Opini

Teladan Mulia Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah [Bagian 2]

khilafat

Pelajaran Besar tentang Tauhid (Keesaan Tuhan)

Ketika anak-anak kami mendaftar sekolah di Ghana, itu adalah sekolah Protestan yang mana ajaran-ajaran Kristen diajarkan. Beliau menasihati anak-anak bahwa jika ada nyanyian rohani tentang Yesus sebagai putra Allah atau di mana ada unsur Syirik [mempersekutuan Allah] maka mereka jangan menyanyikannya selama kebaktian nyanyian pujian itu dinyanyikan.

Pada hari pertama sekolah, anak-anak pulang ke rumah setelah dipukuli dengan tongkat sebagai hukuman karena tidak menyanyikan lagu-lagu pujian itu. Beliau meyakinkan dan menjelaskan kepada anak-anak bahwa apa pun yang terjadi mereka tidak boleh menyanyikan lagu-lagu pujian seperti itu. Selama tiga hari berturut-turut mereka dihukum dengan hukuman ini. Pada hari keempat, beliau pergi sendiri ke sekolah dan memberi tahu Kepala Sekolah, “Kami adalah Muslim dan menyembah satu Tuhan. Kami percaya Yesus sebagai seorang Nabi tetapi bukan anak Tuhan.

Karena alasan ini anak-anak saya tidak akan menyanyikan lagu-lagu pujian itu di sekolah.” Kepala Sekolah tersebut berkata, “Pelajaran Alkitab adalah mata pelajaran wajib dalam kegiatan belajar mengajar, [jika mereka tidak mengambil pelajaran ini] anak-anak Anda akan gagal.” Beliau menjawab, “ Setiap mata pelajaran ini muncul, anak-anak saya akan menulis, ‘Sudut pandang Kristen adalah seperti itu’.” Pada saat itu, Kepala Sekolah mengijinkan anak-anak beliau untuk tidak melafalkan puji-pujian tersebut. Beliau menyelesaikan masalah ini dengan kebijaksanaan dan pemahaman yang luar biasa. Ini adalah pelajaran pertama berkenaan dengan Tauhid yang disampaikan beliau kepada anak-anaknya.

Kepatuhan pada Syariah

Di Ghana, salah satu tetangga kami adalah seorang kolonel. Suatu hari dia mengirim sebotol alkohol untuk dimasukkan ke dalam lemari es kami. Beliau menolak untuk melakukan ini. Setelah kejadian itu, sang kolonel tersebut menjadi marah dan mengetuk pintu rumah kami secara paksa. Beliau membuka pintu dan menpersilahkannya untuk duduk di dalam. Beliau bertanya mengapa dia marah. Kolonel itu menjawab bahwa apa ruginya jika hanya meletakkan botol yang belum dibuka di lemari es kita. Beliau berkata, “Nabi kami menyatakan bahwa orang yang meminum alkohol, yang menyuplai alkohol untuk diminum, yang menyiapkan alkohol, yang menyimpan alkohol dan yang menjualnya semuanya terikat neraka. Jadi putuskan sendiri, apakah saya (Hazrat Ahmad) ingin berada di antara para penghuni neraka? Tentu saja tidak.” Kemarahannya mereda dan dia meminta maaf ketika dia pergi.

Kebiasaan beliau adalah selalu diam-diam mengamati semuanya dan kemudian membuat keputusan tegas. Seorang guru pernah memperhatikan hal ini dengan mengatakan, “Anda tampaknya diam-diam saja, namun Anda mengamati semuanya dengan sangat rinci.” Kebiasaan beliau. bukan dengan terang-terangan dalam ekspresinya tetapi beliau memperhatikan semua sanak keluarganya dengan diam-diam dan terus melakukan seperti itu.

Jika saya merasa cemas tentang masalah-masalah tertentu, beliau selalu mengatakan kepada saya untuk bersabar dan berdoa, dan bahwa saya akan menyaksikan sendiri berkat-berkat besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap kali saya menghadapi kesulitan, beliau selalu menyemangati saya. Beliau tidak pernah mengatakan kepada saya bahwa saya salah, beliau juga tidak pernah marah kepada siapa pun. Setiap kali beliau diberi kesedihan oleh seseorang beliau cenderung membaca bagian bait berikut:

کیا تیرے ساتھ لگا کر دل میں خود بھی کمینہ بن جاؤں

Haruskah saya menggabungkan diri saya dengan kamu dan berubah menjadi buruk juga?

Ketaatan kepada

Tabiat Hazrat diwarnai dengan ketaatan kepada Khulafa [], bahkan senantiasa taat dalam setiap keadaan. Cinta dan kasihnya terhadap pada saat itu ditanamkan dengan penuh pengabdian. Demikian pula Hazrat Mirza Tahir Ahmad memiliki kasih dan perhatian yang khusus untuk Hazrat ., juga sangat memperhatikannya Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. mengetahui bahwa beliau menyukai Parathe [sepotong roti goreng tak beragi] di masa kecilnya meskipun itu bertentangan dengan sifat beliau untuk mengungkapkan keinginannya pada situasi apa pun.

Namun, semua orang mengetahui situasi nasional dan ekonomi Ghana melalui berita. Dengan mengacu pada ini, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. Menulis dengan sangat penuh kasih, “Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui jika minyak tersedia untuk Masroor untuk mempersiapkan Parathe.” Sebagai balasan kepada khalifah, beliau menulis, “Kami memiliki nanas, pisang dan jeruk keprok untuk makan. ” Khalifah rh. Mengomentari hal ini, “Anda sangat beruntung, nanas di sini sangat mahal. ”

Ketika Hazrat Sayyida Mehr Apa Sahiba bertanya, “Apa yang Anda miliki di Ghana ?” Hazrat Mirza Masroor Ahmad memberikan jawaban yang sangat lengkap, “Anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa”. Ketika putri saya Farah, semoga Allah melindunginya, menjalani operasi untuk kandung empedu, kami merawat kedua anaknya. Beliau menghabiskan beberapa jam berjalan bersama Mansoor [cucu beliau] untuk membuatnya tetap sibuk.

Perjalanan ke Qadian

Kami yang ditemani ibu dan ayah saya berencana mengunjungi Qadian pada tahun 1991, selain itu bibi saya Amat-ul-Naseer Sahiba (Khala Cheeru), nenek saya Ny. Farkhanda Shah Sahiba, dan saudaraku Qasim juga ikut serta bersama kami. Beliau merawat sendiri Khala Cheeru dan nenek saya. Beliau dengan sangat tegas mengambil tanggung jawab dan memastikan segala persiapan perjalanan bagi kita semua – untuk mengemas semua barang, menggulung semua tempat tidur dan semua pengaturan penting lainnya. Kemudian, selama perjalanan dan menginap, beliau sangat memperhatikan para para sesepuh yang bersama saya.

Penghormatan dan Penghargaan kepada Khalifatul Masih

Beliau memiliki ketaatan yang besar kepada Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. dan menghormatinya dengan penuh ketulusan. Suatu kali ketika beliau berbicara dengannya melalui telepon, beliau secara spontan membungkuk hormat kepadanya. Seseorang bertanya siapa yang diajak bicara oleh beliau melalui telepon. Beliau menjawab bahwa itu adalah Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh.

Ketaatan yang Mutlak kepada Khalifatul Masih

Dalam setiap menghadapi masalah, beliau bertindak dan memenuhi semua instruksi dari Khalifah. Beliau tidak akan membiarkan adanya penyimpangan sekecil apapun dalam apa yang beliau lakukan. Ketika Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. jatuh sakit, beliau telah menginstruksikan bahwa tidak perlu ada orang yang datang dan mengunjunginya. Namun, kesehatannya memburuk dan itu menjadi situasi yang mengkhawatirkan. Para anggota Jemaat juga cemas. Ketika Mian Saifi (Mirza Safeer Ahmad Sahib) melihat bahwa kondisi kesehatannya semakin memburuk, dia menelepon beliau dan memberitahukan kondisi Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh.  kemudian mengatakan bahwa akan lebih bijaksana baginya jika beliau datang. Oleh karena itu, beliau pergi ke London dan pergi menemui Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. Setelah melihat beliau., Hazrat Mirza Tahir Ahmad bertanya mengapa beliau datang. Beliau menjawab, “Anggota Jamaah sangat cemas karena kesehatan anda yang tidak baik, maka aku datang untuk menanyakan tentang kesehatan anda.”

Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. kemudian berkata, “Situasinya sedemikian rupa sehingga Anda harus segera kembali”. Beliau berkata, “Baiklah, saya akan segera memesan tempat duduk (tiket) kembali”. Kemudian, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. bertanya kepada Mian Saifi Sahib, “Dia [Hazrat Mirza Masroor Ahmad] begitu taat kepada saya sehingga dia tidak dapat datang ke sini tanpa izin saya, jadi bagaimana dia bisa datang?” Mian Saifi Sahib menjawab bahwa beliau telah berbicara kepadanya melalui telepon yang memintanya untuk datang, jadi itulah sebabnya beliau datang ke sini. Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. kemudian diyakinkan bahwa tingkat ketaatan yang tinggi dari putra pemberaninya masih seperti yang beliau harapkan.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad memiliki sifat yang sangat halus, namun beliau menjalani kehidupan yang sederhana. Gaya hidup sederhana di rumah yang beliau miliki sebelum menjadi Khalifah masih ada hingga sekarang. Beliau tidak membiarkan rutinitasnya terpengaruh oleh cara apa pun. Beliau tidak pernah mengkritik makanan yang dimakan, dan tidak ada makanan yang beliau tidak sukai.

Setelah diangkat menjadi Khalifah, beliau pernah mengalami sakit parah, dan saya menderita migrain yang parah. Beliau yang pertama kali menyiapkan sarapan untuk saya kemudian setelah sarapan sendiri beliau  pergi ke kantor. Bahkan sekarang, meskipun jadwalnya yang sangat sibuk beliau masih berusaha menanam bunga, memangkas tanaman dan melakukan tugas-tugas lainnya.

Saya telah menyebutkan dengan singkat apa yang terlintas dalam pikiran saya. Saya mengakhirinya dengan doa ini, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mengizinkan saya dan keturunan-keturunan saya untuk selalu menjadi pengkhidmat setia kepada untuk tetap membantu para Khalifah zaman itu dalam memenuhi misi dari Imam Mahdi. Semoga kehidupan dan kesehatan beliau dipenuhi dengan berkah yang besar, dan semoga Jamaah terus mencapai tingkat kemajuan yang lebih mutakhir di bawah kepemimpinannya yang agung. Juga, semoga wahyu yang diberikan kepada Imam Mahdi  ِنِّي مَعَكَ وَ مَعَ اَهْلِكَ [Aku bersamamu dan keluargamu] terus tergenapi dalam wujud fisik dan spiritualnya sampai Hari Kiamat – Aamiin.

Diterjemahkan oleh: MUBARAK MUSHLIKHUDDIN

Sumber: http://www.reviewofreligions.org/13846/huzuraba-an-exemplary-husband/

Sumber Gambar: http://www.jamiaghana.org/hazrat-mirza-masroor-ahmad-sahib-a-t-b-a-khalifatul-masih-v-says/

Tentang Penulis

Mubarak Mushlikhuddin

Jangan Lupa Jadi Orang Baik