Opini

Teror Kejam di Las Vegas, Marseille, dan Edmonton, Bukti ISIS Masih Eksis ?

las vegas

Awal Oktober 2017 ini, dunia kembali dikejutkan oleh adanya serangan serentak di tiga tempat berbeda: Edmonton, Marseille, dan . Serangan teror penembakan membabi buta di paling memakan atensi paling besar di dunia karena memakan korban paling banyak, yaitu 59 korban tewas dan melukai 515 orang lainnya.

Stephen Paddock, 64 tahun, telah teridentifikasi sebagai pelaku penembakan di sebuah konser musik di Las Vegas pada malam 1 Oktober 2017. Beberapa lama setelah terjadinya serangan, mengklaim bahwa Stephen Paddock adalah bagian dari dan ia merupakan seorang mualaf. Kecaman terhadap serangan pun datang dari berbagai belahan dunia termasuk sang Presiden Amerika Serikat itu sendiri, Donald Trump.

Trump mengatakan bahwa serangan ini merupakan sebuah ‘aksi jahat’. Tentu saja ini merupakan aksi jahat. Pelaku menembakkan peluru ke segala arah kepada sekitar 22.000 orang yang menyaksikan konser musik Country yang digelar di Mandala Bay Center, Las Vegas, Nevada. Menurut sumber dari CNN Indonesia, pelaku melakukan serangan tembakan selama sekitar 10-15 menit dan akhirnya bisa dilumpuhkan di tempat oleh kepolisian setempat.

Selain di Las Vegas, serangan lain pun terjadi di Marseille, Perancis. Serangan dilakukan oleh seseorang di dekat Stasiun Saint-Charles. Pelaku melakukan serangan dengan menggunakan belati dan menewaskan 2 orang yang salah satunya adalah perempuan. Ini merupakan serangan ke sekian kalinya di Perancis setelah beberapa rangkaian serangan teror di negara tersebut. Bisa dibilang sejak beberapa tahun terakhir ini, Perancis merupakan negara dengan serangan teror terbanyak di Eropa.

Ini mengindikasikan bahwa pihak keamanan Perancis masih harus meningkatka kewaspadaan terhadap kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS yang mungkin masih bersarang di sana. Serangan yang terjadi di Perancis awal pekan ini pun diduga kuat dilakukan oleh anggota ISIS.

Serangan dengan gaya lain pun terjadi di kota lain, yaitu di Edmonton, Kanada. Seorang pria melakukan terornya dengan menabrakkan truknya kepada seseorang hingga terlempar di depan Commonwealth Stadium. Setelah menabrak korban, ia pun berlari keluar dari truknya lalu melakukan penusukan terhadap seorang polisi lalu melarikan diri. Ketika melarikan diri, ia diketahui kembali menabrak 4 orang pejalan kaki.

Pihak kepolisian pun melakukan pengejaran terhadap pelaku dan berhasil menangkapnya. Polisi pun menyatakan adanya penemuan bendera ISIS di bagian belakang mobil pelaku sehingga pelaku diduga merupakan bagian dari ISIS.

Dari ketiga kejadian tersebut mengindikasikan bahwa ISIS atau simpatisan ISIS masih berkeliaran di beberapa negara di luar Suriah. Setelah beberapa bulan lalu pemerintah Irak berhasil menguasai kembali Mosul dan penangkapan para milisi ISIS dilakukan di sekitaran Irak dan Suriah. Namun, para milisi dan tentara ISIS mungkin banyak pula yang berhasil kabur dari wilayah kekuasaan mereka dulu tanpa terdeteksi oleh pihak keamanan otoritas setempat.

Medio Juni lalu, pihak militer Suriah bersama Rusia menyatakan bahwa mereka berhasil membunuh Abu Bakar Al-Baghdadi, pimpinan tertinggi ISIS. Namun, AS meragukan kebenaran berita tersebut dengan informasi yang ada pada waktu itu bahwa ia masih memimpin di Mosul dan Raqqa. Abu Bakar Al-Baghdadi pun seperti bisa mati dan hidup kembali.

Bahkan akhir Agustus lalu, Stephen Townsend, pimpinan koalisi kontra ISIS di Irak dan Suriah mengatakan “Kita sedang mencarinya (Al-Baghdadi) setiap hari. Saya tidak yakin kalau dia sudah mati.”

Townsend pun menambahkan bahwa ia sendiri tidak yakin tepatnya keberadaan Al-Baghdadi. Namun Al-Baghdadi kemungkinan melarikan diri ke bukit Eufrat setelah tentara Irak dan AS berhasil merebut kota Mosul, Raqqa, dan Tal Afar awal tahun ini. Pemerintah AS pun mengeluarkan sayembara bagi siapapun yang berhasil membunuh Al-Baghdadi akan diberikan uang sebesar $ 25 juta.

Kerak dan

Setelah tergusur dari beberapa daerah di Suriah dan Irak, milisi ISIS kemungkinan melarikan diri ke beberapa negara di sekitar Suriah dan Irak. Selain untuk menyelamatkan diri, mereka juga tetap ingin menjaga ideologi mereka untuk bisa melakukan rencana selanjutnya.

Yang mengejutkan adalah para simpatisan ISIS yang berada jauh dari Timur Tengah pun melakukan usaha menguasai suatu negara untuk dijadikan negara khilafah. Contohnya adalah di Marawi, Filipina.

Beberapa bulan lalu, kelompok simpatisan ISIS di Marawi melakukan rangkaian serangan dalam usaha menjadikan Marawi sebagai kota yang dikuasai ISIS. Diketahui juga bahwa di antara kelompok simpatisan itu terdapat beberapa orang Indonesia yang turut serta dalam berbagai serangan di Marawi.

Ini menunjukkan bahwa terorisme dan radikalisme sudah mengerak di hati orang yang memang satu ideologi dengan ISIS. Sebetulnya, kematian Al-Baghdadi bukan jaminan bahwa paham terorisme dan radikalisme juga akan hilang di dunia. Tanda-tanda itupun masih terlihat di Indonesia.

Tumbuh kembangnya terorisme bergantung pada seberapa besarnya intoleransi yang ada di masyarakat. Carlo Bodoni menyatakan bahwa terorisme berhubungan dengan adanya modernitas ganda dan intoleransi kultural. Intoleransi kultural pun berhubungan dengan diskriminasi.

Jika masyarakat di Amerika Serikat masih berkutat dengan permasalahan rasisme (kulit hitam, hispanik, dan suku Indian), masyarakat di Indonesia masih banyak yang mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Sedihnya, percikan intoleransi ini dilakukan oleh kelompok yang mengaku dirinya sebagai bagian dari . Mereka ini pun sepertinya minoritas hanya saja suara mereka besar dan menganggap bahwa suara mereka mewakili suara mayoritas umat .

Ketika kita berhadapan dengan suatu perbedaan ras, suku, dan agama, sebagai muslim, seharusnya kita menjalankan apa yang sudah dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok …. “

(QS. Al-Hujurat:11)

Ayat di atas menjelaskan kepada kaum beriman untuk tidak mengolok-olok kaum lain apapun keadaannya karena bisa jadi kaum lain lebih baik dari kaum yang mengolok-olok. Dan, ketika umat muslim menghadapi orang yang tidak seiman dengan mereka, Islam mengajarkan untuk tetap menghargai sesama manusia dan tidak memaksakan kebenaran Islam. Seperti dalam ayat ini:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka ...

(QS. Al-Kahfi:29)

Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa kebenaran datang dari Allah SWT dan tidak ada paksaan kepada orang lain untuk beriman kepada Tuhan. Tuhan sendiri menyatakan untuk tidak memaksa, lalu mengapa ada saja yang memaksakan kehendak?

Memang dalam Islam dibolehkan berperang melawan kaum yang memerangi Islam. Akan tetapi, perang itu harus berada dalam jalan Allah dan tidak boleh berlebihan. Namun, apa yang dilakukan oleh ISIS merupakan tindakan yang berlebihan dan tidak menjalankan cara Rasulullah SAW ketika berperang. Dan itu yang seringkali dilakukan oleh ISIS baik di teritori mereka maupun yang dilakukan oleh simpatisan mereka di negara mereka masing-masing. Ayat ini menjelaskan:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampai batas

(Al-Baqarah:190)

Allah SWT pun berfirman dalam ayat ini:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil

(Al-Mumtanah:8)

Jelas sudah bahwa tindakan-tindakan terorisme, radikalisme, termasuk di dalamnya intoleransi tidak diajarkan dalam Islam bahkan dilarang dalam agama Islam. Dan, segala tindakan intoleransi tidak pantas kita lakukan sebagai umat muslim di Indonesia mengingat banyaknya perbedaan yang ada di negara majemuk ini. Atau, bisakah kita sebut jika kita intoleran kita sudah termakan ideologi ISIS?

Sumber:

  1. Al-Quran
  2. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20171002222817-134-245689/trump-sebut-penembakan-di-las-vegas-aksi-jahat/
  3. http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41480170
  4. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20171002181818-134-245631/saksi-las-vegas-pelaku-hujani-tembakan-dari-atas-gedung/
  5. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20171002213336-134-245685/klaim-penembakan-di-las-vegas-isis-sebut-pelaku-mualaf/?utm_source=twitter&utm_campaign=cmssocmed&utm_medium=oa
  6. https://dunia.tempo.co/read/1021296/2-orang-tewas-diserang-belati-isis-diduga-pelakunya?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Twitter&utm_campaign=DlvrIT
  7. https://www.nbcnews.com/news/world/terror-suspect-drives-u-haul-crowd-edmonton-canada-police-n806296
  8. http://www.beritasatu.com/dunia/455640-serangan-teror-mobil-terjadi-di-edmonton-kanada.html
  9. https://www.socialeurope.eu/terrorism-modernity-cultural-intolerance
  10. https://www.theguardian.com/world/2017/sep/01/us-vows-hunt-isis-leader-baghdadi-death

Sumber Gambar: http://www.foxnews.com/us/2017/10/05/las-vegas-sheriff-mass-killer-likely-had-some-help-at-some-point.html

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad

Tinggalkan komentar