Surat Terbuka

Surat untuk Bapak Haji Joko Widodo dan Bapak Haji Jusuf Kalla: Kehidupan Beragama di Indonesia

Riffat 10455443_10202930087585784_7530235873750288386_nPenulis: Riffat Achmad Khan

_

KEPADA yang terhormat Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla di tempat.

Pertama-tama, perkenalkan nama saya Riffat Achmad Khan, usia 38 tahun.

Saya adalah pengidap penyakit GBS (Guillain Barre Syndrome =Kelumpuhan Saraf Tepi).

Jadi, sudah hampir empat tahun ini, saya total hampir tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Bahkan, saya mengalami kesulitan berbicara karena pita suara saya juga mengalami kelumpuhan. Dan terpaksa, saya harus selalu menggunakan kursi roda.

Saya ini adalah Muslim Ahmadi anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Semua tata cara dan bacaan sholat yang kami lakukan sama dengan yang dilakukan oleh Muslim Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Sunni).

Kitab suci kami pun adalah Al-Quran. Selama ini kami sebagai warga negara Indonesia selalu didiskreditkan serta selalu mendapatkan kekerasan dan selalu dizolimi dalam beribadah.

Mesjid-mesjid kami dirusak dan dibakar, saudara-saudari kami selalu dianiaya bahkan dibunuh.

Sesuai dengan ‘UUD 45 pasal 29’ bahwa Negara menjamin kebebasan dan kemerdekaan setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, bukannya melakukan pembiaran seolah-olah tutup mata dan telinga terhadap terjadinya kekerasan tersebut.

Organisasi kami (JAI) sangat mandiri dan tidak berpolitik. JAI bergerak dalam ruang lingkup internasional. Kami memiliki manajemen keuangan yang sangat cantik sehingga kami tidak pernah menerima serta mengharapkan bantuan keuangan dari pihak manapun.

Itu sebabnya organisasi kami (JAI) bebas dalam menentukan sikap karena hal tersebut di atas dan JAI tidak berpolitik praktis.

Kami memiliki semuanya sendiri, stasiun TV yang beroperasi 24 jam berskala internasional (Moslem Television Ahmadiyya =MTA), stasiun radio sendiri di banyak negara serta di berbagai daerah, media cetak seperti buku, koran, majalah, buletin, leaflet-dan lain-lain, website, dan berbagai fasilitas lain untuk menunjang segala kegiatan kami dalam berdakwah dan beribadah.

Kami hanya ingin beribadah dengan tenang. Tidak lebih.

Memang seperti yang dikatakan oleh juru bicara resmi JAI Maulana Zafrullah Ahmad Pontoh bahwa tidak ada pengerahan massa dan suara dari anggota JAI kepada salah satu pasangan capres dan cawapres. Karena, siapapun presidennya, JAI akan selalu mendapatkan perlawanan dari pihak-pihak yang tidak menyukai ‘kebenaran berdiri tegak di atas muka bumi Allah ini’.

Namun, para pribadi warga JAI berhak menentukan dan memilih salah satu kandidat sesuai hati nuraninya.

Menurut Maulana Zafrullah, JAI hanya memberikan pemahaman kepada warganya untuk cerdas dalam memilih capres dan cawapres yang memberikan manfaat kepada setiap warga negara, termasuk warga Ahmadiyah.

Maulana Zafrullah menyatakan, setiap warga Ahmadiyah bertanggung jawab untuk memilih calon yang mengusung kepentingan setiap warga negara.

Maulana Zafrullah menyampaikan hal tersebut saat berada di Kantor Human Rights Working Group, Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Dia berharap pemimpin yang terpilih nantinya adalah pemimpin yang mampu mengayomi setiap warga negara.

Para Ahmadi Indonesia sudah tahu persis mana yang harus dipilih. Dengan akal fikiran yang sehat dan hati nurani yang terang para Ahmadi yang baik tidak mungkin memilih kandidat yang memiliki kebijakan ‘pemurnian agama’. Karena, hal tersebut jelas-jelas merugikan kami sebagai minoritas.

Dan, kami pun tidak mungkin memilih kandidat yang berkoalisi dengan pihak-pihak yang selalu menzolimi kami.

Juga kepada Bapak Muhammad Jusuf Kalla sebagai cawapres dan sebagai tokoh yang cukup dihormati dan disegani di bumi Indonesia bagian Timur; selama ini, jarang terekspos oleh media bahwa kekerasan di Indonesia Timur terhadap JAI di sana sangatlah menjadi-jadi dan mengenaskan.

Kami memohon pada Bapak, kiranya dapat melindungi saudara-saudari seiman kami baik yang berdomisili di Lombok, Sulawesi, Papua maupun di seluruh bumi Indonesia Timur dalam beribadah.

Hal ini juga berlaku bagi seluruh umat beragama khususnya para kaum minoritas seperti Muslim Syiah (Shiaa), Khatolik, Kristen (Protestan, Adven, Saksi Jehovah, Ortodox, Anglican, Bethani, HKBP, dan lain-lain), Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Taoisme (ajaran Tri Dharma), juga seluruh penganut kepercayaan kepada Tuhan YME seperti Sunda Wiwitan, Kejawen (aliran Gatoloco, pengamal Kitab Dharmo Gandhul, Serat Centhani dll), agama Suku Anak Dalam, agama Suku Bunian, dan masih banyak lagi Kepercayaan terhadap Tuhan YME lainnya.

Andaikata, Bapak-bapak terpilih nanti, dan saya haqqul yaqin dalam hati bahwa JKW-JK akan menang, hendaknya dapat memelihara dan melindungi keragaman kehidupan beragama di bumi pertiwi yang tercinta ini sebagai khazanah ilmu pengetahuan bagi anak cucu nanti dan sebagai satu-satunya kekayaan Religius serta Budaya di seluruh dunia. Tidak dapat ditemukan di belahan bumi manapun kecuali hanya di Indonesia tercinta ini yang kelak bapak-bapak pimpin.

Sesuai dengan Semboyan Negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ikha juga sila pertama dari Pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa.

Biarkan semua agama tumbuh dan hidup di bumi Indonesia ini di rumahnya sendiri, layaknya anak-anak yang bebas bermain dan berlarian di halaman rumahnya sendiri dengan nyaman tanpa rasa takut orang lain mengganggu serta melukainya.

Saya sangat prihatin terhadap kekerasan yang selalu menimpa kami kaum minoritas.

Saya sangat berharap nantinya di bawah kepemimpinan Bapak-bapak yang terhormat, hal seperti itu TIDAK terjadi lagi. Pemerintah HARUS bersikap TEGAS terhadap semua pelaku tindak kekerasan tanpa pandang bulu.

Bapak-bapak yang sangat kami cintai. Akhir kata, “Percaya pada anakmu, tak terpikir ‘tuk tinggalkan dirimu.

Sekian dan terima kasih.

Salam Dua Jari & Aku Cinta Padamu

Hormat saya
Riffat AK

P.s.: Saya menulis surat ini bukanlah semata-mata hanya untuk mengikuti lomba apalagi untuk memenangkannya. Saya menulis surat ini agar Bapak-bapak–sekalian dapat benar-benar membaca surat ini dan dapat mendengar serta memahami apa ‘suara hati’ kami ini.

(Kepada sebuah bintang yang mana karena kehadirannya maka kebaikan bintang-bintang yang lain seolah-olah menjadi sirna =DM)

Tentang Penulis

Riffat Achmad Khan