Opini

Tangisan dan Curhatan Hati di Tanah Lombok

lombok

Indonesia sekarang sedang berduka cita,khususnya di tanah . Saat ini, mengalami bencana yang tiada hentinya.

Bagaimana tidak? yang tejadi telah memporak-poranda bangunan di sekitar dan memiliki potensi tsunami. Menciptakan duka yang mewarnai dalam keseharian mereka dan menciptakan awan kelabu yang menyelimuti mereka siang dan malam.

Mungkin diantara kita akan berfikir sejenak tentang kasus Tuan Guru Bajang (TGB) terhadap janji yang pernah diutarakan pada masa jabatannya. Masih teringatkah kita dengan janji TGB terhadap warga Ahmadiyah? Yang berjanji akan memberikan perlindungan tehadap warga Ahmadiyah, yang berjani akan memberikan rehabilitasi terhadap korban penyerangan, yang akan memberikan jaminan anak-anak Ahmadiyah untuk tetap bersekolah dan memberikan perkerjaan bagi warga Ahmadiyah.

Tetapi, apa kenyataannya? Janji tersebut tidak kunjung direalisasikan. Hingga saat ini, masih banyak diskriminasi atas nama agama yang jatuh kepada mereka dan menimbulkan kebencian yang merajarela. Tidak hanya itu, warga Ahmadiyah yang ada di wisma Transito selama bertahun-tahun tidak mendapatkan kepastian akan status yang dimilikinya sebagai bagian dari warga negara Indonesia.

Apakah semua hal ini merupakan tanda dari Allah? Apakah ada sesuatu pesan di balik kejadian ini semua? Tentu, hal tersebut tetaplah menjadi misteri. Tidak ada yang mengetahui secara pasti apakah semua hal ini ada hubungannya atau tidak.

Tidak ada yang mengetahui apakah semua hal ini memang benar terjadi secara kebetulan atau sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Kita tidak akan pernah mengetahuinya. Tidak ada satupun makhluk yang dapat menerka-nerka ataupun menghubungkan segala sesuatu dengan keadaan yang terjadi secara pasti.

Memang, kita tetap menuntut TGB atas janji terhadap Jemaat Ahmadiyah yang ada di tanah Lombok. Tentu, hal ini bukanlah tanpa alasan. Sudah bertahun-tahun warga Ahmadiyah yang ada di tanah Lombok mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya. Dari tempat tinggal yang tidak layak, diskriminasi oleh warga sekitar, penyerangan yang tidak berujung usai, dsb.

Mereka tetap memiliki hak sebagai bagian dari warga negara Indonesia untuk tetap memeluk keyakinan yang ada tanpa adanya paksaan maupun diskriminasi, sesuai dengan butir Pancasila pada sila pertama. Tetapi, perlu bagi kita untuk menyikapi yang ada sebagai bukan bagian dari kejadian politik yang terjadi. Jadikanlah kejadian alam sebagai bagian dari refleksi diri untuk bisa membantu sesama. Pada dasarnya, Allah Maha Adil terhadap semua perkara yang ada di dunia ini.

Allah tidak membeda-bedakan karunia ataupun musibah yang diberikan kepada makhluk ciptaan-Nya. Penting bagi kita untuk menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan pemikiran terbuka dan memahami satu sama lain. Menyikapi tanpa menciptakan kebencian dan perpecahan.

Memberikan rasa yang tiada batas terhadap sesama. Sejatinya, kita semua adalah makhluk ciptaan Allah. Di mata Allah, kita semua sama. Tidak ada yang membedakan kita, kecuali iman dan taqwa terhadap Sang Maha Pencipta.

Sudah sepantasnya bagi kita untuk memberikan bantuan yang ada, tanpa memandang apakah dia kaya atau miskin, seiman atau tidak, dsb. Kita bisa berkaca pada kisah teladan Rasulullah SAW yang membantu siapapun tanpa imbalan apapun, baik yang di tolongnya adalah umatnya maupun yang membenci diri beliau. Belajar mencintai sesama dan menghilangkan rasa kebencian yang menjadi sumbu perpecahan. Sejatinya, jika kita ingin diperhatikan oleh orang lain, maka kita harus memperhatikan mereka. Membantu satu sama lain untuk menciptakan rasa kekeluargaan atas dasar kemanusiaan.

Lombok saat ini sedang berduka cita dengan banyaknya bencana alam yang terjadi. Banyak dari mereka yang kehilangan tempat untuk bernaung, kehilangan sanak suadara, dsb. Sebaiknya, jangan jadikan permasalahan bencana alam sebagai bagian dari kasus politik yang ada. Perlu bagi kita untuk menanggapinya dari sisi kemanusiaan untuk saling membantu terhadap sesama. Menghilangkan rasa kebencian satu sama lain untuk memberikan perlindungan tanpa memandang status yang dimilikinya untuk menciptakan keharmonisan yang abadi.

Sumber gambar: https://asset.kompas.com/crop/0x0:1000×667/750×500/data/photo/2018/08/06/1254909106.jpg

Tentang Penulis

Nabilah Hurul Aini