Akhlaq Faḍi'l-Lāh Peristiwa

TAK MALU HIDUP SEDERHANA TUAI MANISNYA BUAH PENGORBANAN HARTA

sederhana
Penulis Amatul Shafi

Membaca berbagai pengalaman hidup, kisah-kisah inspiratif para anggota jemaat dari seluruh penjuru dunia, seringkali menggugah sanubari, mengobarkan semangat, kesetiaan, dan keikhlasan dalam menyerahkan . Kisah berikut ini mungkin termaknai biasa saja, bukan seperti kisah super yang sering dibacakan saat khutbah Jum’at atau pengajian yang diwarnai pengejawantahan mukjizat yang “triing” bisa terwujud dalam waktu semalam.

Seumpama pohon yang menyerap sari-sari makanannya dari tanah perlahan tumbuh membesar, menghadapi musim hujan dan kemarau yang silih berganti, kemudian berbunga, dan memberi buah-buahan ranum nan manis. Begitu pula aliran kehidupan Mariyam, seorang anggota Lajnah Imaillah yang aktif dalam kegiatan dan program jemaat. Mariyam dengan karunia Allah Ta’ala terdaftar dalam skema waqafeen. Bagi Mariyam hidupnya suatu hal yang sangat ia syukuri karena bila direnungkan, banyak sekali pertolongan Allah Ta’ala yang tampaknya kecil dan biasa saja yang sering luput dari kesadaran sebagian orang.

Mariyam merupakan anak terakhir dari kedua orangtuanya yang kini beranjak renta. Orangtuanya kini tak berpenghasilan tetap, hanya mengais dari simpanan masa kerjanya dahulu untuk memenuhi kebutuhan harian dan membayar uang kuliah Mariyam yang mahal. Kakak-kakaknya masih merajut kehidupan di tengah paceklik perekonomian zaman sekarang sehingga belum dapat banyak memberi kontribusi pada kedua orangtuanya maupun membantu adiknya yang masih kuliah sebagaimana lazimnya kebiasaan anak yang lebih besar.

Seperti kata pepatah hidup bagaikan roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Keluarganya dahulu merupakan salah satu keluarga berada, kalau distratifikasikan rasanya terletak di menengah ke atas. Masa kecilnya tergolong beruntung, bisa makan enak di restoran, bermalam di hotel mewah saat tamasya keluar negeri bersama keluarga, bedanya dulu dokumentasi momen-momen itu tidak diunggah di media sosial untuk menjadi tontonan publik yang mengundang decak kagum, komentar berisi pujian-pujian, dan ratusan like, namun hanya berupa klise foto yang mengabadikan kebersamaan keluarganya dan pengingat untuk terus bersyukur bahwa ia pun pernah merasakan nikmat dunia. Mudah saja baginya untuk minta belikan ini-itu—barang-barang mewah dizamannya yang semua temannya punya. Namun sejak kecil ia telah dilatih hidup , tidak takut untuk berbeda, membiasakan menabung, dan menerapkan azas manfaat. Maksudnya, membeli barang dipertimbangkan seberapa besar manfaatnya, tidak membelanjakan hal-hal yang tidak perlu sehingga mubazir. Belajar dari ibunya yang lebih memilih menginvestasikan pendapatan bulanan untuk jangka panjang daripada mengoleksi guci-guci mahal yang sedang menjadi trend dikala itu, seperti rumah tetangga yang juga temannya, sebuah rumah yang lebih mirip museum barang-barang antik yang untuk berjalan saja rasanya harus berjinjit karena takut akan menyenggol barang-barang berharga.

Mariyam kecil juga anak yang tidak pemilih soal makanan, apa yang tersaji itu yang dimakan, tidak perlu banyak menu, karena diberi pengertian oleh ibunya setiap kali makan, manfaat apa yang terkandung dalam makanannya itu. “Jangan dirasa-rasa, makanlah makanan yang bermanfaat untuk kesehatan!” Nasihat ibunya sejak dulu. Dia juga diajarkan untuk tak menyisakan makanan barang satu butir nasipun. Bukan tidak ada, bukan malas memasak, bukan kolot, tapi begitulah ibunya mengajarkan segelintir implementasi sebuah kata ‘sederhana’ semasa kanak-kanaknya. Semuanya berangsur berubah kala ayahnya memilih pensiun dini dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu berkhidmat kepada jemaat. Dan Mariyam beranjak remaja.

Menyadari perannya sebagai waqifat, ia mengorbankan keinginannya untuk bersekolah di SMA favorit yang mempunyai banyak akses ke perguruan tinggi terkemuka—yang secara duniawi sangat menjanjikan masa depan dunia sukses cemerlang—Mariyam menurut kepada orangtuanya yang bersikeras mendahulukan pendidikan agama. Cita-citanya ialah menjadi dokter waqfeen yang membaktikan diri secara penuh pada jemaat. Meskipun sebenarnya benaknya menyimpan passion yang berbeda, dia kukuh terhadap pilihannya menjadi dokter karena pada saat itu belum ada dokter waqfeen dan belum ada dokter ahmadi lain yang siap sedia melayani panggilan jemaat kapanpun diperlukan.

Dengan persiapan belajar seadanya tanpa kursus masuk perguruan tinggi yang harganya jutaan, bekal informasi yang minimal, dia menyasar untuk masuk jurusan kedokteran perguruan tinggi negeri. Kalau orang bilang ujian masuk perguruan tinggi itu (baca: UMPTN, SNMPTN, SBMPTN) lebih banyak faktor keberuntungan. Tapi Mariyam lebih suka menyebutnya sebagai rezeki, ya, singkat cerita ternyata rezekinya lolos di universitas swasta.

Setelah menerima pengumuman kelulusan, dengan mempertimbangkan biaya masuk jalur mandiri di universitas negeri yang baru bilangan uang masuknya saja fantastis, bikin sakit mata menghitung rentetan angka nol yang mengekor panjang, mendaftarlah dia ke FK swasta tersebut. Meskipun tergolong lebih sedikit nominal biaya pendaftaran yang harus dibayarkan, orangtuanya mesti berpikir darimana uang sebanyak itu hendak dicari. Membiayai anak kuliah apalagi kedokteran di zaman ini bukannya mudah, istilahnya bayar uang kuliah tahun pertama jual mobil, tahun kedua jual toko, tahun ketiga gadaikan rumah, sampai selesai punya hutang dimana-mana. Sebenarnya itu bukan sekedar istilah saja, tapi merupakan suatu fenomena yang benar-benar terjadi.

Dimulailah babak baru dalam kisah hidup Mariyam. Tahun pertama dilalui dengan berat dan terpaksa orangtuanya meminjam uang dari sanak-saudara. Tapi Allah tidak membiarkan keluarganya dalam keadaan berhutang lama-lama. Rumah investasi milik orangtuanya yang dulu kosong tak produktif, mendapat sewa dan segera dibayarkan melunasi hutang tersebut. Tiap memasuki semester baru sejumlah uang yang tak sedikit dibayarkan dimana persediaan di tabungan pensiun orantuanya mulai menipis sehingga kerut bertambah memikirkan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga keluarganya saja rasanya sudah susah. Lagi-lagi ada rezeki yang tak terduga, aset lama orangtuanya berupa tanah yang dahulu tak kunjung laku mendapat peminat pembeli, sehingga hasil jualnya bisa menjadi penyambung hidup.

Uang sakunya sebesar tiga ratus ribu rupiah diberikan bulanan. Tiap bulan begitu menerima uang saku, Mariyam langsung menyisihkan untuk membayar candah dan Tahrik Jadid yang selalu dilunasinya di bulan Ramadhan. Kalau dihitung secara jasmani, uang saku yang telah dipotong bayaran candah rasanya mustahil untuk memenuhi keperluan kuliah apalagi membeli buku kedokteran yang harganya selangit. Akan tetapi, dia punya cara untuk mensiasati keadaan. Dia belajar dengan meminjam dan memfotokopi buku perpustakaan, atau belajar bersama alih-alih agar ia bisa menumpang baca buku milik temannya, atau membantu temannya mengerjakan tugas lantas mendapat upah dari bantuannya tersebut.  Di samping itu Mariyam juga memanfaatkan keahliannya membuat prakarya yang biasa dipesan teman-temannya untuk kado ulangtahun. Semua itu agar mendapatkan tambahan pemasukan maka dia tak perlu meminta uang pada orangtuanya. Bahkan dia masih dapat menjalankan kegemarannya menabung.

Di tengah pergaulan anak-anak kedokteran yang kekinian, apalagi di lingkungan kampus swasta, Mariyam berhasil mempertahankan gaya hidupnya tanpa ikut-ikutan arus. Berbagai cara penghematan digencarkan dalam segala segi kehidupannya. Dia tak sungkan membawa bekal, tidak sering makan di luar selayaknya kebiasaan anak muda zaman sekarang yang lebih banyak food selfie daripada memakan habis isi piring. Tidak gengsi memakai baju yang itu-itu saja ataupun baju ibunya yang kebesaran, sepatu lusuh dipakainya setiap hari, naik angkot saban berangkat ke kampus, dan alhamdulillah sedikit ‘naik level’ bisa ngampus bawa motor butut yang asapnya mengepul kemana-mana seperti sedang fogging nyamuk, motor yang diparkir di antara deretan mobil-mobil mewah yang membuat lapangan parkir kampusnya seperti showroom mobil, mau cari Alphard, Jeep, atau Hummer? Ada.

Caranya berhemat mirip dengan cerita yang disampaikan oleh Amir Daerah London, Tn. Nashir Din, seorang anggota banyak berdoa untuk bisa mendapatkan pertolongan dalam pembayaran candah Tahrik Jadidnya. Tuhan kemudian membisikkan ke dalam hatinya bahwa daripada naik kereta, ia lebih baik melakukan perjalanan dengan bus. Meskipun dengan cara ini perjalanannya memakan waktu 30 menit lebih lama, tapi ia bisa menabung sebesar 400 (sekitar 6 juta) dalam satu tahun yang dia berikan untuk Tahrik Jadid.

Ada kalanya Mariyam pun memiliki keinginan untuk membeli buku teks pelajaran, lalu dia berdoa, ”Rabbanaa anzil ‘alaina maaidatan minassamaai takuunulana ‘iidan li awwalina wa akhiriina wa ayatan minka. Warzuqna wa anta khairun raaziqiin.” Selang beberapa minggu kemudian, alhamdulillah pamannya mendapatkan bonus dipekerjaannya dan Mariyam pun ikut kecipratan rezeki, sehingga dia bisa membeli buku yang dia mau. Pernah juga sekali waktu Mariyam begitu menginginkan baju gamis karena praktis dipakai ketika praktik di rumah sakit yang mewajibkan menggunakan rok, selain itu juga tampak sopan bila sekalian dikenakan ke masjid. Dia hanya bisa diam memendam keinginan dalam benaknya sambil seringkali melihat-lihat laman online shop hanya sekedar cuci mata, berangan-angan bisa memakai baju itu. Tak disangka-sangka, ayahnya yang baru pulang kampung, kembali ke rumah dengan membawa oleh-oleh baju gamis yang diberikan bibinya karena tak terpakai, tidak hanya satu, tapi empat baju gamis dan anehnya pas seperti ukuran sendiri.

Hingga menjelang akhir masa pendidikannya, semua biaya kuliah terbayarkan tanpa berhutang, tak satupun aset bergerak keluarganya berkurang, masih ada atap untuk berteduh, dan kendaraan untuk sekedar memanjangkan langkah. Di saat-saat kritis, Allah tak pernah diam tanpa memberi pertolongan. Tidak hanya itu, dengan keterbatasan sarana belajar selama ini, Mariyam pun berhasil mendapatkan gelar sarjananya dengan indeks prestasi cumlaude dan menjadi mahasiswa terbaik diangkatannya dengan jumlah mahasiswa seluruhnya sekitar tujuh ratusan orang.

Siklus hidupnya yang pasang surut seolah dan memang pasti Tuhan mengatur sedemikian rupa agar ia merasakan tiap titik kehidupan. Titik zenith di masa kecil yang dipenuhi kelimpahan materi dan titik nadirnya di masa sekarang telah perlahan terlewati. Tidak semua orang dapat merasakan ragam corak kehidupan sepertinya. Dengan begitu membuatnya menjadi lebih arif, membuka luas cakrawala berpikir dari sudut pandang di atas dan di bawah. Dan di sepanjang siklus itu, dalam keadaan harta berlebih maupun kurang, secara batin dia selalu merasa cukup. Tidak perlu hidup serba ada seperti dulu, yang penting saat dibutuhkan, ada. Dan Tuhanlah yang membuat ada segala hal yang diperlukan dalam pandangan-Nya untuk mereka. Sungguh ini adalah nikmat pengorbanan. Pengorbanan harta baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

“Berangkatlah, hai orang-orang mukmin, dalam keadaan ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta bendamu dan jiwa ragamu di jalan Allah. Yang demikian itu, lebih baik bagimu, sekiranya kamu mengetahui.” (QS. 61:12)

Pengorbanan hakiki ialah orang-orang yang mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya di jalan Allah Ta’ala padahal ia sendiri berada di dalam keadaan yang sangat memerlukan. Qardhan hasanah, adalah pengorbanan yang sama sekali tidak disertai harapan, itu akan dikembalikan berlipat ganda oleh-Nya. Mariyam memperoleh kepuasan dan kenikmatan memberi, lebih daripada menerima. Semakin banyak yang bisa dia beri, disitu terletak kebahagiaan baginya. Mariyam yakin berkat pengorbanan harta itulah hingga kini keluarganya masih dimuliakan. Melakukan pengorbanan harta artinya berperan sebagai tangan di atas, gemar memberi, pantang meminta-minta. Alyadul ‘ulya khairun minal-yadissufla.

Berkaca dari kehidupan saudaranya. Sebuah keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan bertahun-tahun lamanya, bahkan fakir. Sebuah keluarga yang buta aksara dengan banyak anak dan tak terurus. Dengan kepala keluarga menganggur, akibat kefakirannya menyebabkan sakit-sakitan. Sang ibu yang lebih banyak bertopang dagu tak punya inisiatif untuk bekerja, bila disuruh pantang tak mengeluh. Jangankan berkorban harta, berkorban tenaga pun berat sekali nampaknya. Berbagai upaya dilakukan untuk membantu mereka, mulai dari memberi sembako tiap bulan, mengajarkan membaca baik huruf roman juga membaca Al-Quran, memberi latihan keterampilan, hingga memberi modal usaha berupa uang dan barang. Dasar memang orang yang tak mau merubah nasib, modal usaha dijual, diajari tak memberi perhatian, menyerah pada ketidakmampuan. Mereka lebih nyaman menengadahkan tangan mengemis bantuan, memelihara kemiskinan, ketimbang memperbaiki diri. Sengsara memang tak selamanya, tapi hukum itu hanya berlaku bagi yang mau berusaha. Benarlah firman-Nya, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.

Berbeda pula dengan kisah nyata yang diceriterakan ayah Mariyam kepadanya.

Suatu ketika seorang pemuda perlente yang tampak gagah menjinjing tas kecil layaknya pria gedongan berjumpa dengan seorang bapak yang telah lanjut usianya dengan muka sedikit kusut tak serapi jas Hugo yang dikenakannya sedang duduk sendirian di ruang tunggu sebuah bandara. Bapak tua itu kemudian membuka obrolan, “Nak, mau kemana?”

Pemuda itu menoleh dan menjawab, “ke Blitar pak, mau pulang kampung ke rumah orangtua. Bapak sendiri kemana tujuannya?”

“Bapak mau ke Yogyakarta, kampung halaman istri bapak. Tampangmu masih muda sekali Nak, tapi penampilanmu tampak meyakinkan, seperti eksekutif muda!” komentar sang bapak.

“Hahaha, Bapak bisa saja. Alhamdulillah saya bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta, penghasilannya lebih dari cukup. Setelah setahun lebih sibuk dengan pekerjaan, saya baru bisa pulang kampung. Saya berpenampilan seperti ini, yah, hanya bermaksud bikin orangtua senang melihat anaknya sudah sukses.” Jawab si pemuda malu-malu bangga.

Mendengar pengakuan si pemuda, bapak tua tersebut tersenyum simpul. “Bapak juga waktu muda bekerja keras, karena bapak bukan berasal dari keluarga kaya, bersama istri bapak, kami membangun usaha yang kini sangat maju. Sekarang Bapak tinggal sendiri di Pondok Indah, di rumah yang sangat besar bagi bapak sendiri yang hanya ditemani seorang satpam, penjaga kebun, dan dua orang asisten rumah tangga.”

“Sendiri? Anggota keluarga yang lain di Yogya ya Pak?” pemuda tersebut berusaha menerka.

“Anak saya yang paling besar bekerja di New York sebagai general manager, si bungsu sedang berkuliah Jerman,” jawab sang bapak datar.

“Wah beruntung sekali Bapak, kedua anaknya sukses dan punya masa depan yang menjanjikan, Bapak pasti sangat bangga!” apresiasi si pemuda.

“Ya memang mereka berdua putra kebanggaan saya, akan tetapi justru Bapak merasa sedih,” ungkap sang bapak yang terdengar paradoksal. Si pemuda lantas keheranan. Dengan menghela napas panjang sang bapak kembali melanjutkan cerita. “Lima tahun lalu, ketika itu istri bapak sedang sakit keras, bapak menelpon kedua anak bapak yang sedang berada di luar negeri mengabari kondisi ibunya yang sedang kritis, bapak berharap mereka bisa pulang menjenguk ibunya.” Si pemuda menatap lekat mengikuti suasana pembicaraan yang semakin serius.

Suara bapak itu mulai bergetar dan raut wajahnya tampak semakin muram, “mereka tidak mengangkat telepon bapak. Beberapa jam berlalu akhirnya handphone bapak berdering juga, tapi dering suara sms. Andra putra sulung mengatakan ia tak bisa pulang karena besok ada meeting dengan CEO perusahaan dari Swedia membicarakan proyek yang sangat besar. Tak lama kemudian, si bungsu membalas via sms juga bahwa ia sedang sibuk persiapan midtest. Ya, mereka berdua tidak bisa pulang, tak ada yang pulang saat itu. Lalu tepat selepas azan subuh, istri bapak, ibu kedua anak bapak meninggal dunia.”

Sang pemuda tertegun, menelan ludah hanya bisa berucap simpati, “saya turut berduka Pak, bapak yang sabar ya Pak…”

“Nak, kamu boleh mencari dunia seakan tiada hari esok, bekerja keraslah untuk itu. Tapi jangan lupakan akhiratmu. Dunia ini tiadalah kekal. Jangan menyesal belakangan seperti Bapak. Bagaimanapun ini bukan salah anak Bapak, karena Bapaklah yang membesarkan mereka menjadi demikian.” tutup si bapak dengan wejangan pendek.

Kisah yang diceritakan ayah Mariyam ini menggambarkan betapa pentingnya pendidikan agama—tarbiyat keluarga—menanamkan kebiasaan hidup sederhana dengan mengikutsertakan anak sedari kecil dalam segala corak pengorbanan harta agar membunuh hubbuddunya, pola hidup hedonis, hingga mencapai taraf memandang jijik terhadap keduniawian sebagaimana disampaikan dengan keras oleh Khalifah .

Dua cerita yang kontras, si miskin yang menyerah pada dunia dan si kaya yang asyik mengejarnya, keduanya sama-sama tak menghiraukan anjuran agama. Dan diantaranya terletak Mariyam, memaknai kehidupannya sendiri dengan bercermin pada dua sisi berbeda memantapkan keyakinannya akan faedah pengorbanan harta.

Sumber Gambar: http://mulpix.com/instagram/bersyukur_kepada_allah_atas.html

Tentang Penulis

Amatul Shafi

Tinggalkan komentar