Opini

Teladan Mulia Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah [Bagian 1]

khalifah ahmadiyah

Ditulis oleh Hazrat Syeda Amatul Sabooh Begum Sahiba, istri dari Ke-5 Jamaah Muslim ..

(Awalnya diterbitkan dalam bahasa Urdu, artikel bersejarah ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pada Hari Khilafat)

Sesuai dengan Kitab Suci, sejak seratus tahun yang lalu sistem Khilafat telah berkembang dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah. Sekarang kita berada di zaman Khalifah kelima yang luar biasa ketika Tuhan Yang Maha Kuasa, di luar Keputusan Ilahi-Nya, telah menunjuk suami saya – Hazrat Mirza Masroor Ahmad ke dalam posisi ini sebagai manifestasi kelima dari sistem Khilafah. ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ [Itu adalah anugerah Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia inginkan].

Sadr Khuddam-ul-Ahmadiyah Pakistan [organisasi kepemudaan] menulis kepada saya seraya menyatakan bahwa pada kesempatan perayaan ulang tahun ke-100 [dari sistem Khilafah Ahmadiyah], majalah Tashhizul Azhaan ingin mempublikasikan edisi khusus tentang beliau. Dalam hal ini, ia mengungkapkan keinginannya agar saya menulis artikel dengan judul “Huzur atba. – Seorang Suami Teladan”, saya diminta untuk menceritakan beberapa kisah mengenai karakter beliau dan juga menceritakan beberapa kenangan sebelum pengangkatan beliau. menjadi Khalifah. Oleh karena itu, saya akan menulis beberapa hal yang ada di dalam pikiran saya.

Kerjasama Penuh dalam Urusan-Urusan Rumah Tangga

Sebelum kehidupannya sebagai Khalifah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad telah mengabdikan dirinya untuk pengkhidmatan agama, beliau juga melewatkan siang dan malamnya untuk sibuk dalam urusan-urusan ini. Namun, terlepas dari tugas resminya, beliau juga memberikan perhatian yang besar untuk urusan rumah tangga, dan menunjukkan kerjasama yang sempurna.

Pada tahun 1977, di bawah Skema Nusrat Jahan, beliau diangkat sebagai Kepala Sekolah Menengah Ahmadiyah. Kami pindah ke Ghana ketka negara itu mengalami krisis ekonomi yang serius dan juga kekeringan yang parah karena kurangnya curah hujan. Keadaan negara saat itu sangat menyedihkan. Aspek terpenting dari karakter beliau., yang sangat saya sukai adalah beliau tidak pernah menunjukkan bentuk keegoisan apa pun. Kendatipun tanggung jawabnya besar, beliau selalu menjaga saya dan anak-anak dengan sebaik mungkin.

Memang! Bagi Waqfeen Zindagi [orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menghkhidmati agama] dalam memenuhi tujuanya, pasangan mereka juga harus berkorban dan mendukung mereka sepenuhnya. Terutama ketika menerima tunjangan bahwa Jemaat dengan murah hati memberikan Waqfeen Zindagi untuk mengatur urusan rumah tangga mereka. Tanpa kerja sama suami, sang istri harus terus berjuang untuk mengelola urusan rumah tangganya dengan tunjangan yang terbatas ini.

Saya telah mengamati di beberapa rumah tangga makanan dan chapatti (roti) segar disiapkan sesuai dengan keinginan suami, kemudian ada pengaturan khusus untuknya, sedangkan istri dan anak-anaknya hanya makan sisa makanan. Namun, beliau tidak pernah mempunyai keinginan dan membuat tuntutan seperti itu. Sehingga, di satu sisi penghargaan dan penghormatan saya untuk beliau terus meningkat, sementara di sisi lain saya heran karena ada orang yang telah mendedikasikan hidup mereka, namun tidak memberikan pengorbanan terhadap urusan rumah tangga. Sebaliknya, mereka menuntut pengorbanan dari istri dan anak-anaknya.

Beliau adalah Manajer Pertanian Ahmadiyah di Tamale, Ghana Utara. Di mana untuk pertama kalinya [dalam sejarah negara] beliau berhasil menanam gandum disana. Kami tinggal di Tamale selama dua tahun untuk urusan pertanian. Tamale adalah pusat Wilayah Utara [di Ghana]. Kadang-kadang, selama musim penanaman dan musim panen, beliau menghabiskan dua atau tiga malam di pondok-pondok penduduk desa setempat. Selama waktu ini beliau dengan senang hati menanggung segala macam kesulitan. Selain itu, ketika datang ke rumah beliau membantu saya dalam berbagai hal. Beliau atba bahkan mengumpulkan air dan membawanya dari luar.

Di Ghana selalu ada kelangkaan air. Kami menyimpan tangki di luar kemudian kapal tanker akan datang dan mengisi air ke dalam tangki tersebut. Di dapur dan kamar mandi ada drum plastik besar. Setelah shalat subuh, beliau mengisi [drum ini] dengan ember [air]. Beliau tidak memperdulikan betapa penting pekerjaannya, beliau tidak pernah mengatakan kepada saya bahwa beliau sibuk dan saya harus mengisi [drum] ini sendiri. Setiap kali saya jatuh sakit, beliau mengambil tanggung jawab dalam hal memasak untuk kami. Beliau secara aktif mendukung saya dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak kami.

Percayalah pada Tuhan Yang Maha Kuasa

Tak lama setelah kami pindah ke Tamale (Northern Region of Ghana), ada aksi mogok kerja dari dokter-dokter yang bertugas di rumah sakit. Para dokter tersebut hanya datang ke rumah sakit antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore, selain dari waktu-waktu ini termasuk akhir pekan, tidak ada staf medis yang bertugas. Anak kami Waqas, semoga Allah melindunginya, dia menderita diare berat pada saat baru berusia dua hari. Karena di lingkungan baru kami fasilitas medis yang tidak memadai dan aksi dokter itu menjadikan situasi sangat mengkhawatirkan. Tidak mungkin melihat penderitaan bayi kecil seperti itu. Putri kami Farah, semoga Allah melindunginya, juga masih sangat kecil saat itu.

Saya telah membawa obat untuknya dari Pakistan dengan potensi yang sangat tinggi, dan yang tidak akan direkomendasikan dokter untuk bayi yang masih sekecil itu. Namun, pada saat itu kami sangat khawatir. Kami menempatkan kepercayaan penuh pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan memohon kepada-Nya, beliau mencelupkan jari tangan kanannya ke dalam obat tersebut dan memberikannya kepada Waqas dua kali – yang pada saat itu dia sangat lemah karena diare dan tidak minum susu – lalu beliau mengatakan bahwa tidak ada orang yang bisa tahu apa keputusan Allah itu, namun penyesalan ini tidak akan hilang jika obat belum dicoba. Dalam beberapa menit, kesehatan Waqas membaik dan secara ajaib Tuhan Yang Maha Kuasa menyembuhkannya. Alhamdulillah [semua pujian adalah karena Tuhan].

Kapanpun anak-anak jatuh sakit, beliau membantu saya dalam segala cara yang tepat. Ketika ada pertemuan di mana orang-orang berkumpul di rumah kami, beliau yang mencuci botol-botol itu sendiri, dikarenakan untuk mencapai dapur saya harus melewati jemaat laki-laki ini.

Kebaikan Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. kepada Hazrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifah Ke-4 Jamaah Muslim Ahmadiyah sangat mempercayai Hazrat Mirza Masroor Ahmad dan beliau rh. memperlakukan Hazrat Mirza Masroor Ahmad dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ketika kami berada di Ghana, orang tua Hazrat Mirza Mansoor Ahmad Sahib dan Hazrat Sayyida Apa Nasira Begum Sahiba) pergi mengunjungi putra sulung mereka Mirza Maghfoor Ahmad Sahib (kakak laki-laki beliau) di Amerika Serikat.

Selama hari-hari kunjungan mereka ke Amerika, beliau menerima surat dari Khalifah Ke-4 rh. bahwa beliau rh. telah menulis sebuah catatan pribadi dengan tangannya sendiri yang menyatakan, “Kakak dan adikku yang terkasih [merujuk kepada orang tua beliau] saat ini sedang mengunjungi Amerika.

Saya bertanya-tanya apakah mereka memiliki berita tentang putra saya yang mewaqafkan hidupnya dan berjuang dalam pengkhidmatan agama, bahkan apakah pemikirannya terlintas dalam benak mereka. Dia mengkhidmati agamanya di hutan Afrika. Namun, putra saya yang pemberani ini sangat saya sayangi.” Seseorang dapat mengamati bahwa kasih dan perhatian yang dimiliki oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad terhadap Hazrat Mirza Masroor Ahmad tidak terbatas.

Diterjemahkan oleh: MUBARAK MUSHLIKHUDDIN

Sumber: http://www.reviewofreligions.org/13846/huzuraba-an-exemplary-husband/

Sumber Gambar: https://www.khalifaofislam.com/about-his-holiness/

Tentang Penulis

Mubarak Mushlikhuddin

Jangan Lupa Jadi Orang Baik