Opini

Teror di London: Jihad atau Pembunuhan?

london

,, Radikalisme,, dengan mengatasnamakan Tuhan.

Sesuai dengan asa Tuhannya kah?

Atau hanya sebatas Kedangkalan Rasa & Logika para pelakunya?

Terorisme yang memicu keresahan tengah mengguncang ibu kota Inggris, . Mengapa tidak, masih jelas terngiang diingatan tragedi serangan teroris di Maret lalu dan bom bunuh diri di Manchester Mei Lalu. Sedikitnya, berjarak 2 bulan saja, London diguncang serangan .

Teror pun tak dapat dielakan di Sabtu malam, 3 Juni lalu. Malam itu menjadi malam paling naas bagi para pengguna jalan di London bridge. Sebuah van putih menabrak para pejalan kaki di jembatan. Tak hanya berhenti di situ saja, ketiga pria keluar dari mobil van putih tersebut, lalu menyerang menggunakan pisau secara membabi buta. Dengan bengisnya mereka menusuk korban secara acak di Borough Market.

Pihak kepolisian dan Paramedis pun patut diapresiasi, datang dengan sigapnya dalam hitungan menit. Ketiga pelaku terror pun dapat dilumpuhkan dengan tembakan – tembakan pihak kepolisian. Namun, tak dapat dielakan, serangan tersebut sudah memakan korban tewas dan luka – luka. Setidaknya 7 orang tewas, 48 orang terluka dan 21 diantaranya berada dalam kondisi kritis.

Di samping serangan tragis yang memakan bergelimpangan korban, ada kejadian yang sangat menyayat hati. Tercatat oleh BBC, saksi mata mengatakan bahwa dia mendengar teriakan dari para pelaku teroris: “Ini untuk Allah” seraya berlari dengan belati terhunus.

Gumamku, bagaimana mungkin, kebengisan serangan yang membabi buta dengan mudahnya dikatakan untuk Allah, Allah yang sejatinya Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan mudahnya dijadikan alibi untuk melakukan hal – hal yang benar – benar diatas batas kenormalan?

Namun, gumamku terjawab sudah dengan berita ISIS yang mengklaim serangan ini dilakukan oleh mereka. Walaupun pihak berwenang belum memverifikasi kepastian ketiga tersangka teroris tersebut terkait dengan ISIS atau tidak. Namun ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan terror tersebut dalam sebuah peryantaan oleh kantor berita Amaq pada hari minggu 4 Juni 2017.

Sebuah pernyataan yang penuh dengan kebanggaan karena telah melakukan “jihad” untuk Allah. Memang, sudah menjadi kebiasaan, ISIS selalu terdepan dalam hal mengklaim aksi terorisme di beberapa negara. Mungkin, dalam hati dan fikiran mereka. sudah menjadi suatu hal yang absolut, merekalah yang paling benar. Sehingga dengan mudahnya, mereka dapat mengambil nyawa orang lain dengan sesuka hatinya yang dirasa tidak sesuai dengan ajaran mereka.

Namun, bagi manusia yang masih memiliki hati nurani, apa yang selama ini ISIS lakukan, baik hanya pernyataan pengklaiman atau pun benar adanya mereka yang melakukannya, itu tidak pernah dibenarkan dalam ajaran Islam. Dalam Surah Al Maidah ayat 32 Allah SWT berfirman:

… Siapapun yang membunuh seseorang, padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau telah melakukan kerusuhan di bumi, maka seolah – olah ia telah membunuh seluruh manusia…

Betapa tegasnya ALLAH Taala berfirman mengenai masalah pembunuhan terhadap seseorang. Hanya seorang pun, Allah Taala mengibaratkan membunuh seluruh manusia.

Lalu, bagaimanakah dengan pembunuhan secara membabi buta? Pantaskan kalimat “Ini untuk Allah” keluar dari mulut para pelakunya? Naudzubillah hi min dzalik, alih – alih berjihad di Jalan Allah Taala dan melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW untuk kemenangan Islam. Justru kejadian terorisme dan radikalisme yang diatasnamakan Tuhan dan Islam, teramat sangat mencoreng nama Islam yang sejatinya mengajarkan kedamaian.

Islam juga berasal dari kata Salam yang artinya aman, damai, dan sentosa. Tentunya kehidupan yang aman, damai, dan sentosa adalah kehidupan yang dituntut bagi setiap manusia yang mengaku sebagai pemeluk agama Islam. Lalu, masihkah ISIS dapat dikatakan bagian dari Islam?

Khalifah Ke 5 Jamaah Muslim Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba menyatakan: “mereka itu sama sekali tidak ada hubugannya dengan Islam. Mereka merupakan agenda atau rencana untuk melemahkan kekuatan Islam. Bukannya menegakkan keamanan, tapi justru malah menjadi faktor ketakutan bagi umat Islam sendiri. Mereka terdepan dalam membunuh orang – orang yang tidak berdosa”

Kecaman terhadap ISIS ini sudah dinyatakan oleh Khalifah Ke 5 Jamaah Muslim Ahmadiyah pada Khutbah Jumah 26 Mei lalu, pasca kejadian bom bunuh diri di Manchester. Amir/Pemimpin Jemaat Ahmadiyah UK, Rafiq Hayat, ikut bersedih dan terkejut dengan serangan teroris brutal dan barbar di London Bridge sabtu lalu.

Reaksi keprihatian dan kecamanan terhadap terorisme tak hanya datang dari pihak Islam yang menawarkan kedamaian. Para pemimpin Negara pun ikut memberikan pernyataannya.  Perdana Menteri Inggris Theresa May mengutuk ekstremisme Islam dan menyebut ideology tersebut “penyimpangan Islam”. Beliau menambahkan membutuhkan bantuan komunitas Muslim untuk mengedepankan perdamaian daripada peperangan.  Pesan – pesan plural dan narasi positif dapat menjadi pesan perdamaian terbaik dari dalam komunitas Muslim.

Kecaman dan rasa prihatin juga muncul dari pemimpin negara Adikuasa, Donal Trump melalui akun twitter pribadinya: “Apa pun yang bisa dilakukan Amerika Serikat untuk membantu London dan Inggris, kita akan berada di sana- KAMI BESERTA KALIAN. GOD BLESS”

Tak ketinggalan pemimpin Negara Kanada yang salah satu warga negaranya menjadi korban di kejadian naas 3 Juni lalu. Ikut berduka dan mengecam keras serangan naas tersebut.

Reaksi keprihatinan, kesedihan, dan belasungkawa datang dari berbagai pihak. Setiap manusia yang masih memiliki hati nurani & tak tertutupi oleh kedangkalan rasa dan logika, tentunya akan berdiri di pihak yang sama. Yaitu pihak yang tidak membenarkan terorisme dan radikalisme dengan mengatasnamakan “jihad”.

Karena teror yang terjadi di kota London dalam kurun waktu 4 bulan ini sejatinya bukanlah jihad yang diinginkan oleh Allah Taala. Namun lebih tepatnya adalah pembunuhan. Sejatinya, jihad yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah jihad yang menahan hawa nafsu. Bukan jihad dengan hawa nafsu untuk membunuh seseorang.

Satu hal yang tak dapat dipungkiri, jihad masa kini adalah untuk memenangkan hati dengan ajaran Islam yang damai yang banyak dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil alamin. Mari dimulai dari diri sendiri untuk senantiasa menyebarkan dan menularkan perdamaian. Karena cinta kasih untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapa pun.

Sumber gambar : http://www.leannemoore.ie/activity-breaks/activity-break-london/

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar