Aqidah

Tafsir Ayat Khataman Nabiyyin Berdasarkan Ayat – ayat Lain dalam Quran Majid

Penulis Raja Pena
AL-QUR’ĀN ‘Aẓīm adalah suatu kitab yang sempurna. Salah satu keajaibannya adalah, Al-Qur’ān tidak hanya di satu tempat saja memaparkan ayat khātama′n-nabiyyīn, melainkan juga telah menguraikan penafsiran tentang hal itu di sejumlah tempat lainnya. Dalam kaitan itu kami memaparkan ayat-ayat Al-Al-Qur’ān Syarīf di bawah ini.

PERTAMA: Di dalam Surah Al-Hajj Allah Ta’ala berfirman:

اللهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَآئِكَةِ رُسُلاً وَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Allāh [senantiasa] memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia. Sesungguhnya Allāh Maha Mendengar, Maha Melihat. ([Al-Ḥajj] 22:75)”

Sebelum ayat ini, yang disinggung adalah orang-orang yang menjadi sasaran lawan bicara Rasul Karim saw., bukan mengenai orang-orang sebelum beliau. Dan arti ayat ini adalah, Allāh memilih dan akan terus memilih dari antara malaikat-malaikat dan manusia-manusia sebagai rasul. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dari ayat ini tampil dengan jelas bahwa di zaman Rasul Karim saw., yakni di zaman kenabian beliau, terdapat manusia-manusia lain yang memperoleh nama rasul dari Allāh Ta‘ālā.

KEDUA: Di dalam Surah Al-Fatihah, Allāh Ta‘ālā telah mengajarkan doa kepada orang-orang Islam:

اِهْدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Ya Allāh. Tunjukilah kami jalan lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka. (QS [Al-Fātiḥah] 1:6, 7)”

Doa ini secara wajib dibaca oleh orang-orang Islam lima waktu sehari, dan pada waktu- waktu lainnya secara nafal. Sekarang pertanyaannya adalah: Apa jalan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat itu? Al-Qur’ān Syarīf sendiri telah menjelaskannya:

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًا
“Dan, niscaya, akan Kami bimbing mereka ke jalan lurus. (QS [An-Nisā’] 4: 68)”

Seandainya orang-orang Islam mengamalkan keputusan-keputusan Rasul Karim saw., dan dengan senang hati mengikutinya, maka Kami akan menunjuki mereka jalan lurus. Kemudian. Al-Qur’ān menjelaskan cara untuk memperoleh petunjuk ke jalan itu:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلٰۤـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولٰۤـئِكَ رَفِيقًا

“Dan, barangsiapa taat kepada Allāh dan Muḥammad Rasūlu′l-Lāh saw. maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allāh Ta‘ālā telah memberikan nikmat, yakni: nabi-nabi, ṣiddiq-ṣiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang terbaik. Inilah karunia dari Allāh, dan memadailah Allāh sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui. (QS 4:69)”

Di dalam ayat ini dengan jelas telah diberitahukan bahwa jalan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat itu adalah jalan yang apabila ditempuh akan memasukkan manusia ke kalangan para nabi, ṣiddiq, syahid, dan saleh.

Sebagian orang mengatakan bahwa kata «ma‘a» di situ berarti bahwa orang-orang itu akan bersama kelompok orang yang telah dianugerahi nikmat, tetapi tidak termasuk di dalam kelompok itu. Padahal ayat tersebut tidak dapat diartikan demikian. Sebab, dalam bentuk demikian artinya adalah, orang-orang itu akan bersama kelompok orang yang telah dianugerahi nikmat, tetapi tidak akan termasuk ke dalam kelompok tersebut. Yakni, mereka akan bersama nabi-nabi, tetapi tidak akan termasuk di kalangan nabi-nabi. Mereka akan bersama para shiddiq, tetapi tidak akan termasuk di kalangan para shiddiq. Mereka akan bersama para syahid, tetapi tidak akan termasuk di kalangan para syahid. Dan mereka akan bersama para saleh, tetapi tidak akan termasuk di kalangan para saleh.

Berdasarkan arti tersebut, umat Islam tidak hanya luput dari kenabian, tetapi juga telah luput dari pangkat ṣiddiq. Dan apa yang telah dikatakan Rasūlu′l-Lāh saw. bahwa Abu Bakar adalah ṣiddiq—na‘ūdzubi′l-Lāh—ternyata salah. Dan umat Islam juga telah luput dari derajat syahid. Dan di dalam Al-Qur’ān Karīm di mana Allāh Ta‘ālā telah menyatakan para Sahabah berada pada derajat syuhada, ternyata juga salah.

شُهَدَآء عَلَى النَّاسِ
“Sebagai syahid/saksi atas manusia. (QS 2:143)”

Dan di kalangan para saleh juga tidak akan ada yang masuk satu orangpun dari umat ini. Dan pendapat yang mengatakan bahwa di dalam umat Islam telah berlalu banyak sekali orang saleh, pendapat itu sama-sekali salah. Na‘ūdzu bi′l-Lāh…‼

Apakah ada orang berakal yang menguasai Al-Qur’ān dan Ḥadīṡ dapat menerima arti-arti tersebut? Kata «ma‘a» tidak berarti bersama, tetapi juga berarti termasuk. Di dalam Al-Qur’ān Karīm telah diajarkan doa ini kepada orang-orang mukmin:

وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ
“Ya Allāh. Wafatkanlah kami bersama orang-orang saleh. (QS [Āli ‘Imrān] 3:193)”

Dan setiap muslim mengartikannya, “Wahai Allāh. Wafatkanlah aku dalam kondisi termasuk di kalangan orang-orang saleh.”

Tidak pernah diartikan bahwa “Ya Allāh, pada saat seorang saleh wafat, maka pada saat itu juga wafatkanlah aku bersamanya.”

Demikian pula tertera di dalam Al-Qur’ān Karīm:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِى الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً إِلَّا الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُواْ بِاللهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّٰهِ فَأُولٰۤـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيْمًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di lapisan paling bawah dalam api, dan engkau tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh kepada Allāh, serta mereka ikhlas dalam pengabdian mereka kepada Allāh. Dan mereka ini termasuk golongan orang-orang mukmin. Dan Allāh segera akan memberi ganjaran besar kepada orang-orang mukmin. (QS 4:145—146)”

Di sini tedapat kata-kata “ma‘al mu’minīn.” Namun, kata “ma‘a” di sini diartikan sebagai “min.” Demikian pula tertera di dalam Surah Al-Ḥijr:

قَالَ يَآ إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ
“Hai Iblis, apa yang telah terjadi padamu? Mengapa engkau tidak bersama orang-orang yang bersujud? (QS [Al-Ḥijr] 15:32)

Namun, di dalam Sūrah Al-A‘rāf dikatakan “Lam yakum-mina′s-sājidīn.” Yakni, iblis tidak termasuk di kalangan orang-orang yang bersujud (QS [Al-A‘rāf] 7:11). Jadi, di dalam Al-Qur’ān Karīm, kata «ma‘a» telah digunakan dalam arti «min». Dan dalam kitab lughat terkenal tentang Al-Qur’ān, Mufrādāt Al-Qur’ān tulisan Imām Raghīb, juga tertulis:

Yakni, di dalam ayat “Faktubnā ma‘a′sy-syāhidīn” kata «ma‘a» itu berarti “masukkanlah kami ke dalam golongan para syahid” sebagaimana di dalam ayat “Fa’ulā’ika ma‘a′l-ladzīna an‘ama′l-Lāhu ‘alaihim,” kata «ma‘a» berarti bahwa orang-orang yang taat kepada Rasūlu′l-Lāh saw. akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat. (Lihat Mufrādāt, Raghib, halaman 435, di bawah kata «kataba»)

Lebih lanjut, penjelasan terhadap tulisan Imam Raghib tersebut di dalam Tafsir Bahrul Muhith dikatakan:

Yakni, menurut Imam Raghib arti ayat ini adalah, orang-orang yang taat kepada Rasūlu′l-Lāh saw., dari segi kedudukan dan derajat akan dimasukkan ke dalam kalangan para nabi, ṣiddiq, syahid, dan saleh. Yakni, nabi umat ini dengan nabi, ṣiddiq dengan ṣiddiq, syahid dengan syahid, saleh dengan saleh. (Lihat: Tafsir Bahrul Muhith, jilid III, halaman 387)

KETIGA: Demikian pula, dengan menyinggung tentang orang-orang Islam, Allāh Ta‘ālā telah berfirman di dalam Al-Qur’ān Karīm:

يَا بَنِي اٰدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ اٰيَاتِي فَمَنِ اتَّقٰى وَأَصْلَحَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Wahai anak cucu Adam. Jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan kepadamu Ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tak akan ada ketakutan menimpa mereka tentang apa yang akan datang dan tidak pula mereka adan berduka cita tentang apa yang sudah lampau. (QS 7:35)”

Di dalam ayat ini dengan jelas telah dikatakan bahwa di dalam umat Islam rasul-rasul akan senantiasa datang. Demikian pula di dalam Quran Karim Allah Ta‘ālā berfirman:

وَإِذَا الرُّسُلُ أُقِّتَتْ
“Dan, apabila rasul-rasul didatangkan pada waktu yang ditetapkan. (QS [Al- Mursalat] 77:11).

Yakni, di Akhir Zaman, Allāh Ta‘ālā akan kembali menzahirkan segenap rasul dalam corak buruzi/bayangan. Orang-orang Syiah mengambil dalil dari situ, bahwa di zaman Imam Mahdi, segenap rasul akan didatangkan dan mereka akan mengikutinya.

Di dalam Tafsif Qummi tertulis:

“Sekian banyak nabi yang telah Allāh Ta‘ālā kirimkan sejak Adam sampai akhir, kesemuanya akan datang kembali ke dunia dan akan menolong Amīru′l-Mu’minīn Mahdī. (Tafsir Qummi, halaman 23)”

Dari ini terbukti bahwa menurut orang-orang Syiah sesudah Rasul Karim saw., segenap rasul akan datang, tetapi tetap saja Khātamu′n-Nubuwwat beliau saw. tidak akan terputus.

RINGKASNYA, beberapa ayat telah dituliskan sebagai contoh dari ayat-ayat Al-Qur’ān Karīm. Dari ayat-ayat itu terbukti bahwa di dalam umat Islam, nabi ummati bisa datang, dalam corak penghambaan dan pengabdian kepada Rasul Karim saw., serta untuk menyebarkan agama beliau saw.. Dan hal itu merupakan dalil yang abadi serta telak yang membuktikan bahwa Rasulullah s.a.w. adalah seorang nabi yang hidup, bahwa Alquran adalah kitab yang hidup, dan bahwa Islam adalah agama yang hidup.

Sumber: Mahzarnamah

Tentang Penulis

Raja Pena

Tinggalkan komentar