagus.. Menyumbang untuk Mesjid kita sendiri pun secara otomatis menimbulkan ‘rasa memiliki’ terhadap Mesjid, sehingga hati tergerak untuk selalu merawat dan memastikan kebersihannya tetap terjaga..

Tinggalkan komentar